_____
Sudah seminggu terlewat sejak insiden gue yang jatuh dari tangga. Senin ini gue kembali masuk sekolah seperti biasa, kaki gue memang sudah normal untuk kembali berjalan namun tidak dianjurkan banyak berjalan dan lari-larian terlebih dulu. Ibu dan Ayah Dastan mengantar gue ke sekolah hari ini. Aneh sih, biasanya gue kan berangkat sendirian terus atau enggak paling bareng Guanlin atau nebeng sama Daniel.
Tapi Ibu melarang gue naik motor dulu saat ini, jadinya gue diantarin deh.
Ibu dan Ayah Dastan sempat mengunjungi ruangan kepala sekolah untuk menitipkan gue dan meminta tolong untuk mengawasi gue selama di sekolah. Setelah itu mereka berdua pulang ke rumah.
Dalam perjalanan gue menuju kelas, gue bertemu Guanlin di koridor. Cowok itu baru saja keluar dari perpustakaan.
Dia tersenyum kecil dan langsung berjalan menghampiri gue. "Gimana kakinya? Udah agak baikan kan? Tapi nanti jangan ikutan upacara dulu ya lo di UKS aja"
Ternyata kalau sakit ada enaknya juga. Gue nggak perlu ikutan upacara hari ini. "Beneran nggak ikut upacara? Yes!"
"Heh? Kok yes? Upacara itu bentuk nasionalisme" Guanlin memberikan sentilan kecil di dahi gue yang lebar ini. Gue mengerucutkan bibir dan kembali melanjutkan jalan menuju kelas. Di samping, Guanlin mengambil alih tas di punggung gue.
"Sini gue aja yang bawain" Gue mengangguk dengan tenang dan membiarkan Guanlin memegangi tas abu-abu milik gue.
"Ringan banget, bawa buku nggak sih?"
Anjir. Memang salah ya kalau bertemu Guanlin di pagi hari tuh. "Bawa lah! Udah ah siniin gue aja yang bawa sendiri" Gue menjulurkan kedua tangan dan meminta kembali tas tersebut. Guanlin menggeleng dan mendorong kecil tubuh gue masuk ke dalam kelas.
"KIMCIL!"
Suara anak kelasan yang ramai namun lebih didominasi oleh Seungwoo dan Pinky itu membuat raut wajah gue cerah seketika. Seminggu nggak masuk sekolah ternyata bikin gue kangen juga sama suasana belajar disini.
"Akhirnya! Lo tau nggak betapa gabutnya Seungwoo gangguin gue karena elo nggak masuk?" Pinky bergerak memeluki gue begitu juga dengan Siyeon.
"Nggak ada lo, jadinya gue kalau dihukum guru sendirian" sahut Seungwoo. Gue mengangguk kecil dan menepuk kepala Seungwoo iseng membuat cowok itu meracau kasar.
"Jadi, gue ketinggalan berapa episode nih di kelas ini? Ada yang seru nggak?"
"Nggak ada! Lo tau sendiri kan kelas kita mah selalu adem ayem aman terkendali!" Suara sahutan Vernon di pojok belakang membuat gue dan dia berhighfive ria dari kejauhan.
Guanlin memberikan tas gue pada Seungwoo kemudian ia mencolek pelan rambut gue. "Gue ke lapangan ya, mau nyiapin upacara dulu"
"Iya, dadah!" Gue memberikan senyuman manis pada Guanlin, kemudian berjalan menduduki kursi gue.
"Cil, pinjem dasi dong. Lo nggak ikut upacara ini kan?" Seungwoo menaruh tas gue di atas meja dan menatap dasi yang terpasang di kerah baju.
Tanpa pikir panjang gue melepas dasi tersebut dan memberikannya secara cuma-cuma pada teman sebangku gue itu.
"TOPI GUE MANA?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Kutub Magnet
Fanfiction[ Book 1 ] #PANCASILA'S UNIVERSE Gue sama Guanlin itu bagaikan dua kutub magnet yang berbeda. Mungkin dia Positif dan gue Negatif. Tau artinya? Iya beda. Beda banget. Gue anaknya nakal, Guanlin anak baik baik. Gue anaknya bobrok, Guanlin perfeksioni...
