"Paman, aku pergi dulu." Mendengar ucapan dari Liao, dengan segera Aravu berjalan keluar dari kamarnya. Namun sayangnya, lagi-lagi Liao sudah pergi jauh dari rumah. Sehingga untuk kesekian kalinya, Aravu gagal meminta Liao agar berkunjung ke makam Aravan karena hal yang sama. Menghela nafas panjang, Aravu kembali masuk ke dalam kamarnya.
Selama ini, atau lebih tepatnya selama tiga bulan terakhir, sikap Liao menjadi berubah drastis. Gadis itu menjadi sosok yang dingin. Tidak ada waktu sama sekali untuk mereka sekadar mengobrol. Pagi hingga sore, Liao pergi bekerja sebagai pengawal pribadi seorang putri bangsawan. Sedangkan malam hari, Liao pergi entah ke mana. Vu tidak bertanya sama sekali karena merasa tidak berhak.
Di dalam kamarnya, Vu hanya bisa memandangi dua buah pedang yang ditinggalkan oleh Aravan. Hanya kedua benda itu yang menjadi pengingat dirinya pada sang kakak. Ia sangat kesepian.
"Permisi." Kepala Vu menoleh ke arah luar kamarnya. Segera saja ia keluar dari kamar, menemukan Verno yang sudah ada di dalam kamarnya. Pemuda itu benar-benar terlihat seperti pangeran, sehingga menimbulkan banyak pertanyaan di kepala Aravu.
"Ah, Verno. Ada yang bisa kubantu?" tanya Aravu ramah. Verno tersenyum tipis sembari menggeleng pelan.
"Paman, aku hanya ingin memastikan keadaan paman," ujar Verno. Mendengar hal tersebut, Vu tersenyum tipis. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, sebelum mengambil duduk di salah satu kursi.
"Aku baik-baik saja, tenanglah." Verno mengangguk mengerti. Ia tahu, Aravu baik-baik saja. Namun ia tidak yakin, apakah perasaan Vu juga baik-baik saja atau tidak. Mengingat Liao yang terus mewujudkan keinginan balas dendamnya.
"Aku akan selalu menjaga Liao agar baik-baik saja. Jadi, paman tidak perlu khawatir." Vu tersenyum simpul. Ia memang sangat senang mendengar perkataan Verno barusan.
"Aku mengandalkanmu, Verno. Kau tahu sendiri, jika emosi Liao tidak stabil saat ini. Aku cemas, ia akan mendapat masalah karena ledakkan emosinya," Aravu menghela nafas panjang, "namun mendengar kau akan menjaganya, aku sangat senang. Aku tenang mendengarnya," ujar Vu.
Di lain sisi, Liao kini tengah bersandar pada tembok sembari memperhatikan perempuan bergaun hijau yang tengah mengikuti jamuan minum teh antar gadis bangsawan. Tugasnya adalah memastikan gadis itu baik-baik saja. Mudah namun menyebalkan, mengingat bagaimana tingkah asli seorang gadis bangsawan.
Menghela nafas pelan, Liao sama sekali tidak mengallihkan pandangannya dari gadis itu setelah berjam-jam berdiri. Bahkan, ketika gadis bangsawan lain mulai berjalan pergi pun, Liao tidak terlihat mengeluh.
Berjalan pelan mendekati Desira, Liao memperhatikan kepalan tangan gadis itu yang semakin menguat. Pertanda jika gadis itu tengah menahan amarahnya. Dan Liao sudah tahu, apa yang menyebabkan Desira demikian. Bahkan tampaknya, ia juga tahu, tugas apa yang akan Desira perintahkan padanya.
"Kau tahu? Perempuan yang memakai gaun berwarna merah itu, dia sangat ingin kusingkirkan," Desira menghela nafas kasar, "jika karena bukan derajat Ayahnya, aku ingin sekali menghabisi wajah congkaknya itu."
Liao masih diam. Ia masih menyimak Desira dengan seksama. Biarkan gadis bangsawan ini mengeluarkan keluh kesahnya dahulu sebelum memberi perintah. "Dia benar-benar menghinaku. Aku yakin, sudah ribuan orang yang ia anggap buruk. Perempuan itu benar-benar lupa daratan," ujar Desira dengan menggebu.
"Jadi, kau ingin aku menyingkirkannya segera? Atau..., kau ingin dia bagaimana?" tanya Liao dengan datar. Desira menoleh ke arah Liao dengan seringaian di wajahnya.
"Inilah yang kusuka dari dirimu," Desira menatap cangkir tehnya yang masih penuh dengan seringian, "biarkan dia dicemooh oleh banyak orang sebagai pengantar kematiannya."
"Perintahmu adalah tugasku. Akan kulaksanakan dengan segera." Desira meminum tehnya perlahan. Ia sudah lega. Setidaknya, ia sudah mengetahui nasib perempuan congkak itu.
"Tunggu saja takdirmu, nona merah," gumam Desira sangat pelan. Ia memiliki Liao sebagai penjaganya, dan tidak ada yang boleh tenang setelah membuatnya kesal.
* * * * To be Continued * * * *
Ketika cerita berasa semakin absurd.
Jangan lupa vote, komen, dan share, ya!?
Love love dari Fia :*
Agustus 31, 2019
#BunnyWonyoungDay
#1stYearIzone
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasyKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)