Tiga Puluh Dua

30 3 0
                                        

"Baringkan dia. Tabib, segera sembuhkan perempuan ini, atau kepalamu dan keluargamu akan habis di tanganku." Zean menuruti ucapan Verno. Ia membaringkan tubuh Liao di atas tempat tidurnya secara perlahan. Terlihat jelas jika pria itu takut akan menyakiti tubuh Liao.

Berbeda dengan tabib itu yang semakin gemetar ketakutan. Dari yang Zean lihat, tabib itu bukanlah tabib Istana. Ataupun tabib yang berasal dari Elcar. Karena para tabib Elcar memiliki ciri khas, yakni pakaian dengan simbol matahari.

"Ba-baik Tu-tuan. Saya a-kan melaksanakan tu-gas sa-ya sebaik mungkin." Ujar tabib itu. Setelah mendengar hal itu, Verno menarik paksa Zean lagi agar memberi ruang pada tabib itu untuk mengobati Liao. Meski enggan, namun Zean memilih pasrah.

"Dari mana saja dirimu? Kenapa kau baru muncul saat peperangan seperti ini?" Verno menoleh ke arah Zean dengan tatapan yang tidak bisa terbaca. Ia tersenyum miring.

"Rupanya pangeran yang begitu dingin ini telah menghilang, menjadi pangeran cerewet." Zean hanya menghela nafas panjang mendengar penuturan Verno, yang memang terdengar menyindir dirinya.

"Aku tentu saja kembali ke tempatku. Kau tahu sendiri, aku bukan berasal dari Elcar." Zean kini menatap Verno yang telah mengalihkan pandangannya ke arah Liao dan tabib itu. "Lagipula, apa yang kuinginkan sudah kudapat. Meski aku harus ke tempat ini lagi, untuk menyelesaikan perjanjianku dengan Liao-mu." Lanjut Verno.

Dahi Zean langsung menyerngit bingung. "Perjanjian dengan Liao? Apa maksudmu?" Verno melirik ke arah Zean sebentar.

"Bukan hal yang terlalu penting. Tapi jika kau penasaran, tanyakan saja pada Liao-mu. Kau akan lebih mengerti jika dia yang menjelaskannya." Zean menghembuskan nafasnya kasar. Saat ini, tabib mulai menangani luka sayat di tangan Liao. Entah itu yang dibuat oleh anak panah, maupun yang ada di bagian tangannya yang lain.

"Perang itu. Kita harus menye--"

"Rean sudah membereskannya. Bukankah kau melihat sendiri? Dia telah berkembang dengan cepat." Zean kembali terdiam. Verno benar. Rean bahkan dengan mudah menghabisi banyak orang tanpa ragu. Bahkan tidak peduli siapa yang dilawan olehnya.

"Sudahlah. Aku akan ke sana untuk membantu Rean, kau tunggu saja dia. Aku yakin, kau akan terus memikirkan Liao-mu itu, daripada perang." Setelah mengatakan hal itu, Verno berjalan keluar dari ruangan itu. Kini benar-benar berjalan, tidak seperti tadi.

Ah.

"Siapa dia sebenarnya?" Tanya Zean dengan begitu pelan, hanya terdengar oleh telinganya sendiri. Matanya bahkan masih menatap ke arah pintu di mana tubuh Verno menghilang.

"Mmm...Yang Mulia?" Kepala Zean langsung menoleh ke arah tabib yang menangani Liao. Dengan segera, ia menghampiri pria paruh baya itu.

"Bagaimana keadaannya? Apa dia akan baik-baik saja?" Tanya Zean, tanpa menghilangkan raut wajah khawatirnya. Melihat hal itu, tanpa sadar sang tabib tersenyum di wajahnya yang semakin menua.

"Kenapa kau tersenyum? Jawab pertanyaanku!" Tabib itu tersentak.

"Nyonya baik-baik saja, hanya perlu beristirahat karena racun dalam tubuhnya sedang dinetralisirkan." Jawab tabib itu dengan tenang, namun belum cukup untuk membuat tenang.

"Racunnya? Apa itu racun yang sangat berbahaya?" Tanya Zean lagi. Ia mendekat ke arah Liao yang masih memejamkan matanya.

"Tidak, Yang Mulia. Racun itu tidak membahayaka diri Nyonya ataupun janin yang dikandungnya." Tubuh Zean menegang. Perlahan, kepalanya menoleh ke arah tabib itu, yang kini menampilkan senyuman hangat di wajah pria itu.

"Janin? Apakah...maksudmu...Liao tengah mengandung anakku?" Tabib itu mengangguk tanpa menghilangkan senyumannya.

"Iya, Yang Mulia. Nyonya tengah mengandung sekitar 2 bulan. Selamat atas kehamilan Nyonya, Yang Mulia." Zean tersenyum lebar. Ia tidak menyangka, jika akan mendengar berita membahagiakan ini. Bahkan air matanya pun mengalir tanpa bisa ia tahan.

Ia bahagia. Sangat bahagia.

"Terima kasih. Terima kasih, Liao." Bisik Zean lembut tepat di telinga Liao. Ia mengecup punggung tangan Liao terus menerus.

* * * *

"Tampaknya, aku tidak mendapatkan bagian." Rean yang baru saja menghabisi pemberontak terakhir, langsung menoleh ke arah belakang. Dengusan langsung terdengar, ketika mata Rean melihat sosok Verno.

"Kau sangat terlambat jika ingin mendapatkan bagian, Pangeran." Ujar Rean dengan nada menyindir, namun tampaknya, Verno tidak mempedulikan hal tersebut.

"Kupikir, kau tidak akan tahu siapa diriku." Rean berbalik setelah memasukkan pedangnya. Kini, ia membiarkan para prajurit Kerajaan Elcar untuk menyingkirkan mayat-mayat.

"Melihat kau berpakaian seperti itu. Siapa yang tidak akan mengira, kau seorang Pangeran? Lagipula, Liao sudah memberitahuku semuanya, sejak kau membawa salah satu dayangku." Ujar Rean lalu berjalan menjauhi Verno.

"Dia milikku, jadi wajar jika aku mengambilnya." Rean hanya mengedikkan bahunya tanpa menghentikan langkah kakinya.

Melihat hal itu, Verno menghela nafas panjang. "Tampaknya, aku tidak ada alasan lagi untuk di sini." Gumam Verno, lalu berjalan ke arah hutan Krad. Meninggalkan Elcar yang baru saja mendapat serangan dari pemberontak yang dibantu Raja Gio. Ia membiarkan Zean untuk menangani semua ini. Lagipula, ia sudah bukan lagi Jendral Elcar.

Sedangkan Rean, perempuan itu melangkahkan kakinya menuju kamar Ratu Izuna. Tida peduli dengan penampilannya yang begitu buruk, karena ia begitu khawatir pada kondisi Ibunya itu. Bagaimanapun juga, Ratu Izuna-lah yang pada saat itu menyaksikan kematian Raja Xen paling dekat. Dan Ratu Izuna jugalah yang paling terpuruk akan hal itu.

"No-nona?" Rean menoleh ke arah salah satu dayang Ratu Izuna. Dayang itu terlihat jelas begitu kaget karena melihat penampilan Rean yang begitu mengerikan. Pakaiannya dipenuhi oleh noda darah, bahkan wajahnya pun terkena cipratan darah.

Mendengus pelan ketika melihat dayang itu tidak akan menyingkir dari depan pintu, Rean berdehem cukup keras, membuat dayang itu terlonjak kaget.

"Biarkan aku masuk." Perintah Rean.
"Ta-tapi...Ya-yang Mu-lia Ra--"

"Kalau kau tidak menurut, aku tidak keberatan untuk menebas satu kepala lagi." Dayang itu tampak menelan salivanya dengan susah payah. Ia ketakutan, sangat. Dengan segera, dayang itu menyingkir. Ia membiarkan Rean masuk. Toh, ia yakin, jika Rean takkan mungkin melakukan hal mengerikan pada Ibunya sendiri.

"Ah iya. Di gudang senjata, ada mayat Rofulus. Suruh prajurit untuk menyingkirkan tubuh orang itu ke jurang." Mata Dayang itu terbelalak. Dengan segera ia mengangkat kepalanya, dan tidak sengaja bersitatap dengan mata Rean yang begitu tajam.

"Yang membunuhnya..."

"Aku. Cepat lakukan saja perintahku." Lagi dan lagi. Nada suara Rean begitu penuh ancaman. Tanpa berfikir lagi, dayang itu segera berjalan meninggalkan Rean yang masih memperhatikannya. Dayang itu tentu saja masih menyayangi kepalanya itu.

"Tentu saja. Tidak ada yang benar-benar tulus di dunia ini." Gumamnya lalu segera masuk ke dalam kamar Ratu Izuna.

Next Chapter is Loading...

Btw, kan nanti bakalan ada bagian behind the story sama flashback gitu. Tapi, itu bukan dari bagian inti cerita. Cerita ini bakal ditamatin dulu, baru nambahin kedua hal di atas.

3 April 2019

Fialesflo

Sword [THE END]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang