Chapter 14
***
Sejujurnya gue nggak terlalu perduli sih sama lingkungan sekitar. Maksud
gue bukan lingkungan sekolah ya, tapi lingkungan rumah. Faktor karena manusia manusia di komplek gue hidupnya lebih ke individualis, dan gue tinggal disini juga baru sewaktu kelas 1 SMA. Maksud gue tuh menetap. Jadi rumah gue yang ini dulu adalah rumah kedua. Rumah pertamanya bukan disini.
Dulu gue waktu SMP suka banget main kesini. Makanya gue tau kalau rumah Jeykey sekarang itu dulu ditinggali sama duda hot. Alasan gue menetap disini adalah, tidak lain dan tidak bukan karena pelakor rumah tangga nyokap bokap gue, menendang gue dan nyokap dari rumah.
Lo tau nggak, berasa seperti majikan diusir oleh seorang pembantu nggak tau diri. Ya kali majikan diusir. Nggak etis aja gue mikirnya.
Oke, disini gue akan cerita sedikit soal perceraian Nyokap Bokap gue. Jadi awalnya, Bokap gue itu pengusaha. Pengusaha mebel gitu, perabotan rumah tangga. Jangan Nyokap Bokap deh, gue sebutnya Ayah Ibu aja.
Jadi Ayah itu sudah memulai semuanya dari nol. Bahkan sebelum gue lahir, Ayah dibantu Ibu membangun usaha kecil kecilan. Seiring waktu berlalu, usaha itu sukses dan bersamaan dengan kesuksesan itu gue lahir. Gue besar dengan kehidupan yang serba berkecukupan.
Karena Ibu sibuk ngurusin gue yang mulai besar, kebetulan sahabat Ibu ketika SMA datang kerumah, meminta pekerjaan dengan seorang anak perempuan yang saat itu seumuran dengan gue. Karena Ibu kasihan lantaran suami dari sahabatnya itu kabur dan membawa harta. Jadilah, Ibu memutuskan sahabatnya itu membantu Ayah gue.
Anaknya pun tumbuh bersama dengan gue. Yang awalnya nggak punya masa depan lantaran keuangan yang sangat kurang cukup, menjadi seorang putri yang dihormati di sekolah karena kecerdasannya. Seiring dengan waktu berlalu, dua orang tersebut mulai menunjukkan taringnya. Mencoba merebut hak yang bukan milik mereka.
Gue mulai berselisih dengan Ayah lantaran dia terlalu sayang dan memanjakan orang yang jelas jelas bukan anak kandungnya.
Dan mulailah, Ibu mencurigai hal yang tidak pernah dibayangkan akan terjadi di keluarga bahagia kami. Ketika semua terungkap. Gue membenci kedua benalu tersebut setengah mati, termasuk Ayah gue sendiri.
Mereka berdua mulai berlagak layaknya tuan rumah, bagaikan pemilik rumah.
Ayah Ibu bercerai. Gue stress, semua bertambah ketika gue difitnah oleh anak dari pelakor tersebut. Gue benci setengah mati. Kami bahkan diusir secara tidak hormat dari rumah kami sendiri.
Kemudian kami pindah ke rumah kedua yang memang diatas namakan Ibu gue.
Kemudian Ibu mengambil peran sebagai kepala keluarga, Ibu bekerja banting tulang demi menyekolahkan gue. Bukannya Ayah nggak membiayai, gue dan Ibu menolak mentah mentah uang yang dikirimkan tiap bulan melalui ATM.
Uang yang dikirimkan tiap bulan tersebut, gue yang mengembalikannya kerumah dimana Ayah dan Istri barunya sekarang. Rumah yang dulunya menjadi cerita masa kecil bahagia gue.
Gue melempar lembaran uang yang banyak tersebut di teras rumah, karena gue nggak sudi menginjakkan kaki untuk masuk kedalam. Bersamaan dengan itu gue mematahkan kartu ATM yang sudah Ibu nonaktifkan sebelumnya.
Tentu saja, gue menikmati wajah terkejut Ayah.
Dengan arogan gue mengatakan dengan lantang. "Ayah nggak usah kirimin Kimi sama Mamah uang, pelakor dan orang gak tau diri kayak mereka nggak akan suka mendengarnya"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Kutub Magnet
Fanfic[ Book 1 ] #PANCASILA'S UNIVERSE Gue sama Guanlin itu bagaikan dua kutub magnet yang berbeda. Mungkin dia Positif dan gue Negatif. Tau artinya? Iya beda. Beda banget. Gue anaknya nakal, Guanlin anak baik baik. Gue anaknya bobrok, Guanlin perfeksioni...
