5 years later....
"Tampaknya, ada seseorang dalam bahaya." Kepala Liao terangkat untuk menatap Verno yang masih terlihat santai. Tidak menemukan petunjuk apapun mengenai ucapan Verno barusan, kepala Liao menoleh ke arah jalan setapak di hutan ini. Tepatnya, berada di bawah tempatnya berada. Benar saja, satu rombongan orang bangsawan tengah dikepung oleh sepuluh orang berpakaian serba hitam. Dilihat dari jumlah pengawal rombongan itu, tentunya sangatlah tidak adil. Namun yang membuatnya bingung, mengapa rombongan itu membawa sedikit pengawal ke markas para bandit? Seperti menggali kuburan sendiri.
"Haruskah aku turun? Sudah lama tidak memainkan pedang ini," ujar Liao sembari menatap pedang berukiran bunga mawar biru miliknya. Mendengar hal itu, kepala Verno terangkat. Ia menatap Liao dan rombongan itu bergantian.
"Dari yang kulihat, rombongan itu berasal dari Istana. Mereka pasti membawa Putri Rean," Verno memindahkan pedang yang ada di pangkuannya ke atas tanah yang ada di sebelahnya, "kau bisa berlagak seperti pahlawan dan menyelesaikan urusan balas dendammu dengan mudah. Kau punya banyak akses," ujar Verno.
Liao terkekeh pelan. Siapa sangka, pria yang setahunya begitu dekat debgan putra mahkota alias Pangeran ini, memiliki pemikiran yang sangat-sangat licik. Benar-benar tidak terduga.
"Tapi ucapanmu memang ada benarnya. Sepertinya, aku akan mencobanya, mungkin?" Liao menatap ke arah bawah. Ia memperhatikan para bandit yang mulai menjarah para rombongan Putri Rean tanpa perlawanan yang berarti. Tampaknya, para prajurit Istana itu memiliki mental lemah. Mereka terlihat ketakutan saat para bandit mengancam mereka. Bahkan, para prajurit itu mengabaikan teriakkan perintah dari Putri Rean.
Menyunggingkan senyum tipis, Liao mulai berjalan menuju ke arah mereka. Tentunya, setelah ia menutupi wajahnya agar para bandit maupun para prajurit itu. Ia malas memiliki urusan banyak dengan orang lain. Meski sepertinya, ia tengah masuk ke dalam masalah yang selalu ia hindari. Baiklah, bersenang-senang sedikit tidak akan masalah.
Menyadari kehadiran seseorang, para bandit maupun prajurit langsung menoleh ke arahnya. Tatapan bingung serta takut terlihat jelas di wajah mereka. Namun Liao tetap tidak peduli.
"Apa tujuanmu kemari, nona?" Pertanyaan dari salah satu bandit membuat para prajurit itu membelakkan mata tidak percaya. Tidak ada jawaban dari mulut Liao, membuat mereka semakin kebingungan.
"Hei--" belum sempat salah satu bandit itu melanjutkan kalimatnya, Liao lebih dulu melayangkan pedangnya pada para bandit. Meskipun mereka terkejut, mereka tetap melawan serangan Liao yang bertubi-tubi. Meskipun Liao hanya seorang diri, namun tampaknya mereka kewalahan. Hal itu dimanfaatkan oleh para Prajurit untuk segera melarikan diri. Melupakan seseorang yang harusnya mereka lindungi. Putri Rean mereka tinggalkan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya ketua Bandit itu. Liao melirik ke arah Putri Rean yang masih bertahan di tempatnya sebelum kembali menatap lawannya dengan seringaian.
"Malaikat mautmu."
Crassh...
Dalam sekali ayunan, setengah anggota bandit itu terjatuh tidak bernyawa dengan kepala yang telah terpisah. Putri Rean sendiri tidak dapat menahan jeritannya ketika salah satu kepala menggelinding ke arahnya.
"Pergi, atau seperti mereka?"
Para bandit yang tersisa langsung berlari terbirit-birit. Tentunya mereka masih sayang nyawa. Perempuan di depannya sangat berbahaya, dan mereka tidak sebanding untuk menjadi lawannya.
Kepala Liao menoleh ke arah Rean yang memang sedari tadi memperhatikannya. "Kau anak bangsawan?" tanya Liao. Rean menggerakkan kepalanya seolah ragu.
"A-aku..., Putri," jawab Rean dengan kepala menunduk. Liao yang mendengarnya langsung menyeringai meski Rean sama sekali tidak dapat memperhatikannya.
"Baiklah, sebaiknya aku mengantarmu ke Istana se--"
"Jangan," potong Rean. Liao menaikkan sebelah alisnya. Ia harus mengikuti keinginan Rean agar rencananya berhasil.
"A-aku, saat ini tidak ingin berada di Istana. Bisakah, aku ikut denganmu saja?" tanya Rean ragu.
"Kau yakin? Aku tidak tinggal di tempat yang mewah. Ti--"
"Tidak apa. Aku akan baik-baik saja," ujar Rean dengan tegas. Mendengar hal itu, seringaian Liao semakin lebar. Perlahan, ia melepas penutup wajahnya. Memperlihatkan wajahnya yang mampu membuat Rean terkejut.
"...namaku Liao. Itu yang harus kau tahu." Rean mengangguk layaknya orang bodoh. Ia benar-benar terpesona dengan kecantikan yang Liao miliki.
"Permainan baru di mulai," batin Liao.
"Apakah dia, yang Kakak maksud?" tanya Rean dalam hati.
* * * * The End * * * *
Btw, ini udah end loh. Beneran end, jadi gak masalah kalau tanda lengkap dicentang.
Selanjutnya, Fia bakal bikin Extra Chapter buat Liao dan Zean moment-nya. Udah lama, kan mereka kagak muncul berdua lagi.
Jangan lupa tetep vote, komen, dan share cerita ini, ya?
Love love
September 6, 2019
Fialesflo
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasyKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)