Xili menghela nafas panjang. Saat ini, ia hanya bisa duduk terdiam di atas tempatnya tidur selama beberapa hari terakhir. Ini semua karena luka di tubuhnya yang belum juga mengering. Membuat gerakannya benar-benar terbatas, jika ia tidak ingin luka-luka itu kembali terbuka. Karena luka ini juga, Xili menjadi ragu untuk melawan para prajurit itu, demi menemukan Ibunya. Ragu, karena dirinya yang begitu lemah.
'Kepada siapa aku harus belajar menjadi lebih kuat?' Batin Xili.
"Saatnya makan siang, Nona." Kepala Xili terangkat dan mendapati Aravu yang membawa sebuah nampan, dengan mangkuk dan gelas di atasnya.
"Kau tahu, sebenarnya, aku tengah kesal pada Kakakku itu." Ujar Aravu. Setidaknya, Xili tidak terlalu kesepian. Aravu selalu menceritakan apapun padanya di saat menunggu dirinya makan.
"Aku dipaksa olehnya untuk bekerja. Tapi apa? Dia terus mengomeliku karena sibuk bekerja. Hahh..., seharusnya, dia juga bekerja agar mengerti perasaanku." Ujar Aravu lagi. Raut wajahnya benar-benar kesal. Namun cukup menggelikan di mata Xili.
"Ah, iya. Sudah beberapa hari kau berada di sini, Nona. Tapi..., aku belum tahu namamu. Boleh aku tahu siapa namamu?" Tanya Aravu. Kali ini, raut wajahnya menjadi begitu antusias.
"Namaku Xiliao, Paman." Ujar Xili. Aravu mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Kalau begitu, aku akan memanggilmu Liao saja. Itu terdengar menakjubkan." Ujar Aravu. Mendengar hal tersebut, Xili menjadi teringat pada seseorang yang juga memanggilnya Liao. Namun dengan cepat, ia menepis ingatannya itu.
"Terserah Paman saja." Ujar Xili. Setelahnya, Xili kembali bungkam dan membiarkan Aravu bercerita tentang pekerjaannya yang menjadi pembuat pedang. Kebanyakan dari cerita itu, adalah kekesalan Aravu pada pembeli yang terlalu banyak keinginan, namun tidak pernah jadi membeli.
Selesai menghabiskan makan siangnya, Xili kembali berdiam di ruangan itu. Ia benar-benar tidak pernah keluar dari rumah itu. Walaupun sangat ingin, luka pada kedua kakinya tidak bisa diabaikan. Sehingga, ia lagi-lagi sendirian dengan tatapan kosong yang mengarah pada langit biru dari jendela.
"Ibu..., kuharap kau baik-baik saja." Gumam Xili, yang tanpa sadar menitikkan air mata. Ia hanyalah gadis yang harus kehilangan Ayahnya selamanya, tepat di depan matanya. Dan Ibunya, dibawa pergi entah kemana. Ia begitu tidak tahu. Sedangkan dirinya, tidak bisa berbuat apapun dengan luka yang ada di hampir seluruh tubuhnya. Hanya untuk keluar dari rumah ini saja, ia benar-benar kesulitan.
Sringg...
Trang...
Sriingg...
Suara itu berhasil membangunkan Xili dari lamumannya. Dengan segera ia mencari suara yang ada di luar itu lewat jendela. Bahkan, ia menahan ringisannya agar dapat menemukan asal suara tadi.
Hingga akhirnya, ia dapat menemukannya. Tak jauh dari tempat Xili berada, ia dapat menemukan Kakak-nya Aravu tengah bermain pedang dengan seorang pemuda. Mungkin, beberapa tahun di atas Xili.
Dan untuk pertama kalinya, Xili dapat dengan jelas melihat latihan pedang. Juga, menghabiskan sisa harinya tanpa merasakan kesepian atau bosan.
* * * * Fialesflo * * * *
Btw, kalau mau ada yang nanya bakal ada sequel cerita ini, jawaban untuk sekarang adalah enggak.
List cerita yang belum selesai/mau dibuat masih banyak.
Juni 13, 2019 /Kamis
Big love
Fialesflo
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasyKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)