Flashback-22

12 0 0
                                        

"Kau mau bermain-main denganku, hm?"

Dengan tubuh yang telah dipenuhi luka, pria itu menggeleng dengan susah payah. Darah mengalir hampir di seluruh tubuhnya yang kini bergetar ketakutan. Sedangkan orang yang kini mencengkram rambutnya kasar, seolah tidak memiliki hati sama sekali.

"Sayangnya, aku masih ingin bermain denganmu." Tubuh pria itu semakin bergetar. Ia tahu, hidupnya sudah diujung tanduk. Melawan atau mencari bantuanpun percuma, karena seluruh penjaga di rumahnya entah pergi ke mana. Mereka tentunya masih sayang dengan nyawa.

"Katakan padaku," kepalanya semakin terangkat, dan ia harus menahan ringisan, "dimana Destrion bersembunyi?" tanya orang itu. Dari suaranya, terdengar jelas jika dia adalah seorang perempuan. Namun tidak jelas siapa, karena penutup wajah yang dipakai perempuan itu.

"Be-beliau a-ada di salah satu penginapan terbaik di sini. Bi-asanya, setiap malam beliau berkunjung ke rumah bordil." Perempuan itu menyeringai di balik penutup wajahnya. Tanpa belas kasihan, ia membanting kepala pria itu begitu saja. Setelahnya, ia menghunuskan pedangnya tepat di dada orang itu. Membuat pria itu mati seketika.

"Terima kasih atas informasinya, manusia tidak berguna," ujarnya lalu berjalan keluar dari rumah itu. Seperti biasa, ia meletakkan kembali pedang yang ia gunakan untuk membunuh hampir semua orang di tangan satu-satunya prajurit yang ia biarkan selamat. Kejam memang, namun ia tidak peduli. Keinginannya telah tercapai, dan ia tidak merasa bersalah sedikitpun.

"Tampaknya, jiwa iblis sudah sepenuhnya masuk pada dirimu." Perempuan itu menolehkan kepalanya pada sosok Verno yang tiba-tiba berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Perempuan itu membuka penutup wajahnya dengan kasar, sehingga terlihatlah wajah Liao yang disinari cahaya rembulan.

"Aku hanya melakukan tugasku," ujar Liao tenang. Ia memperhatikan sekeliling yang masih begitu hening karena saat ini masih tengah malam.

"Sebaiknya kau beristirahat, karena pagi nanti kau harus kembali bekerja," ujar Verno yang seperti perintah, namun segera Liao turuti dengan anggukkan kepala. Memasang kembali penutup wajahnya, Liao berjalan meninggalkan rumah yang orang-orangnya telah ia bantai.

Liao berjalan dengan tenang tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Sehingga tidak akan yang tahu, apa yang telah ia lakukan. Sedangkan Verno, pria itu masih berdiri di tempatnya. Ia menatap ke arah Liao yang semakin lama semakin menjauh dari pandangannya.

Ini sudah setahun sejak kematian Aravan, guru Liao. Memang terlalu lama jika Liao masih menyusun rencana untuk penyelamatan Ibunya. Namun, semua tidak semudah yang dipikirkan. Liao memang semakin kuat dan bisa mengendalikan emosi. Namun sayangnya, Liao terlihat seperti Iblis yang masuk ke dalam tubuh seorang perempuan cantik.

Meski tidak banyak orang yang tahu jika Liao adalah seorang pembunuh, namun perbuatannya tiap tengah malam berhasil menakuti banyak orang. Semakin banyak orang yang meningkatkan kewaspadaan pada malam hari.

Namun Liao tidak sebodoh dan sepengecut itu. Ia melakukan pembunuhan dalam jarak waktu yang jauh. Memang awalnya, ia melakukan pembunuhan berantai dalam waktu yang berdekatan. Namun kini, orang-orang mulai menurunkan tingkat kewaspadaannya setelah hampir sebulan, ia tidak lagi membunuh seseorang.

* * * * To be Continued * * * *
Up lagi, nih.
Dipercepat biar cepet selesai dan bisa fokus ke cerita Rean.

Jangan lupa vote, komen, dan share guys ^^
Luv luv.

Agustus 30, 2019
Jum'at

Fialesflo

Sword [THE END]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang