Verno menatap Levia yang ada di depannya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan jelas, hanya datar saja yang dapat Levia artikan. Namun, Levia benar-benar risih ditatap begitu lekat oleh pria yang memiliki posisi lebih tinggi dibanding dirinya yang hanya pelayan biasa.
"Hhh~." Verno menghela nafas panjang. Tangannya menyentuh wajahnya yang menampilkan raut wajah lelah. Benar-benar terlihat, bahkan oleh Levia yang tengah meringkuk di atas tempat tidurnya.
Seharusnya, Verno pergi untuk menghadapi para pemberontak yang menyerang benteng Timur, sesuai perintah Zean. Namun, pria ini malah duduk di depan Levia. Seolah perintah Zean, bukan menjadi tugasnya. Mungkin.
"Bukankah...Anda harus pergi ke benteng timur?" Pertanyaan Levia langsung membuat Verno mengangkat kepalanya untuk menatap kembali Levia. Tersenyum tipis, pria itu mengangguk, membenarkan ucapan Levia.
"Tapi aku sedang malas." Levia semakin meringkuk ketika Verno mendekat ke arahnya. Memang, Verno tidak melakukan apapun padanya, namun mengingat pria ini seperti bekerja sama dengan Liao maupun Rean yang telah membantai habis keluarga Pofilus. Dan tidak mungkin, jika Verno juga melakukan hal yang sama. Membunuh siapa saja yang dianggap menyebalkan.
Melihat raut wajah Levia yang begitu ketakutan, membuat Verno menampilkan senyum miringnya. Ia langsung menarik pinggang Levia, sehingga perempuan itu benar-benar menempel pada tubuhnya. Dan seperti apa yang selalu ia duga, Levia memiliki aroma mawar yang begitu kuat, hampir seperti Liao. Hanya saja, aroma perempuan itu tidak membuat Verno tertarik.
"Kenapa kau begitu takut, my rose ? Kau milikku, dan tidak ada siapapun yang bisa melukaimu." Verno menatap Levia tepat di kedua bola matanya. Ia menempelkan dahinya dengan dahi Levia, sehingga deru nafas Levia terasa lembut di wajahnya.
"Kau milikku. Hanya milikku." Levia tidak mengatakan apapun. Perempuan itu benar-benar hanya terdiam saja, bahkan ketika Verno mengusap lembut pipinya. Perlahan, tangannya bergerak ke belakang kepala Levia. Mendorong kepala Levia hingga kepala keduanya semakin dekat, hingga jarak semakin menipis, dan akhirnya tidak ada jarak sama sekali.
Ruangan itu menjadi hening. Namun sesuatu bergerak secara aneh di ruangan itu. Dari bawah tempat tidur itu, sulur-sulur tanaman berwarna hijau pekat perlahan bergerak ke atas tempat tidur.
Sulur-sulur itu perlahan mulai mengelilingi Levia. Begerak begitu halus, sehingga Levia tidak dapat menyadarinya. Sulur-sulur itu berhenti bergerak setelah Levia terlihat takkan bisa begerak. Namun semuanya belumlah selesai.
Secara perlahan juga, dari sulur-sulur itu keluar duri. Tentunya langsung menembus kulit Levia.
"Argh..." Levia menatap ke arah tubuhnya yang telah terlilit oleh sulur-sulur tanaman. Bahkan, dirinya dapat melihat darah mulai mengalir dari luka-luka yang dibuat oleh duri di sulur tanaman ini. Sehingga dirinya kembali merasakan rasa perih di hampir seluruh tubuhnya. Setelah sebelumnya terpana pada bunga mawar merah yang mekar tepat di depan matanya.
"A-pa yang ter-jadi? To-long." Verno tidak menjawab. Pria itu masih saja memperhatikan Levia yang mulai berlumuran darah. Seolah, pemandangan itu begitu menarik.
"Tu-an...to-long." Suara Levia mulai melemah. Kepalanya berdenyut, karena tubuhnya mulai kehilangan banyak darah. Namun, ia tidak bisa lekas berbaring, karena duri yang ada di punggungnya.
"Ver-no..." kesadaran Levia benar-benar menghilang setelah mengatakan hal itu. Dan di saat yang bersamaan, sulur-sulur penuh duri itu menghilang.
Tubuh Levia yang tidak bertenaga dengan darah yang hampir menutupi tubuhnya itu, jatuh ke pelukan Verno.
"Harusnya, kau mengucapkan itu lebih cepat." Ujar Verno. Ia mengecup singkat bibir Levia yang berwarna merah. Sekejap kemudian, kedua orang itu menghilang di ruangan itu. Meninggalkan noda darah di atas tempat tidur itu, yang tidaklah setetes. Melainkan seperti genangan darah. Yang meresap ke tempat tidur.
* * * *
Rean memandang yang ia sebut sebagai hasil karya-nya dengan teliti.
Tubuh semua orang di dalam rumah itu telah terpotong menjadi dua bagian, bahkan beberapa ada yang terkoyak pada bagian perut. Genangan darah yang begitu kental dan menciptakan aroma amis yang menyengat, telah memenuhi hampir seluruh lantai.
Baginya, benar-benar hasil yang memuaskan.
Perempuan yang masih memakai pakaian serba hitam itu, berjalan keluar dari ruangan itu. Pedang yang tersampir di pinggangnya masih begitu bersih. Berbeda dengan belati yang ada di tangan kanannya. Yang sudah begitu penuh dengan darah.
Beberapa langkah, dirinya telah menjauh dari pintu masuk ke rumah itu. Namun langkahnya harus terhenti, saat pandangan Rean bertemu dengan seseorang yang tidak terlalu jauh di sana. Menatapnya dengan tatapan yang datar.
Rean memperhatikan penampilan orang di depannya. Tidak menunjukkan jika pria itu adalah seorang bangsawan, karena pakaiannya pun terlihat lusuh. Mungkin hanya pedang yang tersampir di pinggang pria itu, yang menjadi benda berharga. Meskipun Rean yakin, pedang itu sama seperti pedang yang ada di gudang penyimpanan senjata yang ada di Istana.
"Siapa kau?" Pria yang memakai tudung, membuka tudung itu perlahan. Sehingga menampilkan wajahnya. Rupawan, namun terdapat semacam tato berwarna hitam. Yang melintang dari pelipis hingga dahi yang sejajar dengan mata kanannya.
"Hanya pengembara biasa, Nona Rean." Rean membelakkan matanya. Dengan cepat, ia berjalan menghampiri pria misterius itu, dan mengayunkan pedangnya. Namun, tidak dapat Rean duga, pria itu menahan pedangnya dengan tangan kosong.
Karena ayunannya yang kuat, tangan pria itu terluka. Bahkan, darah mengalir cukup deras dari tangan kanan pria itu.
Rean segera saja menjauhkan pedang itu. Dirinya menatap dengan terkejut pada tangan pria itu yang terluka. Padahal, ia sering melukai manusia lain dengan lebih sadis. Tentunya dengan keadaan sadar.
"Ta-tanganmu..." pria itu tidak mengatakan apapun. Hanya diam, dan terus memperhatikan Rean.
"Sebenarnya, siapa kau?" Pria itu tersenyum miring.
"Kau akan tahu nanti." Dan setelah mengatakan hal itu, ia meninggalkan Rean yang masih terjebak pada rasa bersalahnya. Membiarkan darah mengalir dari tangan kanannya.
Permata yang sangat indah.
Next Chapter is Loading...
11 Maret 2019
Ja, mata ^,^
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasiKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)