Dua puluh Lima

30 3 0
                                        

Uhukk...uhukk...

Xen menekan pelan dadanya yang terasa sakit. Hari ini dirinya masih dalam proses pemulihan, sehingga tugas Kerajaan diberikan pada anak pertamanya yakni Zean.

Pria itu perlahan menatap ke arah luar jendela, yang memperlihatkan jika langit semakin cerah. Menunjukkan jika kabut yang menyelimuti Elcar semakin menghilang. Entah hal yang menggembirakan atau tidak, mengingat ia sudah mendengar kabar jika salah satu benteng kembali di serang.

Dirinya memang tidak tahu secara rinci tentang kejadian tahu. Tentang kabar inipun, ia mendengarnya sekilas dari Ratu Izuna, istrinya saat mengobrol dengan Zean. Mencuri dengar lebih tepatnya.

"Ayah..." Xen langsung menoleh ke arah Rean yang baru masuk ke kamarnya. Ah, anak perempuannya. Selama tidak bisa melakukan apapun, Xen merasa bersalah pada anak bungsunya ini. Apalagi ketika ia dengan teganya tidak mempercayai ucapan putrinya.

"Bagaimana keadaanmu, Ayah?" Xen tersenyum lembut.

"Sudah lebih baik daripada sebelumnya." Rean terdiam beberapa saat. Memperhatikan raut wajah Xen, Ayahnya dengan begitu lekat.

"Masih terasa sakit rupanya," Rean menghela nafas panjang setelah mengucapkan hal itu. Segera, dirinya mengambil duduk di sebelah Xen lalu menggenggam tangan Ayahnya itu. "Jangan terlalu banyak berpikir yang lain, pikirkan saja kesehatanmu, Ayah."

"Kau begitu perhatian. Maafkan Ayah atas perbuatan Ayah selama ini." Rean tersenyum.

"Tidak apa. Aku sudah memaafkan Ayah sejak mengizinkan Liao tinggal di sini, dan membiarkanku berlatih senjata." Mendengar hal itu, Xen tersenyum tipis. Kali ini, tidak ada salahnya jika mengizinkan putrinya untuk berlatih menggunakan senjata. Setidaknya, Rean bisa menjaga diri disaat situasi yang mencekam seperti beberapa hari ini.

"Banyaklah istirahatlah. Biarkan tugas Kerajaan dilaksanakan oleh Zean, agar dia tidak terus diam seperti patung lagi." Xen terkekeh mendengarnya. Sudah bukan hal yang aneh lagi, jika Rean tidak menyukai Zean karena sifatnya yang mirip sekali dengan patung.

"Jangan seperti itu. Bagaimanapun, Zean adalah kakakmu satu-satunya." Rean hanya diam. Tidak bicara, bergumam, ataupun mengangguk. Perempuan itu hanya menatap Xen dengan begitu lekat. Membuat Xen sedikit heran dengan perilaku putrinya ini.

Tok tok tok

"Tuan, Penasehat Kerajaan ingin bertemu dengan Anda." Ujar salah satu penjaga yang ada di depan kamarnya.

"Biarkan dia masuk." Penjaga atau prajurit itu mengangguk patuh. Ia kembali ke luar kamar Xen, dan tak lama datanglah Rofulus dengan wajahnya yang...kesal? Entahlah. Xen hanya mengira seperti itu.

"Hormat pada yang mulia Raja Xen, dan Putri Rean." Ujar Rofulus memberi hormat. Sebentar, sebelum kembali berdiri tegak.

"Yang Mulia, maaf sebelumnya jika saya tidak sopan. Namun Yang Mulia, saya meminta keadilan dari Anda." Ujar Rofulus. Pria itu tampak menahan amarah dalam ucapannya. Namun, Xen yang tidak tahu apapun menyerngitkan dahinya.

"Maaf Rofulus, namun aku sama sekali tidak mengerti maksudmu." Ujar Xen berterus terang. Hal itu membuat Rofulus menampilkan raut terkejutnya, sebelum kembali berhasil mengembalikan raut wajahnya. Kembali menjadi datar.

"Ah, maafkan saya. Saya lupa jika Anda digantikan sementara oleh Pangeran Zean." Ujar Rofulus. Pria itu membungkuk sebentar.

"Tak apa. Bisa kau beritahu aku, apa yang sebenarnya terjadi?"

Menghela nafas panjang. Rofulus mau tidak mau harus menjelaskannya sendiri.

"Sebenarnya, semalam kediaman saya diserang. Memang, tidak ada satupun benda berharga yang diambil olehnya." Ujar Rofulus. Kali ini, pandangannya terarah pada Rean yang juga menatapnya. Dengan tatapan seperti meremehkan.

"Lalu? Apa masalahnya?" Tanya Xen bingung.

"Seluruh keluarga saya, termasuk penjaga dan pelayan mati mengenaskan, Yang Mulia. Kali ini tidak ada bukti jika salah satu orang di rumah itu yang melakukannya. Saya yakin, ada yang menyerang dari luar," Rofulus kembali melirik ke arah Rean. Namun perempuan itu masih menatapnya dengan tatapan yang sama. "Saya ingin, agar pembunuh itu cepat ditangkap. Saya benar-benar akan mengutuk orang yang telah menghancurkan keluarga saya." Ujar Rofulus menggebu.

Tanpa kedua orang itu sadari, Rean menarik salah satu sudut bibirnya. Menatap Rofulus dengan tatapan yang tidak pernah ditampilkan sebelumnya.

* * * *

"Kau tidak bisa kemanapun?" Tanya Rean yang dijawab anggukkan. Mengetahui hal itu, Rean mendesah pelan. Sebenarnya ia menyukai hal ini, namun akan lebih menyenangkan jika dirinya bisa bersama-sama melakukan kesenangan ini. Yah, meski terkadang Verno selalu tiba-tiba datang tanpa dapat diduga. Namun pria itu tidak dapat diandalkan.

Lagipula, Verno tengah melaksanakan tugas dari Kakakknya untuk mengatasi pemberontakan kedua di benteng lain.

"Pergilah. Kau hanya akan dicurigai jika terlalu lama di sini. Lakukan sesukamu, namun jangan sampai ada suara sedikitpun. Jangan ketahuan." Mendengat hal itu, Rean terkekeh. Ia baru saja mengantongi sebuah belati dalam kantong kecil.

"Tenang saja. Tapi hey, sejak kapan dirimu menjadi begitu menyebalkan seperti ini, Liao?" Tanya Rean, tanpa menghilangkan raut wajahnya yang terlihat geli dan bingung. Mendengar hal itu, Liao hanya diam. Memilih bungkam dan menatap ke arah langit.

"Oh, ayolah. Aku hanya bercanda," Rean segera menutup kepala hingga wajahnya dengan kain yang berwarna hitam. "Aku akan pergi. Kau ingin meminta salah satu dari tubuhnya?"

Liao melirik tajam ke arah Rean. Melihat hal itu, Rean tersenyum lebar di balik kain penutup itu. "Tenanglah, aku hanya bercanda."

"Gunakan ramuan yang kuberi. Berikan pada Ayahnya." Ujar Liao, menghentikan langkah Rean. Tanpa berkata apapun, Rean melanjutkan langkahnya, meninggalkan Liao. Sehingga kini, Liao kembali terdiam sendiri.

Tidak, ia tidak benar-benar sendiri. Di atas tempat tidur, Zean tengah berbaring dengan mata yang terpejam erat. Pria itu terlelap setelah meminum ramuan dari Liao. Ramuan yang selalu diberikannya hampir setiap malam, agar Zean tidak mendapati dirinya ataupun Rean yang akan keluar Istana pada larut malam.

Liao menghela nafas panjang. Sebentar lagi, ia dan Zean akan menemukan jalan takdir yang berbeda. Dan, itu akan terasa menyakitkan.

Liao menghela nafasnya dengan panjang. Ia perlahan berjalan mendekati Zean yang masih terlelap. Benar-benar terlelap. Seperti biasa, ia segera tidur di samping pria itu, dan menyimpan tangan Zean di pinggangnya. Hal yang akan selalu Zean lakukan ketika tertidur bersama Liao.

"Maafkan atas semua kebohongan dan pengkhianatanku." Bisik Liao tepat di depan wajah Zean. Ia mengecup dengan lembut bibir Zean. Hanya sebentar, sebelum memilih ikut terlelap ke alam mimpi.

Takdir mereka berbeda

Next Chapter is Loading...

Yeeeeay...ceritanya udah mau selesai nih.

Btw, ane udah ada planning buat triology cerita ini. Ya, semacam itulah. Cerita tentang Rean sendiri sama Verno-Levina.

Kira-kira...kalian nunggunya yang mana nih? Plis komen ya?

Silahkan tinggalkan jejak ^^ (tumben nyuruh -,-).

Jum'at, 8 Maret 2019

Ja, mata ♡

Sword [THE END]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang