Flashback-3

22 2 0
                                        

Xili bersenandung untuk menghilangkan rasa bosannya. Sesekali, ia melempar kerikil ke arah sungai. Ini sudah hampir dua minggu, dan Zean belum terlihat sama sekali.

'Apa mungkin dia tidak lagi mempedulikanku?' Batin Xili. Ia langsung menggeleng pelan menanggapi pemikirannya sendiri.

"Tidak, Xili. Jangan berfikiran buruk." Gumamnya pelan. Xili menghela nafas panjang, ia menatap ke langit yang tampaknya akan mulai sore.

Dengan setengah hati, Xili beranjak dari duduknya. Ia akan pulang dengan perasaan sedih untuk kesekian kalinya. Namun sekali lagi, Xili berfikir jika Zean pasti sibuk.

"Tentu saja. Pasti keluarga bangsawan akan begitu sibuk." Ujarnya lagi.

"Syukurlah, aku tidak perlu memberitahu hal itu. Kau sudah mengetahuinya sendiri." Kepala Xili langsung menoleh ke arah pria yang tidak lain adalah Verno. Wajah Xili menjadi siaga. Ia benar-benar asing pada pria yang ada di hadapannya.

"Hei, tenanglah. Zean memintaku untuk menjagamu selagi ia dipaksa sibuk oleh Ayahnya." Ujar Verno tenang. Mendengar hal itu, dahi Xili mengerut. Ia tidak mengerti.

"Zean?" Verno mengangguk. Pria itu tidak mendekati Xili, melainkan duduk lalu menatap ke arah aliran sungai.

"Jika Zean tidak menurut, bukan hal yang tidak mungkin jika sesuatu hal yang buruk akan menimpamu. Kusarankan kau untuk pulang saja, dua minggu ke depan pun ia masih di kurung di rumahnya." Jelas Verno. Menghela nafas panjang, Xili memilih untuk menuruti ucapan pria itu. Lagipula, kedua orang tuanya pun pasti akan mengkhawatirkannya.

"Baiklah. Aku akan pulang." Verno menoleh ke arah Xili yang mulai pergi. Setelah benar-benar menghilang dari pandangannya, Verno tersenyum tipis.

"Tidak susah. Menyebalkan." Ujarnya. Padahal tadinya Verno membayangkan ia harus merangkai banyak kata agar Xili tidak membenci Zean. Namun yang terjadi, perempuan itu justru berfikiran begitu baik. Memang membuatnya tidak perlu bekerja, namun justru ini membuatnya kesal

"Sialnya, aku tidak bisa berhenti." Gerutunya lalu ia beranjak dari tempat itu. Pria itu berjalan meninggalkan tempat tadi dirinya duduk. Namun belum juga ia terlalu jauh melangkah, dirinya merasakan kehadiran orang lain. Orang yang ia yakini berasal dari Istana.

Sedangkan orang yang kini menjadi pusat perhatian Verno sama sekali tidak menyadari kehadiran Verno. Hal yang begitu menguntungkan untuk Verno. Orang yang memakai jubah berwarna hitam itu segera pergi setelah cukup lama melihat kepergian Xili. Tanpa disadari orang misterius itu, ia menjatuhkan sebuah benda yang langsung disadari oleh Verno.

Dengan segera, Verno mengambil benda yang ada di atas tanah itu, setelah orang tersebut benar-benar pergi. Dugaannya benar, orang itu adalah bagian dari Istana. Karena benda yang ada di tangan Verno saat ini adalah benda bulat sebagai tanda pengenal seseorang di Istana dari suatu Kerajaan. Namun Verno merasa, orang tadi hanyalah suruhan. Meski orang itu bisa sangat berbahaya.

"Kerajaan yang menyedihkan. Kita lihat, apa yang mereka inginkan sebenarnya." Gumam Verno sebelum memasukkan benda itu ke dalam saku celananya. Verno melangkah pergi dengan cepat. Ia setidaknya harus mengatakan hal ini pada Zean.

Atau mungkin, sebaiknya tidak.

Di lain tempat, keadaan Xilu benar-benar tidak dapat diduga. Rumahnya, rumah kecilnya, bangunan yang terbuat dari gubuk itu dikerumuni banyak orang dengan pakaian prajurit Kerajaan Elcar. Mereka berdiri di sana dengan senjata di tangan masing-masing.

"Ini adalah perintah dari Raja Gio. Sebaiknya, kalian menyerah atau kami seret kalian ke penjara." Ujar salah satu prajurit yang pakaiannya lebih bagus dibanding yang lain.

Xili benar-benar bingung dengan apa yang terjadi di hadapannya. Yang ia tahu, hanya apa yang dilihatnya. Kedua orang tuanya tengah berlutut di depan orang yang bicara tadi, dengan beberapa pedang yang terarah pada kedua orang tuanya. Siapapun yang sekali melihat ini pasti sependapat, jika kedua orang tua Xili itu kebingungan serta ketakutan.

Lagipula, kesalahan apa yang membuat kedua orang tuanya diperlakukan seperti itu? Xili benar-benar tidak mengerti. Xili sangat yakin, jika kedua orang tuanya takkan mungkin berbuat jahat. Ia sangat yakin, dan perasaannya pun, mengatakan hal itu. Justru, ia merasa aneh dengan keberadaan para prajurit itu.

Xili masih bersembunyi di balik pohon. Ia merasa harus tetap berada di tempatnya, untuk mengetahui apa yang akan terjadi dan yang mereka inginkan.

Perdebatan beberapa kali terjadi antara Ayahnya Xili dan pemimpin prajurit itu. Hingga apa yang dilakukan prajurit itu, benar-benar membuat Xili tidak dapat untuk tidak terkejut. Mata Xili terbelalak sempurna, bahkan tangannya menutup mulutnya yang terbuka. Ia terkejut bukan main pada apa yang baru saja dilihatnya.

Baru saja, tepat di depan matanya, pemimpin prajurit itu dengan tenangnya mengayunkan pedang ke arah Ayahnya. Pedang itu bukan hanya melukai Ayahnya, namun juga memenggal kepala Ayahnya.

Xili sekuat tenaga menahan isakannya agar tidak keluar. Ia benar-benar tidak mengerti, kenapa Ayahnya harus dipenggal? Ia sangat-sangat tidak mengerti.

Baru saja ia akan berjalan mendekati mereka, para prajurit itu segera menyeret Ibunya, memasukannya pada kereta kuda. Tanpa menunggu lama, rombongan prajurit dari Istana itu langsung pergi meninggalkan pekarangan rumah gubuk, dengan mayat yang terpisah dari kepalanya.

"A-apa yang sebenarnya terjadi?".


* * * * F i a l e s f l o * * * *

Anyway, takut ada yang bingung. Liao, dulunya dipanggil Xili. Dia masih cewek remaja pada umumnya.

Btw, Cerita pengganti 'Different' itu bagian Rean. Belum bikin, sih, tapi tenang aja lah.

Eh, mampir ke cerita-ku yang lain juga ya ^^.

Fialesflo

Sword [THE END]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang