"Bagaimana? Kau sudah bisa memainkan pedangnya?" Rean yang awalnya tengah terduduk di atas tumpukan jerami, langsung berdiri dengan senyum lebarnya. Sudah beberapa hari ini, ia tidak berjumpa dengan Liao. Sehingga mau tidak mau, ia belajar memainkan Nix seorang diri. Rean memang tidak tahu apa yang membuat Liao tidak menemuinya beberapa hari terakhir. Yang ia tahu, Zean, Kakaknya menjadi salah satu alasan kenapa Liao tidak menemuinya.
Bukan rahasia lagi, hubungan antara Kakaknya dan Liao. Bagi Rean, itu semua tidak menjadi masalah. Karena dengan begitu, ada seseorang lagi yang membuat Liao harus tetap berada di Istana.
"Tidak bisa dikatakan bisa. Aku masih takut jika pedang ini malah melukaiku." Liao mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Perempuan itu semakin mendekati Rean dengan pedang yang ia dapatkan dari gudang penyimpanan istana.
"Kalau begitu, sekarang lawanlah aku dengan pedangmu itu." Rean menoleh ke arah Nix yang diletakkannya begitu saja. Ia tahu maksud Liao baik, namun ia masih saja merasa takut untuk melakukannya.
"Tapi..."
"Kau harus bisa, Rean. Pedang itu akan menjadi besi berkarat jika kau tidak menggunakannya," Liao menepuk pelan bahu kanan Rean. "Percaya pada Nix, maka ia akan menuntunmu."
Liao langsung pada posisinya. Ia berdiri tegak dengan pedang yang dibawanya pada jarak beberapa langkah dari Rean. Liao tidak mengucapkan sepatah katapun, bahkan ketika Rean masih terdiam menatap Nix yang berada di tangannya.
Perempuan itu benar-benar terlihat bimbang pada ucapan Liao tadi. Baru, setelah beberapa saat, ia terlihat menghela nafas panjang. Menatap Liao dan Nix bergantian. Lalu, dengan mantap, Rean mendekat ke arah Nix yang digenggam oleh kedua tangannya.
Nix, tolong bantu aku.
Trang...
Rean membelakkan matanya setelah suara adu pedang terdengar jelas di telinganya. Pedang Nix dan pedang yang dibawa Liao saling beradu dengan kuat. Karena terlalu kaget, Rean segera mundur beberapa langkah.
"Liao--aku..." Liao tersenyum. Ia memasukkan kembali pedang yang digunakannya, lalu berjalan mendekat ke arah Rean yang masih saja berdiri mematung.
"Kau bisa, Rean. Percayalah," Ujar Liao sembari menepuk bahu Rean pelan. "Kau harus bisa bekerja sama dengan Nix. Karena ada saatnya kau harus melawanku."
Ucapan Liao membuat Rean terkesiap. Ia menatap Liao dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin, dirinya yang baru memegang pedang bisa mengalahkan Liao?.
"Tidak, aku tidak akan bisa."
"Rean, kau harus bisa. Berlatihlah lagi, aku ada urusan dengan Kakakmu." Rean hanya mengangguk. Keinginan menggoda Liao yang semakin hari, semakin dekat dengan Kakaknya. Namun, keinginannya itu diurungkan saat kepalanya justru mengingat ucapan Liao tadi. Perihal dirinya yang harus melawan Liao.
Rean menatap Nix yang masih digenggaman tangannya. Namun dahinya menyerngit, saat melihat bercak darah dibagian genggamannya. Ketika dilihat lebih teliti, darah itu benar-benar masih baru. Ia juga masih ingat jelas jika sebelumnya, pedang ini sangat bersih. Dan juga, Rean tidak merasa atau melihat luka di tangannya.
Pandangan Rean langsung tertuju pada Liao. Perempuan itu sekarang sudah ada di lorong, di lantai dua. Namun, entah kenapa Rean dapat melihat jika ada luka di tangan kiri Liao. Bahkan, darahpun terlihat menetes di sana.
"A-aku...melukai Liao? Ba-bagaimana mungkin?" Rean benar-benar tidak percaya pada apa yang saat ini terjadi. Ia tidak akan percaya, jika dirinya melukai Liao walau hanya tangan perempuan itu.
Berbeda dengan Rean yang terlihat masih begitu cemas, Liao baru saja memasuki ruangan penuh buku. Langkahnya, membawa dirinya pada sesosok tubuh tegap berbalut kain berwarna merah yang tengah memunggunginya.
Liao tersenyum tipis, lalu memelankan suara langkahnya hingga sampai tepat di belakang tubuh pria itu. Namun entah kenapa, rasanya Liao begitu ingin memeluk pria di depannya ini. Dan sekarang, tanpa bisa ditahannya, Liao langsung memeluk erat pria itu. Hal yang membuat pria yang tidak lain adalah Zean menegang kaget.
"Liao? Apa ini dirimu?"
"Ya, ini aku." Zean menghela nafas panjang. Ia baru saja akan melepas kedua tangan Liao yang berada di perutnya, sebelum matanya menangkap darah di tangan Liao.
"Apa yang telah terjadi? Kenapa kau menjadi terluka seperti ini?" Liao memandang darahnya yang menetes di tangannya. Luka yang ia dapat dari pedang milik Rean tadi.
"Bukan apa-apa." Ucap Liao tenang, namun hal itu justru membuat Zean terlihat marah. Benar-benar hal yang belum pernah terjadi, mengingat perasaan Zean pada Liao yang bukan main-main.
"Tenanglah. Luka milikku tidak seperti milikmu. Kau sendiri, bagaimana keadaanmu?" Meski Liao terlihat tenang, namun dirinya tidak dapat menduga akan mendapatkan luka seperti ini. Ia akui jika dirinya merasa kurang cepat dalam bergerak, juga cepat merasakan lelah. Entah apa yang menjadi sebabnya.
"Ada apa ini? Kenapa kalian membuat keributan di dalam perpustakaan?" Kedua orang itu langsung menoleh pada Ratu Izuna yang entah sejak kapan berada di ruangan yang sama dengan mereka. Karena tidak ada jawaban dari dua orang di depannya, pandangan Ratu Izuna langsung tertuju pada punggung tangan Liao sebelah kiri. Darah di bagian itu masih saja terlihat menetes.
"Liao, sebaiknya kita mengobati lukamu itu sebelum menjadi parah." Ujar Ratu Izuna. Ia benar-benar cemas melihat luka di tangan Liao tersebut. Namun, Liao justru akan menolak usul tersebut sebelum dirinya mendapat tatapan tajam dari Zean. Ya, Zean menatap tajam dirinya lagi.
* * * *
"Tuan, seperti yang Anda inginkan, minggu depan bulan purnama akan muncul." Velix membalikkan badannya. Wajah datarnya perlahan berubah menjadi seringaian.
"Ah, benarkah? Aku senang mendengar hal itu." Velix menatap bunga mawar yang ada di tangannya tanpa menghilangkan seringaiannya. Ia pun menatap salah satu anak buahnya yang masih saja bertekuk lutut di depannya.
"Ada lagi hal yang ingin kudengar?" Pria itu mengangguk.
"Raja Gio menerima dengan sangat baik rencana Anda. Semua rencana bisa dimulai kapanpun yang Anda mau." Velix mengangguk-anggukkan kepalanya. Tidak bisa ditahan, jika dirinya menjadi begitu senang mendengar hal itu. Hal yang yah...tidak ada yang rencana itu berjalan baik. Tapi dirinya bisa membuat semuanya berjalan dengan baik.
"Ah, sebentar lagi. Sebentar lagi Elcar akan ada di tanganku." Gumam Velix sembari menatap sebuah lukisan kerajaan Elcar. Lalu dirinya menoleh pada salah satu anak buahnya.
"Kembalilah, dan katakan pada kawanmu jika sebentar lagi kalian akan berpesta." Orang itu mengangguk. Setelahnya, ia berjalan meninggalkan Velix sendiri di ruangan temaram itu.
"Aku tidak sabar untuk melihat wajah kalian semua." Ujarnya lalu kembali menyeringai.
Next Chapter is Loading.
Keterlaluan kalau gak tahu siapa Velix. Wah wah wah wah.
Ditulis : Minggu, 24 Februari 2019
See ya ^^
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantastikKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)