55. Hug

4.8K 925 225
                                        

______

"Ok, jadi selama ini lo nggak sekolah dan memilih jadi waiter disini?"

Aluna mendengus dan menatap gue tajam. "Bukan urusan lo!" Gue tersentak sebentar, cewek gila yang berbuat jahat sama gue bahkan masih berani membentak gue di depan banyak orang.

"Lo break dulu lima menit, kita harus bicara. Disana. Ok?" Gue menunjuk meja paling ujung dekat jendela.

"Lo pikir ini tempat punya nenek lo main suruh gue istirahat"

Gue berdecak memutar bola mata malas. Dilain sisi Zacky nampak tak ikut campur dan memilih membayar pesanan dengan khidmat dan membawa makanan serta minuman ke meja pojok dekat jendela yang sebelumnya gue tunjuk.

"5 menit atau surat yang menyuruh lo mengharuskan keluar dari sekolah bakalan terbit seminggu lagi. Pilih mana?"

Matanya membulat terkejut, gue rasa ia nggak tau kabar ini. "Lo mau tau banyak hal kan? Makanya buruan gue tungguin disana. Plis ya nggak usah bikin semuanya ribet dan menjadi panjang karena gue pengen semua ini beres dan tuntas"

Gue berjalan ke meja itu tanpa berbicara banyak lagi, terlebih ketika pelayan lelaki itu nampak terpaksa mendengar perdebatan kami yang tentu ia nggak tau masalahnya apa. Derap langkah dibelakang nggak perlu gue tebak lagi, karena Aluna segera duduk di depan gue dan Zacky saat ini.

"Maksud lo apa?" Tanyanya lagi.

"Sebelumnya, lo nggak mau berkata something gitu sama gue? Minta maaf? Minimal tatapan mata sombong lo itu menyiratkan rasa bersalah"

Aluna terdiam sebentar, ia menutup matanya pelan dan kembali membukanya perlahan. Entah apa yang ia pikirkan. "Gue nggak punya banyak waktu atau gue akan di pecat"

Gue berdecak kesal dan memilih menyesap Latte di atas meja. "Lo tinggal pulang ke istana lo dan menjadi putri lagi. Beres kan? Kenapa harus takut di pecat?"

"Ralat, bukan istana lo. Tapi istana gue, lo cuma pinjem" Gue sempat mendengar Zacky yang nyaris meledakkan tawanya namun ia urungkan dengan basa-basi memakan cheesecake miliknya.

Aluna memicing kesal. "Dia siapa sih?" Matanya menatap tak suka pada Zacky.

"Lo nggak perlu tau, kepo amat sih" Zacky menyahut pelan namun menusuk.

"Gue tau lo diusir, sekarang pulang Papah udah nerima lo lagi, Mamah lo juga nyariin. Dan kembali ke sekolah seperti biasa"

Aluna berdecak kesal dan membetulkan topi baretnya yang miring. "Darimana lo tau kalau gue diusir? Darimana lo tau kalau gue bakal diterima lagi?"

"Nggak usah banyak tanya, gue males ngomong banyak-banyak sama lo" Balas gue asal. Gue beralih hendak meraih chocolate muffin namun Zacky lebih dulu memotongnya dan memakan separuh hingga gue melotot dan mendekatkan dessert itu kedepan gue.

"Punya gue ih!"

"Ya kan gue juga yang beliin!"

"Jadi, kenapa gue harus sekolah dan kembali ke rumah?"

Nih orang nggak ngerti-ngerti. Gue lama-lama emosi.

"Lo sadar nggak sih Lun?! Lo tuh habis dorong gue dari anak tangga IPS, gue masuk rumah sakit, rehat seminggu, lo sadar nggak perbuatan lo itu bisa aja bikin gue mati? Lo dateng ke sekolah selesain semuanya!"

Dua Kutub Magnet Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang