Tujuh Belas

43 3 4
                                        

"Lalu, apa kau akan membawa pedang Ji itu? Aku sudah tidak sanggup melihatnya." Ujar Vu, mencoba mengabaikan ucapan Liao tadi. Bukan karena ia tidak mau percaya, namun aura dari pedang berukiran naga itu, kembali terasa olehnya.

"Aku akan membawanya." Ucapan Liao bagai hembusan angin musim semi untuk Vu. Ia benar-benar menghela nafas lega setelah mendengar kalimat itu masuk ke dalam telinganya.

Liao mengeluarkan pedang dari wadahnya. Ia mengelus pedang dengan ukiran naga, sehingga jarinya tergores dan menciptakan garis merah di pedangnya itu. Namun hanya sesaat saja darah dari jari Liao berada di pedang itu, sebelum pedang tersebut menghisap habis darah Liao yang berada di pedang.

"Baguslah. Karena memang seharusnya seperti itu. Lalu...apa kau sudah menemukan pedang Xi?" Liao menangguk. Kini, kedua tangannya telah memegang masing-masing pedang. Di tangan kanan, terdapat pedang Nix, dan tangan kiri pedang Ji. Alasannya ke tempat ini, selain untuk membawa pedang untuk Rean, juga untuk mengambil pedang berukiran naga ini. Bukan tanpa alasan. Pedang Ji ini sangatlah berbahaya. Karena selain akan menghisap darah seperti pedang pada umumnya, juga dapat menghancurkan sebuah batu besar dalam sekali ayun. Dapat dibayangkan, apa saja yang dapat pedang ini tebas.

"Syukurlah. Kau tahu? Kakakku atau kau memanggilnya Guru, dia selalu berusaha untuk menghancurkan pedang-pedang itu. Baginya, mereka terlalu mengerikan," Vu menghela nafas panjang. Pria itu menatap Liao yang tengah sibuk mengelus pedang Ji. Atau sebenarnya, Liao sedang mengoleskan darahnya pada pedang Ji, setelah melakukan hal yang sama pada pedang Nix. "Tapi semenjak kau ada, Kakak bersumpah akan memberikan pedang-pedang itu padamu." Sambungnya.

"Padahal, aku adalah sebuah kehancuran." Vu tersenyum masam. Ia menatap sebuah lukisan tua, yang menggambarkan seorang pria dan wanita. Mereka adalah orang tuanya.

"Meskipun kau memiliki sisi buruk, tidak ada salahnya untuk menjadi pahlawan. Tidak ada larangan seseorang dengan sisi gelap, menjadi pahlawan." Liao menghela nafas panjang. Memang benar apa yang diucapkan pamannya itu, namun rasanya, tetap salah bagi Liao. Terutama, saat kepalanya mengingatkan perihal misi yang harus ia laksanakan. Meski sebenarnya, Liao bisa memilih.

Berkhianat atau tidak.

"Apapun yang akan kulakukan, semuanya itu, akan menjadikanku sebagai pengkhianat." Liao memejamkan matanya perlahan. Jika boleh jujur, ia sebenarnya begitu lelah. Namun, belum ada alasan kuat untuk dirinya berhenti.

"Bersabarlah. Aku sangat yakin, kau akan menemukan alasan kenapa kau harus seperti ini." Liao mengangguk. Ia bersyukur, setidaknya masih ada manusia yang mau menerima keadaannya. Menganggap dirinya adalah keluarga. Juga menjadi pengganti sosok kedua orang tuanya. Vu terlalu berharga bagi Liao, bahkan dari nyawanya sendiri.

"Ah, iya. Apa kau masih membuat ramuan Jion?"

"Ya, aku selalu membuatnya. Kenapa? Kau mau?" Liao mengangguk. Melihat hal itu, Vu segera berdiri dan berjalan menuju rak berisi botol-botol dengan air berwarna putih susu di dalamnya.

"Ini racun, meski reaksinya sekitar 3 hari kemudian. Kau akan memberikannya pada siapa?"

"Hanya untuk jaga-jaga saja." Vu mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.

"Asal tidak digunakan untuk dirimu sendiri, tidak masalah. Aku akan kesepian jika kau meminum ini."

"Aku tidak sebodoh itu, untuk meminumnya, Paman."

* * * *

Seperti malam-malam sebelumnya, sesosok orang dengan pakaian serba hitam telah berada di salah satu rumah bangsawan. Kali ini, orang itu mulai melangkah menuju ruangan yang belum ia datangi.

Perlahan, ia membuka pintu kamar itu. Ruangannya gelap, namun ia dapat melihat seorang anak kecil yang tengah berbaring memunggunginya. Anak itu tidak terlelap. Ia sangat tahu itu. Dari deru nafasnya, anak itu terlihat sangat ketakutan.

Ia melangkah semakin mendekati anak tersebut dengan langkah pelan. Di rumah itu, tidak ada siapapun yang masih hidup kecuali anak kecil itu. Menyedihkan. Seharusnya ia mendapati banyak penjagaan untuk anak kecil seperti ini.

"Apa kau juga akan membunuhku, karena kesalahan orang tuaku?" Langkahnya terhenti. Ia tersenyum dibalik penutup wajahnya. Tidak menyangka jika anak kecil itu memiliki keberanian untuk bicara.

"Apakah aku akan segera mati setelah ditebas pedangmu itu? Aku pernah merasakan pedang yang menyayat kulitku. Itu sangat perih." Ujar anak itu dengan isakan. Ia kembali melangkah namun lebih cepat. Ia segera berjongkok di depan anak kecil itu.

"Siapa yang melakukan itu?" Anak kecil itu menatapnya dengan sendu.

"Ayahku."

"Kau mau ikut denganku? Pergi ke tempat di mana kau tidak akan pernah disakiti lagi?" Dahi anak itu menyerngit.

"Apakah ada tempat seperti itu?" Anggukan kepala membuat senyuman terbit di wajahnya.

"Bawa aku ke sana."

Malam itu, untuk kesekian kalinya, pembantaian terjadi di rumah bangsawan. Tidak ada yang selamat satupun di rumah itu. Meninggalkan genangan cairan kental berwarna merah dan tubuh yang telah terpotong menjadi dua bagian.

Entah menjadi berkah atau kesengsaraan bagi Elcar. Karena dalam waktu yang singkat, sudah banyak orang yang tewas karena pembantaian ini.

"La vie en Rosé. Aku menyukai pemandangan ini." Pria itu menghirup aroma bunga mawar yang ada di tangannya dengan sebuah senyuman. Rambutnya yang berwarna perak terlihat berkilau ketika mengenai sinar rembulan.

Dirinya kini, tengan berada di depan bangunan rumah mewah salah satu bangsawan Elcar. Yang baru saja dibantai habis oleh seorang pembunuh. Dan tentunya, bukan ulahnya. Meski begitu, tidak ada satupun orang yang melihatnya berada di sana. Mengintat pagi masih cukup lama datang.

"Tapi tidak akan lebih indah darimu, my Rosé. Kau adalah yang paling indah. Dan akan semakin indah, jika ada dirimu di pemandangan ini." Pria itu menatap ke arah rembulan di atasnya tanpa menghilangkan senyuman. Perlahan, kepalanya bergerak menuju arah istana Elcar.

"Setelah ini, kau akan menjadi milikku seutuhnya, my Rosé." Gumamnya pelan. Ia segera berjalan ke arah yang berlawanan dari Istana. Baru beberapa langkah, tubuh pria itu menghilang. Seperti terhembus oleh angin. Benar-benar menghilang di bawah sinar rembulan yang masih tertutupi kabut tipis.

Ya, kabut di Elcar mulai menipis tanpa ada yang tahu penyebabnya. Yang jelas, malam itu menjadi malam pertama Elcar merasakan kembali cahaya rembulan.

Maafkan daku jikalau ini pendek. Karena sengaja :)

Di bab ini ada kode loh. Hayooo yang ngaku cewek, yang suka ngasih kode ke cowok, yang suka kesel kalo cowoknya gak ngerti kode itu, bisa gak mecahin kode di bab ini.

Siapa nih yang udah nebak siapa pembunuhnya??? Jawab di komen ya guys ^^.
Nanti Fi kasih tahu di bab lain deh.

Semogaaaaa...ceritanya cepet beres ya? Biar semangat ane naek lagi. :)

Makasih yang udah setia baca cerita aneh ini, apalagi yang vote sama komen. Ane sampe hapal di luar kepala orang yang rajin komen. :) jadi seneng.

Oke, gas bab selanjutnya ya guys...♡♡♡

Next Chapter is Loading.

Sabtu, 09 Februari 2019

Sword [THE END]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang