"Bagaimana tubuhmu? Sepertinya..., sudah lebih baik dari sebelumnya." Ujar Aravu sembari terus memperhatikan luka-luka yang ada di tubuh Xili. Xili sendiri, menghabiskan minumnya sebelum mengangguk kuat. Tidak lupa dengan senyuman di wajahnya.
"Ya, aku tidak lagi merasakan sakit." Aravu mengangguk mengerti. Ia mengambil mangkuk dan gelas yang telah dipakai oleh Xili.
"Kalau begitu, Liao. Kau mau ikut denganku? Aku akan pergi ke bukit untuk mencari beberapa tanaman." Xili terdiam beberapa saat. Ia sudah terlalu lama berada di dalam kamar, dan tentunya ia benar-benar bosan.
"Iya, aku akan ikut Paman." Jawab Xili. Bahkan Aravu mendengar nada semangat dari ucapan Xili, membuat pria itu menyunggingkan senyumannya.
"Anak manis. Baiklah, sekarang bantu aku dulu di dapur." Xili mengangguk. Ia segera berjalan mengikuti Aravu dengan langkah yang sedikit tertatih. Bukan karena masih merasakan sakit, namun kakinya masih cukup kaku saat digerakkan. Yah, setidaknya, langkah kakinya tidaklah lambat.
Untuk pertama kalinya, ia mengetahui pemandangan di dalam rumah ini, kecuali kamar yang selalu ia tempati tentunya. Aroma kayu begitu kental masuk ke dalam hidungnya. Namun, aroma itu benar-benar menenangkannya.
Setelah membantu Aravu membereskan peralatan memasak, ia dan Aravu segera keluar dari rumah dengan Aravu yang menyampirkan tas selendang di bahunya. Sedangkan Xili, membawa keranjang yang diberikan Aravu.
Bukit yang Aravu tuju, merupakan sebuah ladang tanaman herbal milik Aravu dan kakaknya. Pemandangan pegunungan yang tinggi, serta padang rumput di depan sana, membuat Xili tidak bisa untuk tidak tersenyum. Pemandangan itu terlalu indah, sayang bila diabaikan begitu saja.
"Hahahahaha..., sudah kuduga jika kau akan begitu menyukai tempat ini." Xili tersentak. Wajahnya memerah karena malu, saat sadar jika Aravu memperhatikannya. Melihat tingkah anehnya. Aravu menggerakkan tangannya, mengisyaratkan agar Xili mendekat pada pria itu.
"Bantu aku memetik beberapa tanaman herbal di sini. Setelah selesai, kau bebas menikmati pemandangan di sini." Xili mengangguk.
"Baik, Paman. Aku akan melakukannya." Perkataan Xili, tak elak membuat Aravu tertawa.
"Baiklah-baiklah. Aku biarkan kau memanggilku Paman. Itu bukan panggilan yang buruk. Aku akan masuk ke hutan itu. Kau jangan kemana-mana, oke?" Xili mengangguk patuh. Ia menatap punggung Aravu yang mulai memasuki hutan, lalu ia mulai mengerjakan tugasnya.
Ah, Xili sangat merindukan kegiatan ini. Setelah memakan waktu lama, dirinya hanya bisa berbaring di atas tempat tidur.
Selain mengerjakan tugasnya, untuk memetik beberapa tanaman herbal, dirinya juga mencabuti tanaman liar yang tumbuh disekitar tanaman herbal. Tidak apa jika ia akan lelah atau kotor. Ia terlalu senang untuk saat ini. Bahkan, ia juga menyusun rapi tanaman yang telah dipetiknya.
Sedangkan dari balik salah satu pohon yang berada di hutan, Verno menatap lekat Xili. Senyumannya terukir tipis saat mengetahui keadaan Xili yang baik-baik saja.
"Setidaknya, kau berada di tempat yang aman." Gumannya lalu menghilang dalam hembusan angin.
* * * * Fialesflo * * * *
Niatnya sih, mau up pas viewers 600 sama vote 200. Tapi udahlah ya..., kecepetan up juga gak bakalan dosa, kan?
Rencananya, kalau udah selesai, cerita ini bakalan diedit bagian urutannya doang. Siap-siap aja yang gengs.
Big love from fia.
Fialesflo
Juni 19, 2019/Rabu
Masih merayakan ultahnya Nako
#FairyNakoDay
#NationalDaughterNako
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasyKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)