Trangg...
Trangg...
Trangg...
"Hhh...hhh...." Verno mengatupkan bibirnya rapat. Ia tidak menduga jika Liao telah ahli dalam memainkan pedangnya. Rasanya, pedang itu benar-benar menginginkan dirinya terluka.
"Bisakah kita beristirahat?" Liao menganggukkan kepalanya. Setelah itu, keduanya segera berjalan menuju tempat yang teduh.
Rasa penasan Verno lebih terpusat pada pedang yang digunakan Liao. Namun, ketika dirinya akan mencoba menyentuh pedang itu, Liao terlebih dahulu memindahkan pedangnya ke sisi yang tak dapat Verno jangkau.
"Ini benda kesayanganku. Dan kau..., aku tidak mengizinkanmu untuk menyentuhnya." Verno mencibir pelan. Ia benar-benar tidak menduga jika sifat Liao yang tenang berubah.
"Aku hanya penasaran saja." Liao hanya mengedikkan bahunya. Ia tidak mempedulikan rasa penasaran Verno. Yang terpenting, pedangnya tidak disentuh oleh orang lain. Pedang ini sangat berharga bagi Liao.
Keduanya menjadi bungkam. Membuat keadaan di bukit itu menjadi hening. Semilir angin bergerak mengiringi dua manusia yang tengah sibuk dengan pemikiran masing-masing. Hingga, helaan nafas kasar keluar dari mulut Verno.
"Kau tahu? Sejak pembicaraan kita yang terakhir, aku harus mencari berbagai cara agar Zean tidak mencarimu," kepala Liao langsung menoleh ke arah Verno. Dahinya menyerngit tipis. "Dia terus saja mencoba mencari dirimu diam-diam. Beruntung, aku selalu dengan mudah menemukan pria itu. Sudah sangat jelas, dia tergila-gila padamu." Kali ini, giliran Liao yang menghela nafas kasar. Jika boleh jujur, ia pun sangat ingin bertemu dengan pria itu. Hanya saja, ini bukanlah saat yang tepat.
"Tapi, kau tidak perlu risau. Zean telah memintaku langsung untuk menjagamu. Karenanya, aku akan membantumu." Ujar Verno. Benar-benar terdengar ambigu.
"Membantuku?" Verno mengangguk. Ia sama sekali belum menoleh ke arah Liao.
"Aku tahu, kau ingin balas dendam, kan?" Liao langsung membuang muka. Ia tidak mengatakan apapun untuk menjawab pertanyaan dari Verno, meski mudah baginya untuk menjawab iya. Tidak, tidak ada seorangpun yang boleh tahu perihal rencananya. Termasuk Verno sekalipun.
Ini adalah urusannya, dan orang lain tidak berhak untuk mencampuri urusannya. Sehingga, Liao memilih untuk tetap bungkam. Tidak terlihat akan menjawab pertanyaan dari Verno.
Lagi, Verno menghela nafas. Ia sudah menduga, Liao takkan menjawabnya. Memang, itu bukanlah urusan Verno. Namun, orang-orang yang membunuh Ayah Liao, adalah orang yang tengah diselidikinya. Zean, pria itu juga dalam masalah.
"Zean. Apakah..., pria itu baik-baik saja?" Kali ini, Verno menoleh ke arah Liao yang tengah menunduk.
"Ya, jika kalian bertemu. Namun untuk saat ini, dia menjadi begitu pendiam. Dia tidak baik-baik saja." Jelas Verno. Liao yang mendengarnya, tidak dapat berkata-kata. Rupanya, bukan hanya dirinya saja yang tidak baik-baik saja.
* * * * * * Fialesflo * * * * * *
Btw, makin ke sini, makin pendek ya? Maafkan daku pemiarsa. Ini demi ide terus mengalir dengan lancar.
Terima kasih para pembaca setia ^^. Jangan lupa klik tombol bintang untuk mendukung cerita ini.
Love-love.
Juni 28, 2019
Fialesflo
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasyKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)