29. Handsome

652 50 12
                                        

Lalisa mengunci pintu rumah yang ditinggalinya selama beberapa bulan ini. Berada di rumah, sendirian, tanpa melakukan aktivitas kesehariannya membuat dirinya frustasi. Terlebih berjalan mondar-mandir menuju dapur dan meja makan walau hanya sekedar mengambil segelas air, mengingatkannya pada seseorang yang membuatnya bingung. Seseorang yang dia pikir sangat menyukai dan mengharapkan balasan cinta dari gadis cantik bermulti talenta seperti Rose, nyatanya seseorang itu malah mengatakan dengan isyarat membingungkannya bahwa dia menyukai Lalisa.

Benar-benar membuatnya bingung dan frustasi hingga ia ingin melupakan itu seolah kejadian yang menurutnya aneh itu tidak pernah terjadi. Lalisa menyegarkan pikirannya dengan keluar rumah.

Lisa mengunci pintu dan melangkah meninggalkan pintu itu. Langkahnya terhenti oleh seseorang di depannya dengan tatapan tajam mengintrogasi.

"Jim, elo disini? Bukannya ada kelas menari dengan Mr. Hoya?"

Lalisa tahu, karena itu aktivitas kesehariannya sebelum menyerahkan surat pengunduran diri itu. Sementara June dan Hanbin sudah pergi ke kelas sejak pagi tadi.

"Dan elo??" Jimin membalas pertanyaan Lisa dengan sebuah pertanyaan yang sama. Jimin pun tahu Lisa pun seharusnya berada di kelas bersama mereka.

"Gue... Gue ada perlu" Lisa menutup kebenaran pengunduran dirinya dengan sebuah alasan.

"Sama siapa? Bukan sama Taehyung kan?" Jimin mulai mengintimidasi.

"..."

Lalisa terdiam dengan pertanyaan Jimin. Menatap Jimin. Dirinya masih bertanya pada dirinya sendiri. Mungkinkah Jimin memiliki masalah yang tidak diketahuinya. Mengapa Jimin mempermasalahkan dirinya menemui sahabatnya sendiri, Kim Taehyung.

"..."

"Kenapa dengan Taehyung? Nggak salah kan?"

"Ah, sorry" Jimin membeberkan alasan larangan itu. "Meskipun dia sahabat elo tapi dia sudah punya kekasih. Elo tau Taehyung sangat menyukai Rose, begitu juga sebaliknya. Elo...pasti akan menjaga perasaannya kan?"

Lalisa sedikit merasa lega. Tidak ada masalah diantara mereka. Jimin hanya takut Lisa dapat mengganggu hubungan Taehyung dengan kekasihnya. Dan Lisa pun tahu itu. Semenjak Lisa mengetahui hubungan Taehyung yang sudah memiliki kekasih, Lisa menjaga jarak dengan sahabat kecilnya itu. Bahkan dia memendam perasaannya untuk kebahagiaan sahabat yang dicintainya itu.

"Gue juga tau itu, Jim. Gue ada perlu sama Jin"

Kali ini langkahnya teralih. Bukan pada Taehyung seperti dulu. Lisa membutuhkan teman dan sahabat untuk sekedar menemaninya berbicara. Bukan Taehyung yang telah memiliki kekasih, tapi Jin yang kali ini sedikit memiliki waktu kosong.

"Perlu gue anter? Gue khawatir aja sama elo"

Jimin juga selalu ada untuk menemani. Tapi...Lisa lebih memilih orang lain karena pernah ada hubungan tidak baik dengannya dulu.

*****

"Oke oke. Tidak baik membuang-buang makanan, terlebih saat anak-anak di negara kita terlantar kelaparan. Jadi biarkan gue menghabiskan makanan ini dulu"

Sahabat yang ditemuinya berpidato sembari memegang patahan cangkang lobster di tangan kanannya. Di sebuah restoran tak jauh dari tempat dimana seharusnya mereka bertemu, kampus Seokjin, sahabatnya menikmati hidangan yang di pesannya. Sudah hampir satu jam sejak mereka duduk disana, tapi Seokjin belum juga menyelesaikan satu porsi besar makanan itu. Berharap sahabatnya segera meninggalkan singgasananya, Lalisa dan Jimin hanya memesan minuman dingin menemani Seokjin menghabiskan makanannya.

"Hidup untuk makan. Yayaya... Betapa beruntungnya elo. Makan sebanyak yang elo mau tapi badan tetep kurus kering kerontang kayak elo. Gue heran kemana perginya nutrisi-nutrisi itu" Lisa membalas pidatonya, memuji atau lebih tepatnya membuat pertanyaan menohok pada Seokjin.

"Heiii... Gue bukan kurus. Nutrisi yang gue makan juga nggak ilang. Nutrisi gue tumbuh ke atas nggak ke samping. Ya nggak, Jim?" Kim Seokjin, calon dokter yang lebih dikenal sebagai ahli gizi makanan menimpali pernyataan Lisa, membela diri.

"Ah, iya" jawab Jimin singkat. Walau sebenarnya Jimin tak ingin dan tak perlu menjawab.

"Oke oke. Apalah kata elo. Gue juga heran. Gue masih belum percaya elo masuk kedokteran" merasa kalah, Lisa menusuk Seokjin dengan pernyataan lain.

"Kenapa?" tanya Seokjin enteng sembari menyesap bumbu dalam cangkang lobsternya dengan nikmat.

"Nggak ada tampang-tampang seorang dokter lo"

"Nyokap gue selalu memuji ketampanan gue. Apa yang salah dengan wajah tampan ini sebagai dokter" Jin memutar tangan bekas mencapit lobsternya di depan wajah, menyombongkan diri betapa tampannya dirinya.

"Bukan wajah elo. Oke gue akui elo ganteng. Tapi kegantengan elo nggak selaras dengan kehidupan elo yang berprinsip hidup untuk makan. Dan...prinsip itu tidak ada dalam kamus kedokteran bukan?? Kenapa nggak masuk jurusan Tata Boga aja yang lebih nyambung?" Lalisa menyarankan. Memang tidak ada prinsip makan ataupun tampan dalam kamus kedokteran. Namun hobi makannya tidak sejalan ataupun searah dengan Kedokteran, mungkin maksud Lisa hobi makan Seokjin lebih sejalan dengan jurusan Tata boga.

"Orang ganteng mah bebas. Tu orang ganteng lainnya dateng" Seokjin kembali menyesap cangkang lobster di tangannya. Sedetik kemudian Seokjin menunjuk seseorang yang baru saja datang melewati pintu restoran dengan cangkang lobster di tangannya.

Lalisa menoleh kepada orang yang dimaksud. Matanya melongo terkejut melihat kedatangan seseorang.

"Jin, elo nggak bermaksud manggil dia kesini kan?"

Beberapa detik setelah keterkejutannya Lisa kembali menatap Seokjin yang tanpa wajah berdosa menikmati lobster jumbonya. Lisa melebarkan matanya, lebih tepatnya menaruh ekspresi marah kepada Seokjin yang tanpa seijinnya menghadirkan seseorang yang berusaha dihindarinya itu.

Jin menggedikkan bahunya.

Sekilas pandangan Lisa beralih kepada Jimin yang sedari tadi duduk tenang di samping Lisa. Atau mungkin saat ini Jimin tidak menunjukkan wajah tenangnya. Wajahnya berubah, seolah menginginkan penjelasan dari Lisa.

*****

"Sorry, gue nggak bermaksud mengganggu kesibukan elo" kata Lisa, menunduk melihat setiap langkah kecil sepasang kakinya bersama sepasang kaki lain yang lebih panjang.

Dengan berbagai tipu dayanya, Seokjin berhasil membuat Jimin berpaling dari pengawasannya pada Lisa. Kini Lisa tengah berjalan di halaman kampus yang terbilang sangat luas itu bersama Taehyung atas rencana, lebih tepatnya paksaan dari Seokjin.

"Gue baru menyelesaikan kelas gue tadi. Jadi gue terlalu banyak waktu. Elo tau, terlalu dan berlebihan itu nggak baik kan. Jadi gue akan membuang waktu gue yang berlebihan itu" Taehyung berhenti sejenak menyelesaikan kalimatnya.

Lisa pun berhenti dan memutar tubuhnya. Lisa berjalan ke arah Taehyung dengan senyuman yang telah lama menghilang.

"Udah pinter lo ya" Lisa berjinjit mengacak rambut Taehyung.

"Gue di sekolahin jauh-jauh. Pinter dikit nggak apa-apalah" kata Taehyung sembari mencoba merapikan rambutnya kembali.

"Aigoo...darimana elo belajar nyombong nggak bermutu gitu hah? Hah?" Lisa mencubit perut Taehyung, dan Taehyung terus mundur untuk menghindari serangan Lisa. Lantas seolah mereka sedang bermain kejar-kejaran seperti remaja yang sedang jatuh cinta dan bercanda bersama kekasihnya.

"Ekhm ekhem. Mahasiswa Kim Taehyung, anda sudah tahu kan dilarang bermesraan di area kampus"

Namun seseorang yang tak diundang menghentikan kemesraan mereka.

FINNA [Lisa X BTS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang