18. Daddy

6.9K 928 287
                                        



***


Sebagai titisan siswi yang sedikit berbeda dari yang lain. Maksud gue, bagaimana menjelaskannya ya? Gue nggak mengklaim diri gue sebagai anak nakal. Mungkin katakan saja, banyak tingkah. Tentunya orang orang seperti gue dan teman teman gue memiliki banyak musuh. Biasanya sih gue menyebutnya haters.

Diantaranya musuh yang dulunya adalah orang terdekat, seperti Aluna. Musuh yang tercipta dari iri hati atas kehadiran gue di antara makhluk makhluk ganteng di sekolah, atau musuh musuh yang memang berasal dari luar. Seperti Zacky.

Dari apa yang gue ambil sih, manusia memang berubah ubah. Maksud gue bukan jadi Power Ranger atau Ultraman. Contohnya, Aluna yang dulu gue anggap sahabat dari kecil aja bisa sebrengsek itu. Zacky yang dulunya musuh bebuyutan Squad gue, bisa jadi teman ngobrol.

Ya, seperti itulah. Manusia kadang memang memuakkan, tapi kadang menyenangkan juga.

Gue berjalan bersama Zacky, melupakan niat awal gue untuk ke warung.

Setelah menemukan cilor di perempatan dekat Masjid, kami pun berhenti.


"Bang cilornya 10.000 ya, yang enak bang kayak biasanya" Pinta gue pada abang cilor yang cukup akrab. Cilor si abang ini langganan gue dan teman teman gue kalau kesini.

"Siap neng! Abang bikinin yang paling enak"

Gue tersenyum kemudian melirik Zacky yang nampaknya memerhatikan si abang menggoreng cilor kesukaan gue.

"Ini pacarnya neng? Apa temennya? Si eneng kalau bawa cowok mirip saya terus ya, ganteng"

Gue tersedak ludah. Ucapan tiba tiba si abang cilor membuat gue kaget. Selain mengira Zacky pacar gue, lebih kaget lagi kalau teman teman gue dibilang mirip sama si abang. Gue pengen ketawa tapi takut dosa.

"Temen elah bang nanya mulu si abang mah hahaha"

"Emangnya dia suka bawa cowok kemari?" Zacky membuka suara.

Sembari menggoreng si abang menjawab. "Oh iya si eneng mah kan temen cowoknya banyak, nggak pernah abang mah liat si eneng bawa temen cewek"

Gue melirik Zacky yang nampak mengangguk. "Bang yang pedes ya cilornya"

Gue berdeham. "Ya abis gimana, temenan sama cewek mah mengecewakan semua, fake"

"Oh! Yang eneng pernah curhat itu kan ya? Kalo nggak salah namanya Ayunan"

Gue ketawa gede banget. Membuat Zacky menatap gue aneh. Boleh juga nih si abang leluconnya.

Cilor selesai digoreng, setelah itu dimasukkan dalam plastik bening kemudian diberi saos dan bumbu balado. Gue pun membayar dengan uang yang ngepas.

"Makasih ya bang!" Seru gue.

Setelah itu kami pun kembali berjalan ke arah rumah.

"Cobain ki, sumpah enak bikin ketagihan"

Ia mengangguk kemudian memberhentikan jalannya dan mengedarkan pandangannya sekeliling. Kemudian berjalan menghampiri tempat duduk semen di depan rumah orang, tepat dibawah pohon mangga.

"Makan tuh nggak boleh berdiri" katanya.

Gue mengangguk dan menurut kemudian ikut mendudukkan diri gue di sebelahnya.

Dua Kutub Magnet Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang