Aravan menghela nafas panjang. Ia terus memperhatikan dengan seksama, gerakan tangan Liao ketika mengayunkan pedang. Penuh dengan emosi dan ambisi. Meski baru menguasai dasar-dasarnya, gerakan Liao tidak bisa diragukan. Begitu lihai, seolah memang dilahirkan sebagai gadis ahli pedang. Bahkan, Aravan mengakui jika kini, dirinya mulai kewalahan.
"Berhenti." Ucap Aravan tegas. Liao langsung berdiri tegak dengan pedang yang telah diturunkan ke tanah. Deru nafasnya begitu memburu, namun wajah cerianya terlihat jelas. Liao terlihat sangat bahagia.
"Ah, tampaknya aku sudah terlalu tua." Liao terkekeh. Ia segera memegang lengan Aravan. Membantu pria itu untuk duduk di batang pohon yang tumbang.
"Kau sangat berbakat meski seorang gadis. Apakah kau pernah belajar sebelumnya?" Tanya Aravan penasaran. Namun mendapat gelengan dari Liao semakin membuatnya penasaran.
"Lalu?"
"Terkadang, aku memperhatikan ksatria bayaran berlatih di tengah hutan. Saat itu..., aku membayangkan jika aku bisa seperti mereka. Yah, meskipun aku seorang gadis. Tapi..., aku iri dengan gerakan anggun mereka saat bermain pedang. Aku menyukainya." Aravan terdiam. Raut wajah Liao tetaplah ceria saat bercerita.
"Jadi..., apakah kau pernah diam-diam meniru gerakan mereka?" Liao menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu mengangguk.
"Ya..., saat aku sendiri. Aku selalu diam-diam mengikuti gerakkan mereka." Ujar Liao dengan jujur. Kini Aravan tahun, kenapa tangan Liao tidak terlalu kaku saat pertama berlatih. Namun, rasa penasaran itu masih ada. Kali ini, Aravan penasaran dengan emosi dan ambisi Liao yang sangat kuat. Hal yang paling disukai pedang itu.
"Ngomong-ngomong, kenapa Herlix belum datang? Bukankah biasanya ia sudah datang?" Aravan pun sadar. Muridnya itu memang biasanya tepat waktu. Namun kini, pemuda itu entah berada di mana, atau sedang apa. Aravan tidak tahu apa yang menghambat muridnya itu.
"Mungkin dia tengah ada urusan atau bisa jadi, dia tidak akan datang." Ujar Aravan ragu. Liao mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Mungkin." Ujar Liao. Ia menegakkan tubuhnya, menatap ke arah langit yang berhias awan putih. Tekadnya semakin kuat setiap harinya. Bahkan Liao merasa, ia semakin berambisi untuk balas dendam setiap detiknya. Setiap ayunan pedang yang ia lakukan. Seolah-olah, pedang yang ia gunakan kini, sangat mendukungnya.
"Guru," Aravan menoleh ke arah Liao yang tengah memandangi pedang berukiran bunga mawar di tangannya. Memperhatikan dengan sangat lekat. "Kenapa pedang yang kugunakan, memiliki ukiran bunga mawar? Sedangkan milikmu, tidak ada ukiran apapun." Aravan tersenyum.
"Itu karena..., pedang itu begitu mirip denganmu. Cantik, bukan?" Liao mengangguk pelan.
"Memang. Namun, pedang ini benar-benar tipis. Sepertinya..., jika tergores akan benar-benar sakit." Aravan menekan sedikit tangan Liao yang tengah berada di ujung pedang. Membuat pedang itu terkena darah Liao yang mengalir.
"Aww..., ini sangat sa--, tunggu..., ke mana jejak darahnya?" Aravan terkekeh.
"Itulah keajaiban pedang ini. Ini artinya, dia sudah sangat menerima dirimu sebagai tuannya. Tidak akan ada yang bisa memakainya selain dirimu." Dahi Liao mengerut tipis.
"Benarkah? Aku tidak terlalu mengerti." Aravan tersenyum lembut. Diusapnya kepala Liao, seolah gadis itu adalah anaknya sendiri.
"Jika orang lain memakainya, dan berniat melukaimu..., pedang ini akan balik menyerang. Dia hanya setia pada satu orang." Liao terdiam beberapa saat lalu mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Lalu, apakah pedang guru juga sama?" Aravan menggeleng. Ia menggoreskan jarinya ke pedang yang ia gunakan. Seperti pedang pada umumnya, darah itu tidak menghilang.
"Ini benar-benar pedang biasa." Liao mengangguk mengerti. Ditatapnya kembali pedang yang ada di tangannya.
"Namun, pedang itu tahu emosi tuannya. Secara tidak sadar, ia akan mengendalikanmu agar terus melukai atau membunuh orang lain, jika kau tidak bisa mengendalikan emosi." Liao terdiam. Ia benar-benar tidak yakin dengan apa yang gurunya ucapkan. Meski jujur, ia juga takut jika hal itu akan terjadi pada dirinya. Dikendalikan oleh pedang sendiri untuk membunuh.
* * * * Fialesflo * * * *
Next Chapter is Loading
22 Juni 2019
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasíaKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)