Ketika aku berfikir, cerita ini cuman punya sedikit bab...rupanya salah.
Masih cukup panjang.
* * * *
"Sssh..." Liao memijat pelan dahinya. Rasa mual dan sakit pada kepalanya, membuat rencananya kali ini terganggu.
Tidak, ini tidak akan menghalanginya.
Menghela nafas panjang, Liao menatap ke arah luar jendela. Sesuai dugaannya, sebentar lagi Elcar akan kembali bersinar. Menghapus kabut yang dianggap kutukan itu selamanya, namun menjadi awal sebuah kengeringan yang tidak diinginkan banyak orang.
Sama sekali tidak akan ada yang mau yang mengalaminya.
Setelah terdiam beberapa saat, pandangan Liao teralih pada tiga pedang yang ia miliki. Tiga pedang dengan kekuatan iblis di dalamnya, pedang yang begitu haus darah. Mengerikan memang, namun Liao tidak akan pernah bisa melepasnya. Karena ia tidak ingin, ketiga pedang itu disalah gunakan.
Cahaya samar rembulan, adalah tanda jika waktu yang dimiliki Liao tidaklah banyak. Hal buruk itu akan terjadi. Ya, Liao memilih menyebutnya buruk.
Tidak ingin berlama-lama terdiam seperti itu, Liao segera berdiri dan mengambil salah satu pedangnya. Setelah itu, langkahnya menuju ke arah pintu. Ia akan keluar dari Istana.
Lagi.
Begitu di luar, Liao meningkatkan kewaspadaannya. Ia melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada yang melihatnya.
Bisa bahaya jika ada yang melihatnya. Bukannya ia takut, tapi akan menjadi masalah besar jika ada yang memperhatikan dirinya keluar dari Istana.
Meski dirinya tenang karena tidak ada satupun prajurit yang berada di lorong, namun hal ini justru membuatnya curiga. Seharusnya, pada malam seperti ini, banyak prajurit yang berjaga di setiap tempat. Apalagi, kematian para bangsawan yang terjadi secara berantai, harusnya diwaspadai oleh para penghuni istana. Selain itu, Raja Xen juga masih dalam kondisi yang tidak baik.
Kecurigaannya terjawab, saat seorang pria sudah berdiri di depannya. Pria yang bukan bagian dari Istana itu, kini memasang seringain ketika melihat wajah lekat Liao.
"Ah, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu, Nona." Dahi Liao mengerut samar. Ia benar-benar tidak pernah melihat siapa pria yang ada di depannya. Di Istana maupun markas para pemberontak.
"Siapa kau?" Tanya Liao. Ia tidak melihat ada ciri, jika pria yang sekarang sedang berjalan mendekat ke arahnya, termasuk ke kelompoknya.
"Sayang sekali, Tuan melarang siapapun untuk menyentuh Anda. Tapi tidak apa-apa, saya menemukan pengganti Anda yang cukup bagus tadi."
"Aku tanya, siapa kau?" Geram Liao. Ia tidak suka jika ada yang mengulur waktu seperti saat ini. Bahkan tangannya sudah bersiap untuk melayangkan pedang ke arah pria di depannya.
"Hahaha...tenanglah, Nona. Aku tidak akan macam-macam pada Anda. Saya hanya ingin menunjukkan hasil temuan pada Anda," pria itu menggerakkan tangannya, memberi tanda pada seseorang yang ada di belakang Liao. "Ini dia, hampir secantik Anda."
Mata Liao terbuka lebar saat melihat siapa yang dimaksud oleh pria di depannya. Ia adalah Levia, salah satu pelayan milik Rean yang juga menjadi satu-satunya yang mau menjadi pelayannya.
"No-nona...to-long..." penampilan Levia sungguh miris. Pakaian serta rambutnya begitu berantakan, ditambah dengan beberapa bercak darah yang ada di pakaian perempuan itu. Juga, terdapat luka memar di sudut bibir Levia. Yang setidaknya, memberitahu sedikit apa yang telah terjadi.
"Apa yang akan kau lakukan padanya?" Tanya Liao, namun pandangannya masih menatap ke arah Levia dengan tatapan matanya yang datar.
"Tentu saja menjadi teman tidurku. Dia seharusnya merasa terhormat karena menggantikan posisi Anda di samping saya." Kali ini, Liao menatap ke arah pria itu lagi. Dari wajahnya saja, sudah dapat ditebak jika usia pria di depannya itu tua. Hampir seusia dengan Raja Xen.
"Tanpa ada yang menggantikanpun, aku tidak sudi bersama denganmu."
"Anda terlalu memuji, nona." Liao mendengus pelan. Padahal, dirinya serius dalam ucapannya tadi. Tidak ingin semakin lama membuang waktu, Liao mengeluarkan pedang yang ada di pinggangnya. Mengarahkannya pada pria di depannya.
"Seharunya tuan-mu itu juga memberitahumu, jika aku benci diganggu."
Srang...
Dan pedang itu berhasil memisahkan kepala serta tubuh pria yang tidak dan tidak akan Liao tahu. Ia bahkan enggan mengetahuinya.
Kini, giliran anak buah si mayat yang ditatap tajam oleh Liao. Terlihat jelas, jika pria itu begitu ketakutan dengan wajahnya yang memucat. Ia tahu, jika nyawanya sudah berada di pedang itu.
Jleb...
Belum juga Liao melayangkan pedangnya, tubuh pria itu langsung ambruk ke arah Liao. Bukan ambruk karena bersujud, namun ambruk dengan darah yang mengalir dari punggungnya.
Levia, yang berada dekat dengan pria itu, menjerit tertahan. Ia benar-benar takut pada pria di sampingnya yang sepertinya sudah mati dengan mengenaskan. Meskipun tidak semengenaskan pria pertama yang telah ditebas lehernya oleh Liao.
Karena hal itu juga, ada tatapan takut yang ditujukan Levia pada Liao. Meski Liao telah menolongnya, namun ia tidak bisa menahan rasa takutnya.
"Ah, beruntungnya aku datang tepat waktu." Liao mendengus kesal saat pria yang entah sejak kapan selalu bertemu disaat-saat yang menyebalkan. Berbeda dengan Levia. Kali ini, Levia tidak dapat menahan rasa terkejutnya saat tahu siapa yang datang.
"Kau justru mengganggu kesenanganku." Ujar Liao dengan tatapan mata yang masih dingin. Tapi, membuat pria itu terkekeh.
"Kau selalu berlebihan. Ah, ada saksi rupanya," pria itu menatap ke arah Levia. Meski di wajahnya terukir senyuman, namun Levia sangat tahu jika pria di hadapannya, tengah menatapnya dengan sangat tajam. "Apa aku harus menyingkirkannya, Nona?"
Levia menatap lagi ke arah Liao. Terbayang bagaimana jadinya jika ia menjadi korban Liao yang selanjutnya. Begitu mengerikan dan merupakan mimpi terburuk Levia.
"Kau yakin bisa melakukannya? Aku meragukan hal itu." Ucapan Liao membuat pria yang masih menatap Levia terkekeh pelan. Hilang sudah tatapan tajamnya yang menusuk itu.
"Kau benar, nona. Aku tidak akan bisa," kali ini pria itu berjongkok di depan Levia. Mengambil salah satu tangan Levia agar mendekat ke arahnya. "Jadi...bagaimana keputusanmu?" Tanya pria itu sebelum mengecup punggung tangan Levia dengan begitu lembut.
"Karena kau tidak sabar, maka aku tidak bisa menolak lagi." Setelahnya, Liao pergi meninggalkan Levia dengan pria itu. Yang kini memasang wajah senangnya.
"Perjanjian diterima. Kau milikku, rosé." Dahi Levia menyerngit. Ia bingung, namun terlalu takut dengan apa yang barusan saja terjadi. Hingga tubuhnya tiba-tiba terangkat dalam gendongan pria itu.
"Je-jendral...a-apa yang Anda lakukan?"
"Tenanglah, my rosé. Aku akan membawamu ke ruanganku." Meski beniat menenangkan, namun kalimat itu justru membuat Levia semakin cemas.
Next Chapter is Loading...
Jum'at, 1 Maret 2019
November - Desember - Januari - Februari - Maret.
Gak nyangka udah 4 bulan kelewat, cuman buat cerita ini. Hadeeeuh...
Ja, mata ^^
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasyKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)