Delapan

69 8 3
                                        

Langit Elcar masihlah mendung oleh kabut yang tampaknya sudah terlalu nyaman menutupi Kerajaan itu. Dan langit itulah yang kini dipandangi oleh Raja Xen. Raja di Kerajaan Elcar. Raja yang sudah berkuasa puluhan tahun itu, kini rambutnya hampir memutih semua. Itu dikarenakan usianya yang tidak lagi muda, serta banyaknya masalah yang harus ia hadapi selama menjadi Raja di Kerajaan ini. Kerajaan yang memiliki arti Cahaya namun tertutupi kabut entah sampai kapan.

"Sepertinya ada yang begitu mengganggu pikiran Anda, Yang mulia Raja." Xen menghela nafas panjang, ia membalikkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan Ratu Izuna. Istri dan permaisurinya.

"Kau selalu tahu apapun, Ratuku." Izuna tersenyum lembut. Dielusnya dengan kasih lengan Xen, seolah mengatakan jika semua akan baik-baik saja.

"Apakah...ini ada kaitannya dengan benteng Timur?" Tanya Izuna. Jujur saja, sejak mendengar penuturan dari Liao kemarin, ia menjadi terus berpikir perihal itu. Meski telinganya belum mendengar kebenaran hal itu hingga saat ini.

Namun gelengan dari Xen membuat Izuna menyerngit bingung. Jika bukan perihal benteng sebelah Timur, lantas perihal apa?. Seolah membaca pikiran Raran, Xen langsung bicara.

"Ini tentang teman Rean." Raran mengerti sekarang, ternyata perempuan itu yang dipikirkan Xen. Xen kembali berbalik, ia menatap ke arah luar. Di mana secara kebetulan, Liao tengah berada di sana. Namun sendiri.

"Anak itu, entah kenapa begitu tidak asing ditelingaku." Xen menghela nafas panjang lagi, entah akan berapa kali ia menghela nafas panjang hanya untuk menenangkan dirinya. Rasanya, dadanya itu bisa sesak setiap waktu tanpa dapat dicegah.

"Mungkin hanya perasaanmu. Istirahatlah, Anda terlihat kurang baik." Xen tersenyum masam. Ia memang merasa kurang baik, namun entah sejak kapan. Dan hal itu bertambah parah saat telinganya mendengar berita yang begitu buruk.

"Ya, tampaknya aku membutuhkan istirahat." Xen segera berlalu, meninggalkan Izuna yang kini menatap ke arah yang dipandang Xen tadi.

Ah, rupanya anak itu. Batin Izuna.

Sedangkan Liao, ia memang sudah merasakan jika sedari tadi ada yang memperhatikannya. Namun tentu saja Liao hiraukan, karena tahu yang melihatnya dari arah Istana. Liao sendiri kini tengah menyiapkan beberapa anak panah setelah memilih busur yang ia rasa benar-benar bagus. Anak panah yang ia pilih pun tidak sembarangan. Jika ada yang sedikit bengkok ataupun tumpul, sudah dipastikan akan langsung Liao buang atau parahnya ia hancurkan.

"Kau di sini rupanya. Kupikir kau sudah pergi meninggalkan Istana." Liao mendengus pelan. Pergi dari Istana saat ini sama saja dengan menyerahkan nyawanya dengan suka rela. Tidak, ia tidak akan gegabah. Karena ada sesuatu yang harus ia urus nanti.

"Tapi...pakaianmu," ah benar. Kini Liao tidak memakai pakaian yang Rean kirim pagi tadi untuknya, pakaian yang seperti malam tadi. Justru ia meminta pakaiannya kembali. Meski pada akhirnya, ia hanya bisa memakai pakaian seperti petani.

"Kenapa tidak memakai gaun dariku?" Liao hanya mengedikkan bahunya acuh. Segera saja ia memisahkan 15 dari 30 anak panah yang ia bawa. Ya, ia takkan membiarkan Rean memakai semuanya. Yang ada, tangan perempuan itu akan terluka.

"Kemarilah. Bukankah kau ingin menjadi muridku?" Rean tersenyum lebar. Tentu saja, ia benar-benar ingin menjadi murid dari Liao. Sosok yang entah kapan mulai ia kagumi. Perempuan yang tidak kenal takut dan selalu memasang wajah tenang di setiap keadaan.

"Kau cobalah." Rean mengerjapkan matanya beberapa kali, ia baru tersadar dari lamunannya.

"Co-ba? Ta-tapi kan aku--"

"Jangan bohong," Liao menatap lekat ke arah Rean. Meski dirinya terlihat tenang, namun ketika ditatap lekat seperti itu, maka akan terasa aura intimidasi dari Liao. Tajam dan menusuk.

Sword [THE END]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang