Flashback-19

9 0 0
                                        

"Arrgh!"

Tubuh Liao tersentak. Ia langsung menoleh ke arah Aravan, di mana pria itu tengah mencengkram lengan kirinya yang terkena tebasan pedang. Genggaman Liao semakin erat. Amarahnya berhasil membangunkan sesuatu hal di pedang yang dipakainya.

"Sudahlah. Jangan membuat kematian kalian menjadi sulit, Liao." Liao menoleh ke arah Herlix dengan tatapan tajamnya. Ia menegakkan tubuhnya dan berjalan mendekati Herlix.

"Kau, bukan yang menciptakanku. Kau tidak berhak mengatur kematianku biadab!" teriak Liao. Ia segera mengayunkan pedangnya pada Herlix dan anak buahnya. Dengan gerakannya yang penuh emosi, Liao berhasil melukai beberapa orang terkecuali Herlix. Hal yang semakin membuat Liao menjadi marah.

"Tidak kusangka, kemampuanmu sangat rendah." Liao menatap tajam ke arah Herlix. Pandangannya benar-benar fokus pada pria itu, sebelum sebuah suara membuatnya membelakkan matanya.

"Aaaaargh!!!"

Tubuh Liao seakan lemas. Tepat di depan matanya, Aravan langsung terbaring di atas tanah dengan sebuah pedang yang menancap sempurna di bagian dada kirinya. Tangan Liao mulai bergetar. Gurunya, pria yang menolongnya.

"Lihat, bahkan pria itu saja tidak dapat menahan waktu kematiannya," ujar Herlix dengan wajah congkaknya. Nafas Liao semakin memburu, ketika darah dari tubuh Aravan terus mengalir tanpa henti. Tanpa menahan diri lagi, Liao segera mengayunkan pedangnya ke arah Herlix.

Trangg...

Suara desisan pedang terdengar jelas, bahkan memekakan telinga. Herlix yang menahan pedang Liao dengan pedangnya, benar-benar mencoba menenangkan diri dari rasa terkejutnya. Namun, pedangnya yang perlahan patah, kembali membuat Herlix terkejut.

"Jika begitu, aku akan menjadi malaikat kematian untukmu," desis Liao dibarengi dengan senyuman miring di wajahnya. Tanpa menunggu lama, Liao melayangkan pedangnya tepat di leher Herlix, namun sesuatu menahan gerakkannya.

"Kendalikan dirimu, Liao." Liao bergerak menjauh sebanyak dua langkah. Nafasnya masih memburu, begitupun dengan amarahnya. Di sebelah Herlix, Verno menghela nafas lega. Setidaknya, ia datang tepat waktu. Meski tidak dapat menyelamatkan pria yang menjadi guru Liao.

"Jangan menghalangiku, Verno. Dia, dia sudah membunuh guruku!" Kepala Verno menoleh ke arah Herlix. Pria itu masih terlihat jelas terkejut.

"Aku tahu. Sekarang, temui gurumu itu. Biar aku yang mengurus pria ini," ujar Verno, kembali membuat Herlix terkejut. Liao menurut meski terpaksa. Ia segera berjalan menghampiri Aravan yang masih hidup.

"Kau, sudah membuat dia marah. Dan kau, dalam masalah besar, tuan muda." Dalam dua kali kedipan mata, kepala Herlix telah terpisah dari badannya. Tidak terlihat, Verno menggerakkan badannya, membuat anak buah Herlix terkejut bukan main. Kepala Verno perlahan menoleh ke arah anak buah Herlix, setelah melirik sekilas keadaan Aravan.

Dalam sekali ayunan pedang, seluruh anak buah Herlix langsung tergeletak tak bernyawa. Menghela nafas pelan, Verno berjalan mendekati Liao. Bahu perempuan itu terlihat bergetar dengan kedua tangan yang memeluk kepala Aravan.

"Kumohon, bangun. Guru, kumohon." Verno segera berjongkok di sebelah Liao. Dengan pelan, diusapnya bahu Liao untuk menenangkan gadis itu.

"Tenangkan dirimu, Liao. Jangan sampai, kau menyesal karena tidak dapat mengontrolnya," bisik Verno. Liao terdiam. Nafasnya perlahan kembali normal.

"Aku..., harus membalas mereka." Mata Verno kembali berubah menjadi merah. Bukan senyuman di wajah Verno, melainkan raut wajah kesal. Ia ingin menyuruh Liao untuk menarik ucapannya. Namun sudah terlambat. Terlambat, ketika bibirnya menyentuh leher putih Liao.

"Keinginanmu, akan dikabulkan."

* * * * * * * *

Yeeeeay update!!!
Ini kesekian kalinya Fia ngaret. Entah karena A atau B. Beda banget pas pertama. Karena pas itu, Fia lagi di kondisi yang stabil (Fia gak bisa jelasin karena nanti malah dikira cari sensasi)

Jangan lupa vote dan komen guys ^^

18 Agustus 2019

Sword [THE END]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang