Satu minggu, setelah pertemuan pertama mereka. Pada hari ini, Xili kembali berjalan memasuki hutan. Bukan untuk memetik beri lagi, namun ia ingin pergi ke sungai di sana yang begitu jernih. Di sana selalu ada bebatuan dengan ukiran yang begitu unik, dan Xili berniat mencarinya. Meski sebenarnya, Xili memiliki alasan lain. Yakni, ia ingin bertemu lagi dengan pria bernama Zean itu.
Meski malu mengakui, namun Xili tidak dapat mengelak jika selama satu minggu, ia selalu teringat pada pemuda itu. Bahkan tanpa sadar, dirinya selalu menyunggingkan senyuman tanpa alasan.
"Wah, kupikir kau tidak akan ke tempat ini lagi." Xili melebarkan senyumannya ketika Zean telah ada di hadapannya. Seperti saat itu, Zean terlihat begitu tampan, meski pakaiannya tidak semewah saat itu.
"Aku tidak mungkin ke tempat ini." Ujar Xili pelan, namun masih bisa terdengar oleh Zean. Tanpa bicara lagi, Zean segera menarik tangan Xili dengan lembut. Ia membawa Xili mendekat ke arah sungai jernih yang ada di depan mereka.
"Padahal, aku yang mengira Anda tidak akan ke sini." Zean menoleh lalu kembali tersenyum. Mana mungkin dirinya tidak kembali ke tempat ini. Selain karena menepati janjinya, ia tidak akan bisa melupakan perempuan yang ada di sampingnya ini.
Ia akui, meski baru pertama kali bertemu, namun ia benar-benar merindukan Xili. Terutama senyumannya.
"Aku tidak mungkin mengingkari janjiku sendiri." Ujar Zean dengan tenang. Pemuda itu mengambil duduk di atas batu paling besar, yang begitu dekat dengan aliran sungai. Ia memperhatikan Xili yang tengah mencari sesuatu di tepi sungai yang dangkal.
Meski diabaikan, namun kali ini Zean tidak masalah. Dari apa yang ia amati, Xili tengah mencari batu ukir yang memang selalu ada di sungai ini. Zean merasa begitu senang, ketika Xili menoleh ke arahnya dengan senyuman yang menawan. Setidaknya, tak ada siapapun yang melihat senyuman indah perempuan itu selain dirinya.
"Emm...tuan?"
"Panggil saja Zean. Aku bukan tuanmu." Xili mengangguk pelan, membuat rambutnya yang tidak terikat bergerak.
"Ze-an, apakah kau tidak apa pergi ke sini sendiri? Kamu seperti dari kalangan bangsawan." Zean menghela nafas panjang. Ia mengayunkan tangannya, meminta Xili untuk mendekat. Xili menurut.
"Tidak masalah. Bukankah pernah kukatakan, aku selalu kesepian? Bahkan aku juga sering merasa bosan." Xili kembali manggut-manggut mengerti. Keduanya saling terdiam hingga Zean mengusap kepala Xili dengan begitu lembutnya.
"Kamu benar-benar ingin menemaniku, kan?" Xili mengangguk dengan senyuman yang selalu saja berhasil membuat Zean terpana.
"Tentu saja. Ini sebuah kehormatan bagiku." Ujar Xili tanpa menghilangkan senyumannya.
Kedua orang itu, yang berbeda derajat sosial, selalu melakukan pertemuan di tempat yang sama tanpa ada orang lain yang tahu. Yang awalnya seminggu sekali, terkadang Zean bisa mengunjungi Xili tiga kali dalam seminggu. Ini semua karena rasa rindunya pada gadis itu.
Ia jatuh cinta? Zean akui itu.
Pertemuan mereka, yang awalnya hanya saling mengobrol hal biasa kini perlahan mulai berubah. Jika biasanya, sebelum pergi, Zean mengusap atau mengacak pelan puncak kepala Xili, maka hal itu mulai berubah. Zean dengan berani mencium dahi Xili.
"Jangan pernah untuk bosan melihatku. Kau sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Ingat itu, Liao." Bisik Zean dengan lembut tepat di telinga Xili. Kini, ia memeluk pinggang Xili dengan erat, dengan dahi yang saling menempel, membuat Zean dapat melihat dengan jelas wajah cantik Xili.
"Akan selalu kuingat. Kaupun segalanya bagiku, Zean." Ujar Xili dengan kedua pipi yang telah merona.
Zean mengecup hidung Xili. "Kau selalu terlihat cantik. Kuharap kau tidak akan berpaling pada pria manapun." Xili tersenyum mendengar hal itu.
"Tidak akan. Aku berjanji." Zean membalas senyumannya. Ia mengurai pelukan, lalu mencium kening Xili dengan begitu lembut.
"Kau milikku. Sampai jumpa nanti, Liao." Xili mengangguk. Ia kini tidak lagi keberatan dengan panggilan Zean untuknya. Ia tidak lagi merasa aneh, melainkan merasa jika panggilan itu begitu spesial.
Dengan perasaan yang berbunga-bunga, Xili menatap kepergian Zean. Begitupun dengan Zean. Setelah merasa cukup jauh, akhirnya ia memakai topeng peraknya lalu mengubah raut wajahnya kembali datar.
"Tidak kusangka, kau menyembunyikan seorang gadis manis untuk dirimu sendiri." Zean langsung menolehkan kepalanya ke arah seorang pria yang seumuran dengannya. Pria itu adalah Verno, temannya sejak dua tahun yang lalu.
"Apa maksudmu?" Jujur, mendengar perkataan Verno tadi, membuat Zean cemas. Ia takut, jika Verno akan memberitahu hal ini pada Ayah dan Ibunya. Ia takut akan terjadi sesuatu pada gadisnya itu.
"Hahaha...tenanglah sobat. Aku tidak akan menggaggunya ataupun melaporkannya pada kedua orang tuamu." Verno menepuk pelan bahu Zean dengan senyuman di wajahnya. Namun Zean tidak dapat mengetahui arti sebenarnya dari senyuman Verno itu.
"Mulai besok, kau akan dipaksa sibuk di Istana. Ayahmu mulai curiga dengan kelakuanmu ini. Jadi, kau mau aku melindungi gadismu? Kau pasti sudah tahu jika ada orang yang akan benci tentang kau dan gadis itu." Ucapan Verno membuat Zean terdiam. Sejak pertama bertemu, Verno bukanlah tipe orang yang selalu menghasut. Bahkan pria ini selalu membantunya jika ingin ke tempat ini.
"Dia milikmu, dan selamanya akan seperti itu, Pangeran. Tapi, dia harus ada yang melindungi selain kau. Percayakan padaku." Zean menatap Verno dengan lekat.
"Baiklah. Aku tidak ingin ada siapapun yang melukainya." Verno mengangguk mantap.
"Tugas diterima." Ujar Verno. Sekilas, Zean melihat iris mata Verno berubah menjadi merah namun hanya sekejap. Sehingga Zean memilih mengabaikannya.
"Sebaiknya kita segera kembali. Kau tidak ingin ada siapapun yang tahu tempat beristirahatmu, kan?" Zean mengangguk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasyKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)