"Ini untukmu," Rean segera menerima pedang yang diulurkan padanya. Pedang yang memiliki warna merah dan kuning, serta ukiran pheonix yang begitu indah. Tidak dapat dipungkiri, jika Rean benar-benar senang akan pemberian Liao ini. "Namanya Nix."
"Nix?" Tanya Rean memastikan. Ia tidak menyangka jika Liao sudah memberikan pedangnya. Padahal, ia akan mencari nama sendiri untuk pedangnya ini. Mendapat pertanyaan seperti itu, Liao sendiri langsung menaikkan sebelah alisnya. Seolah mengatakan jika apa yang ia ucapkan tadi tidak perlu dipertanyakan.
"Ya, Nix. Pheonix, Nix. Apa ada yang salah?" Rean menggeleng. Ia kembali menatap pedang di tangannya yang berkilau karena paparan sinar matahari, meski masih tertutupi oleh kabut tipis.
Ah, ingatkan dia jika kebahagian Rean bukan hanya karena pedang yang Liao berikan padanya pagi ini. Melainkan juga cahaya yang Elcar dapat dari sinar matahari. Sinar yang baru dilihatnya kali ini sejak ia terlahir ke dunia.
"Goreskan jarimu pada pedang itu."
"Tapi, nanti aku terluka." Liao mendengus pelan. Tanpa bicara, Liao menarik jari Rean dan menggoreskannya pada pedang itu. Sehingga terdapat beberapa tetes darah yang tertinggal di pedang itu. Hanya sesaat, sebelum darah itu menghilang entah ke mana.
"Dia sudah menerimamu sebagai pemiliknya. Ingat, tidak ada siapapun yang bisa menggunakan pedang ini kecuali kau dan aku." Rean mengangguk patuh. Ia membiarkan dua dayangnya membersihkan luka di jari telunjuknya.
Wajah dua dayang itu terlihat cukup kesal atau sebenarnya benar-benar kesal kepada Liao. Mereka terlihat jelas ingin berteriak di depan wajah Liao atau menyuruh penjaga untuk memenjarakan perempaun itu. Namun, itu semua hanyalah keinginan mereka dalam hati saja. Karena kenyataannya, mereka tidak berani untuk melakukan hal itu.
"Kupikir, hanya pedangmu saja yang harus diberi darah." Liao bersandar pada dinding di dekat jendela.
"Memang. Pedang itupun termasuk milikku. Dan semua pedangku sangat haus pada darah," Liao menolehkan kepalanya ke arah jendela. Dari sini, ia bisa melihat para prajurit yang tengah berjaga. Juga beberapa dari mereka yang terlihat terburu-buru, mencari seseorang.
Meski sekarang Elcar mendapatkan kembali cahaya matahari yang telah lama terhalang oleh kabut tebal, tapi Raja mereka justru terbaring lemah. Karena keracunan. Entah siapa yang melakukannya, karena banyak orang di istana yang mengaitkan kejadian buruk di Elcar dengan Liao. Padahal, mereka tidak tahu jika Liao sudah sangat lama berada di Elcar. Meski berada di bagian hutannya, jauh dari penduduk desa ataupun Istana.
Rean tidak bertanya lagi, hal yang cukup menguntungkan bagi Liao, karena ia bisa lebih fokus pada prajurit-prajurit yang terlihat cukup panik. Liao ingin mendengar percakapan mereka, namun sayangnya, jendela di kamar ini tengah ditutup rapat. Dan jika Liao membukanya, ia sangat yakin para dayang akan mencegahnya.
"Simpan baik-baik pedang itu. Aku akan kembali ke kamar." Rean mengangguk. Perempuan itu masih mengamati pedang barunya itu.
Liao segera ke luar dari kamar Rean dengan langkah lebarnya. Ia memiliki firasat jika apa yang para prajurit itu cemaskan, cukup penting. Liao terus berjalan, mengabaikan para prajurit yang melihat ke arahnya sebentar sebelum kembali berjalan. Tidak perlu bertanya pada prajurit yang jelas-jelas tidak menyukai keberadaannya. Ia memiliki seseorang yang akan memberitahunya tentang apa yang sedang terjadi saat ini.
Ya, satu orang yang berada di dalam Istana. Dan satu-satunya orang yang mungkin, bisa Liao percaya di Istana ini. Ya, mungkin. Mengingat siapa orang itu sebenarnya.
"Beritahu aku semuanya." Orang itu berbalik. Raut wajahnya yang tenang, berubah cepat. Kini senyuman miring terukir di wajah orang itu.
* * * *
"Pangeran, terjadi penyerangan di pusat kota." Zean yang awalnya tengah berdiri menatap langit, langsung berbalik. Sejak pagi tadi, ia tidak bisa menemukan sosok Liao di sampingnya. Bahkan sejak malam pun, ia tidak dapat menemukan perempuan itu dimana pun.
Ia tidak mengerti, bagaimana bisa Liao yang seorang perempuan, dapat keluar dari Istana dengan mudah. Padahal, penjagaan pada malam hari sudah cukup ketat.
Zean menghela nafas panjang. Ia tidak bisa terlihat gundah hanya karena Liao tidak ada di sampingnya. Saat ini, Ayahnya tengah terbaring lemas karena pengaruh racun yang entah dari mana asalnya. Ataupun siapa yang memberikannya. Karenanya, Kerajaan menjadi tanggung jawabnya sekarang. Apapun yang terjadi, ia harus menanganinya sendiri.
"Siapkan beberapa prajurit, kita akan ke sana sekarang."
"Apakah, kita akan pergi bersama Tuan Verno?" Tanya prajurit itu lagi. Zean terdiam. Sudah beberapa hari ia tidak menemui Verno lagi.
"Tidak perlu. Dia baru saja pulang dari benteng Timur." Ujar Zean. Pria itu mengambil pedang berwarna perak, lalu berjalan ke luar dari kamarnya. Berjalan dengan langkah tegap, diikuti oleh beberapa prajurit yang memang datang untuk melapor.
Dalam perjalanan menuju gerbang Istana, Zean menemukan Levia yang berjalan seorang diri, ke arah berlawanan dengannya. Setahunya, Levia adalah satu-satunya pelayan Rean yang mau menjadi pelayan Liao. Namun, keinginan Zean kembali ditahan. Karena keadaan di pusat kota lebih penting dari hal ini.
Di sana, sudah berdiri seekor kuda berwarna putih yang begitu gagah. Itu adalah kuda milik Zean, kuda yang selalu menemaninya sejak kecil. Tanpa berkata apapun, pria yang menjadi pangeran di Elcar itu segera menaiki kudanya.
Beberapa prajurit, juga menaiki kudanya masing-masing, berada di belakang Zean. Meski jarak Istana ke pusat kota tidak terlalu jauh, namun mereka dikejar oleh waktu. Jangan sampai, mereka terlambat menyelamatkan rakyat yang ada di sana.
Sebenarnya, bukan kali pertama Zean menghentikan para pemberontak seperti ini. Namun, tetap saja berbeda dengan saat ini. Karena saat itu, ia ditemani Raja Xen ataupun Verno. Sehingga ada rasa sedikit takut dalam diri pangeran dengan aura dingin itu. Ia takut, jika ia gagal melakukannya tugasnya.
Tetaplah fokus. Setelah semuanya selesai, aku akan mencarinya. Batin Zean.
Tanpa terasa, kini mereka telah sampai. Pusat kota yang awalnya terlihat begitu rapi, kini sangat berantakan. Beberapa tenda, tempat untuk berjualan, tergeletak begitu saja di atas tanah. Bukan hanya itu. Mata Zean pun menemukan beberapa orang yang tergeletak berlumuran darah.
"Wah-wah-wah...kupikir, boneka singa itu yang akan datang. Rupanya, seekor anak kucing yang kemari." Tawa menggelegar langsung terdengar setelah kalimat itu diucapkan.
"Hentikan kegiatanmu dan anak buahmu ini, Tuan." Ujar Zean masih berusaha tenang.
"Menghentikannya? Jika aku tidak mau, kau mau apa?"
"Maka tidak ada ampun lagi bagimu."
Lalala yeyeye lalalala yeyeye
Bau-bau konflik utama udah mulai kecium nih :) itu artinyaaa...cepet selesai deh :')
So, ane gak bakalan ngulur terlalu panjang ceritanya. Sebisa mungkin, ane bakalan samain isi cerita ini sama alur yang pernah ane buat sekitar 3 tahun yang lalu. Walaupun pastinya, jalan ceritanya lebih diperjelas lagi.
Wkwkwk...ane waktu itu buat nggak di Wattpad, jadi bakalan kagak ada yang tahu kecuali sahabat2 ane aja.
Next Chapter is Loading.
Love-love :*♡
Sabtu, 09 Februari 2019
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasyKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)