Dua Puluh Empat

35 2 0
                                        

Liao mengerjapkan matanya beberapa kali. Seperti yang ia duga sebelumnya, jika dirinya terbangun dengan kondisi yang sama. Keadaan yang sepertinya sudah terjadi sebanyak 7 kali. Namun Liao tidak melakukan apapun untuk menghindar.

Menghela nafas panjang, Liao memejamkan matanya beberapa saat sebelum kembali terbuka. Ketika telinganya mendengar erangan kecil dari orang yang tengah memeluknya erat dari belakang.

"Kau sudah bangun, hm?" Tanya orang itu. Baiklah, tanpa dijelaskan pun kalian pasti akan tahu jika orang yang bersama Liao adalah Zean. Tentu saja, siapa lagi yang bisa melakukan hal lebih pada Liao selain Zean?. Tidak akan ada.

"Ya, aku sudah terbangun. Apa aku membangunkanmu?" Tanya Liao. Kali ini, perempuan itu perlahan bangun meski sedikit kesusahan karena Zean yang memeluknya begitu erat.

"Tidak." Jawab Zean setelah membiarkan Liao duduk. Atau bisa disebut, melepaskan rangkulan tangannya pada pinggang Liao.

"Untuk yang kemarin, aku minta maaf. Itu semua paksaan dari Ayahku." Liao menghela nafas panjang. Ia tersenyum namun terlihat begitu dipaksakan.

"Kenapa tidak menerimanya saja? Perintah Raja adalah mutlak, kan?" Zean mengikuti Liao untuk duduk, lalu menggeleng. Tidak, ia tidak akan mungkin melakukannya di saat ada perempuan yang benar-benar ia cintai. Tidak, ia tidak akan pernah melakukannya.

"Tidak. Aku sudah memilikimu,"
"Anggap saja aku hanyalah teman tidurmu. Lagipula, posisiku tidaklah sebanding denganmu yang merupakan pewaris tahta. Bahkan dengan Putri yang kemarin." Raut wajah Zean langsung berubah. Ia menjadi terlihat mengerikan dengan matanya yang menatap tajam ke arah Liao.

"Jangan.katakan.itu.lagi. kau hanya milikku, begitupun sebaliknya." Zean menarik kepala bagian belakang Liao, mendekatkan wajah mereka hingga dahi keduanya saling bersentuhan.

"Apapun yang akan kau katakan, berapa banyakpun takdir berbeda yang kita miliki, aku tidak peduli. Karena kau milikku, dan tetap akan seperti itu." Setelahnya Zean mengecup sekilas bibir Liao.

Pria itu sadar, jika hubungannya dengan Liao akan memunculkan banyak sekali pertentangan. Bahkan kedua orang tuanya pun, Zean sangat yakin tidak akan setuju. Apalagi, jika mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Menghela nafas panjang, Zean melanjutkan ciuman itu menjadi semakin dalam. Bukan karena nafsu, namun untuk mengalihkan rasa sesak di dadanya yang tiba-tiba muncul. Muncul saat kepalanya mengingat kejadian malam itu.

Berapa lama lagi aku harus diam dan menutup kedua mata serta telingaku? Kenapa takdir ini begitu memilukan?.

* * * *

Levia memandang takut pada sosok Rean yang ada di depannya. Tidak benar-benar di depan, karena jarak keduanya terhalangi oleh sebuah meja kayu berbentuk persegi.

Kali ini, di kamar Rean. Hanya ada dirinya dan pemilik kamar saja, tanpa ada satupun dayang milik Rean yang diperbolehkan berada di dalam ruangan. Jika biasanya, Levina akan terlihat baik-baik saja, maka berbeda ceritanya setelah ia tahu apa yang terjadi semalam. Begitu mengerikan, bahkan matanya sulit terpejam karena takut akan bermimpi buruk.

Situasi yang begitu merugikan untuk Levina, telah berlangsung begitu lama. Mungkin sekitar setengah jam, kedua perempuan itu berada di ruangan yang sama tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut masing-masing.

"Beruntung, Verno mengakui kau adalah miliknya." Rean menghela nafas panjang. Ia masih membersihkan sisa-sisa noda yang berada di bagian genggaman pedang pemberian Liao itu. Begitu hati-hati dan teliti. Jika Rean melihat dirinya sendiri tengah melakukan ini, maka ia pasti mengira, jika dirinya sendiri tengah kerasukan oleh Liao.

Berlebihan, namun memang seperti itu.

"Kalau saja tidak, aku akan senang hati untuk melakukan hal yang sama padamu. Seperti yang dialami orang-orang yang kau lihat semalam." Wajah Levina memucat. Dirinya ingat betul jika Rean bukan tipe orang yang seperti itu. Menjadi pembunuh yang dengan sadis menghabisi targetnya.

Tidak, Rean tidak seperti itu. Perempuan yang menjadi adik penerus tahta ini memang tidak suka dengan aturan yang mengikatnya, namun tidak sampai menjadi pembunuh.

Yah, tidak setelah Rean kembali dari pelariannya di hutan.

Dan satu nama, yakni Liao yang terlintas di benak Levina. Karena hanya perempuan itu yang ia dengar, begitu dekat dengan Rean. Namun yang menjadi pertanyaannya, sejak kapan Rean menjadi pembunuh?.

"Kau harus tahu, Levina. Wajah takutmu itu justru membuatku ingin segera menghabisimu," Rean mengalihkan pandangannya ke arah Levina. Setelah meletakkan pedangnya itu tentunya. "Namun kau harus berterima kasih pada Liao..." Dahi Levina menyerngit di saat Rean memilih menyeringai sebelum melanjutkan ucapannya yang membuat Levina membelakkan mata.

"...adalah kakakmu."

"I-itu tidak mungkin. A-ku...kakak-ku sudah..." Levina kehilangan kata-kata lagi. Tidak pernah dirinya mendengar jika Kakaknya yang dulu menghilang masih hidup. Kedua orang tuanya benar-benar tidak pernah mengatakan apapun lagi tentang Kakaknya, selain mengatakan jika ia tinggal sendirian.

"Itu terserah dirimu, mau mempercayai ucapanku atau tidak. Kau pikir saja, kenapa Liao menahan Verno yang akan membawamu pergi sejak Liao datang ke sini?" Rean segera bangkit dari kursinya. Ia menatap Levina dengan tatapan yang sulit Levina artikan.

"Kau bebas memilih, begitupun aku yang memilih menjadi tangan Liao." Ujarnya lalu berjalan meninggalkan Levina yang terlihat mulai meneteskan air matanya.

Jika benar Liao adalah Kakak kandungnya, lalu kenapa selama ini Liao tidak pernah mengatakan padanya secara langsung? Atau setidaknya menunjukkan perilaku seorang Kakak padanya. Bukan menjadikan Levina seperti orang asing.

Levina menghela nafas panjang. Ia meyakinkan diri jika Liao memiliki alasan. Bahkan keberadaannya di Istana tidaklah baik. Banyak pihak yang membenci kehadiran Liao di Istana ini.

Next Chapter is Loading...

Sekadar memberitahu, kalau bab selanjutnya akan masuk ke konflik. Konflik pemanasan sebelum puncaknya.

Btw, makasih buat yang setia baca cerita ini. Love-love dari Fia ♡♡.

Rabu, 6 Maret 2019

Ja, mata ^^

Sword [THE END]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang