***
Memang bukan hak gue sih untuk marah soal Daniel membopong Aluna, disiu posisinya Aluna membutuhkan pertolongan. Gue tau, tapi ada dalam diri gue yang nggak suka melihat itu.
Gue adalah satu satunya orang yang benci banget sama Aluna. Ketika lo membenci orang lain dan lo mempunyai seorang teman yang sangat lo percaya membantu orang yang lo benci, lo mungkin nggak akan senang melihatnya. Apalagi, Daniel dulunya dijadikan bahan untuk membuat gue kesal dan cemburu. Dan menjadi seorang Daniel bucin yang nggak bisa move on. Yang berjanji akan menjauhi Aluna bahkan melupakannya.
Gue sekesal itu.
"AAAAAAAAAAA!" Gue nggak peduli sama tetangga yang nantinya akan mengadu berisik perihal gue teriak malam-malam.
Kenapa sih? Di dunia ini gue masih aja menemukan orang bego yang dulunya di manfaatin orang lain kembali bertekuk pada orang yang sama. Kenapa manusia gampang banget buat disakitin berkali kali?
Dari sekian banyak kenapa harus sahabat gue yang mengalaminya. Jujur aja gue males banget liatnya. Gue nggak suka, udah tau dia pernah yang namanya sakit hati berkepanjangan, kenapa harus bersedia jatuh di lubang yang sama?
Merasa marah gue pun menarik bantal di ujung tempat tidur. Memukulnya berkali kali, kemudian melemparnya ke arah jendela hingga bersuara bising yang mengagetkan. Gue sendiri kaget, takut jendelanya copot oleh tenaga kuproy ini.
Gue menghela nafas, dan mengacak acak rambut gue gemas.
Hingga suara bel dari luar mengalihkan perhatian gue untuk sementara.
"Siapa lagi yang namu malem malem?! Dirumahnya nggak punya jam apa?!" Sembari mendumal, gue berjalan keluar membuka pintu depan. Kemudian berjalan ke teras dan membuka pagar.
Tiba tiba orang yang sedang gue marahi seubun ubun muncul di balik tembok dengan senyum kelincinya, juga tangannya yang menyodorkan 5 buah marshmallow yang gue minta.
"Ngapain kesini malem malem? Lo nggak liat sekarang jam berapa?" Sinis gue.
Daniel melirik arloji di pergelangan tangannya. "Menurut gue jam 8 masih normal"
Cowok itu kembali menyunggingkan senyumnya, yang membuat gue berdecak kesal.
"Masih bisa lo cengar cengir kayak gitu?! Sadar nggak sih lo gue marah kenapa?" Gue kembali tersulut, seberapa manisnya senyum Daniel, kali ini gue muak.
Senyum itu persis seperti terakhir kali ia merasa kecewa dan bercerita dengan sok tegarnya.
Daniel menghela nafas, tangannya yang tidak gue sambut membuat ia menariknya dan menampilkan wajah merasa bersalah miliknya.
"Maaf, tadi dia pingsan, disana banyak orang tapi hati gue tergerak untuk menjadi satu satunya yang bawa dia pergi dari situ"
Mendengar kalimatnya, amarah gue kembali memuncak sampai rasanya ingin menangis. Gue terdiam cukup lama, menahan air mata membuat hidung gue berair dan berusaha menghentika cairannya agar tidak turun bebas.
Menyadari gue yang terdiam dan berkaca kaca, Daniel maju satu langkah dan memegangi punda gue pelan. Gue menolak, dan menghempaskannya dengan kasar.
"Gue benci banget sama dia, kenapa sih lo nggak ngerti? Lo mau jatuh di lubang yang sama lagi?! Iya?! Mau terus terusan trauma sama cewek?" Gue mengakhiri kalimat dengan tangisan kecil, tangan gue mengusap wajah gue frustasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Kutub Magnet
Fiksi Penggemar[ Book 1 ] #PANCASILA'S UNIVERSE Gue sama Guanlin itu bagaikan dua kutub magnet yang berbeda. Mungkin dia Positif dan gue Negatif. Tau artinya? Iya beda. Beda banget. Gue anaknya nakal, Guanlin anak baik baik. Gue anaknya bobrok, Guanlin perfeksioni...
