Karena yakin kalian gak bakal baca bagian bawah, ane mau ngasih info, kalo mulai sekarang, ane bakal nge-gas. Greget sumpah.
*silahkan membaca*
Malam itu, Liao berjalan memasuki sebuah rumah yang terlihat biasa. Bukan, itu bukanlah sebuah rumah, melainkan Bar. Karena terdapat beberapa orang dengan wajah sangarnya, duduk sembari minum-minuman, dengan kadar alkohol berbeda-beda. Bermain judi maupun adu panco, semua terlihat di sana. Bahkan, mereka mengabaikan kehadirannya.
Suatu hal yang sangat menguntungkan.
Dengan cepat, langkah kaki Liao membawanya ke arah dapur. Lebih tepatnya ke arah pintu lain yang ada di dapur itu, yang akan mengantarkannya ke ruangan di bawah tanah. Yang menjadi tujuan utama, kenapa ia masuk ke Bar ini. Dan juga, ada seseorang yang ingin ia temui. Saat ini juga.
Liao menghentikan langkahnya di depan sebuah rak, yang tingginya dua tingkat lebih tinggi darinya. Rak yang menjadi tempat botol-botol anggur itu, perlahan ia geser ke arah sebelah kanan. Tepatnya ke tembok yang tidak terhalang apapun. Setelah menggesernya beberapa saat, kini terlihat sebuah pintu kayu dengan ukiran naga di tengah-tengah pintu kayu itu.
Orang-orang yang ada di dalam dapur itu terlihat tidak peduli. Bahkan mereka memang tidak peduli. Meski pintu itu tadi terhalang oleh rak penyimpanan anggur, namun tampaknya, ruangan menuju ke sana tidaklah terlalu penting. Atau...ada sesuatu yang membuat mereka yakin, jika orang asing takkan mudah untuk kembali dengan selamat.
Tidak membuang waktu lama, Liao segera membuka pintu tersebut. Menampilkan lorong beserta anak tangga yang mengarahkannya ke lantai dasar. Lorong yang hanya bersinarkan cahaya dari lilin itu, menambah kesan menakutkan, selain aura dingin yang menusuk dari dalam ruangan itu.
Begitu dirinya masuk, suara sepatunya langsung menggema di seluruh penjuru ruangan. Bahkan, decitan pintu kayu, yang awalnya terdengar pelan, menjadi keras karena gema di ruangan ini. Namun, hal itu bukan menjadi alasan Liao memelankan langkahnya. Alasannya adalah, karena tangga yang tengah ia pijak terasa licin. Selain itu, jika ia terpeleset, ia tidak bisa berpegangan pada apapun. Jika selamat, mungkin hanya meluncur di anak tangga. Jikalau tidak, ia akan langsung ke lantai dasar. Yah, artinya ia bisa terjatuh ke sana.
Tangga yang berbentuk melingkar, semakin membawa Liao ke lantai dasar. Bau menyengat darah pun semakin tercium jelas di hidung perempuan itu. Namun, Liao terlihat tidak risih. Ia terus berjalan menyusuri anak tangga.
"Tuan sudah menunggu Anda, Nona." Liao tidak mengatakan apa-apa. Hanya menatap datar dua penjaga, yang beberapa saat kemudian membukakan pintu untuk Liao. Begitu terbuka, sebuah ruangan yang luas dan terang terlihat jelas. Segera, ia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam. Begitu benar-benar masuk, pintu kembali tertutup dengan rapat.
"Akhirnya, kau datang juga," Liao tidak berkata apa-apa. Bahkan ketika pemuda di depannya membalikkan badan pun, ia masih dalam ekspresi datarnya. "Adik kecil."
"Katakan." Pemuda itu terkekeh pelan. Dengan tangan yang memegang segelas anggur, ia memperhatikan Liao yang menatapnya dengan tajam. Atau, boleh dibilang lebih tajam dari sebelumnya. Ia terkekeh, mengetahui jika Liao tidak akan bicara lebih lagi.
"Kau tahu...jika kedua orang tua kita dibunuh oleh Raja Xen karena alasan yang tidak jelas." Kali ini, ada sedikit perubahan pada raut wajah Liao. Ya, hanya sedikit, namun pemuda dengan pakaian bangsawan itu dapat menyadarinya. Jika Liao terkejut.
Dan, tanpa sepengetahuan Liao, pemuda itu menyunggingkan senyum miring.
"Percaya tidak percaya. Tapi itu memang kenyataannya," pemuda itu menenggak anggur yang ada di gelas itu perlahan, dengan mata yang masih menatap ke arah Liao. "Dan kau tahu semua itu, tapi tidak pernah menceritakan apapun padaku. Menyedihkan."
Liao membuang nafas kasar, ia mengangkat kepalanya, dan menatap tajam ke arah pria yang kini menyesap habis anggur di gelas itu. "Dari mana informasi itu?". Satu lirikan dengan seringaian. Hal yang mampu membuat Liao mendengus kasar.
"Tidak penting darimana aku mendapatkan informasinya," gelas kaca yang telah kosong itu segera disimpan ke atas meja kayu. Ditatapnya Liao tanpa menghilangkan seringaian di wajah pria itu.
"Yang penting adalah...apa kau akan diam saja? Membiarkan Raja itu hidup bahagia, setelah membunuh orang tua kita yang tidak tahu apapun? Bahkan kudengar, kau sudah berada di Istana. Benar, kan?" Liao lagi-lagi dibuat tidak berkutik dengan ucapan pria di depannya. Jujur saja, meski pria ini terus mengaku dirinya adalah Kakak Liao, namun sampai saat ini, tidak ada satupun dari ingatan Liao yang bersangkutan dengan pria ini. Bahkan ingatan akan dirinya dan seorang kakak, tidak ada sama sekali.
Namun, Liao begitu benci mengakui fakta jika dirinya selalu lemah jika diingatkan akan kedua orang tuanya. Dan sayangnya, pria di hadapannya sangat tahu akan kelemahan si 'ksatria' tangguh ini.
"Tidak perlu ikut campur, ini bukan urusanmu." Pria itu tertawa pelan.
"Bukan urusanku? Tentu ini urusanku, adik kecil," lagi, pria itu menyeringai. Yang Liao tahu, jika pria di depannya sangatlah licik.
"Mereka adalah orang tuaku juga. Jadi, biarkan aku membantumu untuk membalaskan dendam kita pada Raja itu." Dan dibalik ucapannya itu, Liao merasa ada maksud tersembunyi. Yang sayangnya, Liao tidak dapat memastikan apa itu.
Satu hal yang pasti,
Liao merasa menyesal.
"Aku tidak peduli." Lagi, pria di depannya ini tertawa. Meski Liao sangat yakin, jika apa yang diucapkannya tidak lucu.
"Aku akan menganggap kamu tidak mengatakan hal itu." Menghela nafas panjangnya. Meredam amarah yang selalu saja mudah meledak, Liao memilih mengabaikan pria aneh itu. Ia berbalik, lalu melangkahkan kakinya menuju ke luar ruangan yang dipenuhi oleh lukisan serta guci berharga tinggi.
Tampaknya, pria ini begitu tertarik pada sebuah mahakarya berharga langit.
Kepergian Liao tidak ditahan oleh pria itu. Justru, ia semakin melebarkan seringaiannya, tepat setelah pintu kembali tertutup dengan sempurna.
"Lihat? Bahkan aku bisa dengan mudah mengendalikannya," ia berbalik, menyesap lagi minuman anggur yang telah ia tuang kembali. "Tentu saja, dia adalah boneka-ku. Boneka kesayanganku." Ujarnya sebelum menghabiskan sebotol minuman yang mengandung alkohol itu sendirian. Tidak ada yang tahu apa yang ada di pikiran pria muda itu. Hanya seringaiannya saja, yang seolah sulit menghilang dari wajahnya itu.
"Tunggu saja. Sebentar lagi, sebentar lagi aku akan menunjukkan, siapa sebenarnya yang harus berkuasa." Ucapnya.
Di lain tempat, Liao duduk di atas salah satu atap rumah. Menatap kosong ke arah langit yang memperlihatkan satu bintang di langit sana. Bahkan, dirinya tidak sadar akan kehadiran seseorang di sampingnya. Seolah membiarkan orang itu melihat air matanya yang terjatuh begitu saja.
"Jikalau bisa, aku akan membantumu untuk keluar dari sini. Tapi, ini takdirmu. Aku tidak bisa berbuat apapun lagi." Liao menghapus kasar air matanya dengan kasar, sembari tersenyum masam.
"Aku sudah terlalu dalam masuk. Dan...aku harus menyelesaikan semuanya." Setelahnya, keduanya mengatupkan mulutnya. Terdiam, dan membiarkan hembusan angin menyentuh kulit mereka.
Next Chapter is Loading...
Mangap hadirin semua, saya telat buaaaanget.
Kuningan, 06 Januari 2019
Ja, mata ♥♥
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasíaKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)