Tiga Puluh Tiga

36 3 1
                                        

"Ibu?"

Izuna langsung menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya. Matanya yang bengkak karena tidak hentinya menangis itu, kini terbelalak saat melihat penampilan putri bungsunya itu. Segera saja, meski tubuhnya lemas, ia menghampiri Rean dengan mata yang berkaca-kaca.

"Ya, ampun. Apa yang telah terjadi? Kenapa kau bisa sampai seperti ini?" Rean menangkap tubuh Izuna yang hampir saja terjatuh. Ia membantu Ibunya terlebih dahulu untuk duduk di atas tempat tidur.

"Hanya ada pemberontak yang datang menyerang bersama Raja Gio." Meski Rean menjawab dengan tenang, namun Izuna tidak dapat menahan rasa terkejutnya.

"Hanya? Kau bilang hanya?" Izuna menatap Rean dengan teliti. Memperhatikan setiap bagian tubuh Rean, takut ada bagian yang terluka. Namun hasilnya nihil. Tidak ada sama sekali. "Raja Gio bahaya! Ia seperti monster. Lalu...bagaimana sekarang?"

Rean tersenyum. Ia tahu jika Ibunya ini begitu khawatir. "Tenanglah. Aku berhasil menangani mereka. Buktinya, aku masih bisa mengobrol denganmu, Ibu." Izuna terisak. Ia langsung memeluk Rean dengan erat, tidak peduli jika pakaian anaknya itu penuh dengan noda.

"Ibu khawatir. Ibu khawatir akan kehilangan seseorang lagi." Rean mengusap punggung Ibunya itu dengan pelan.

"Aku baik-baik saja. Ibu tenanglah, Rofulus sudah kuhabisi sebelum menangani para pemberontak itu." Ujar Rean berusaha menenangkan Izuna, tanpa tahu jika tubuh Izuna malah menegang.

"Ka-kau apa? Membunuh Rofulus?" Tanya Izuna setelah melepaskan pelukannya itu. Rean mengangguk dengan wajahnya yang masih tenang.

"Dia bersalah karena sudah mencelakai Raja dan membunuh Raja. Jadi, bukan hal buruk jika membunuh pria itu." Jelas Rean dengan tenang. Izuna hanya bisa menghela nafas panjang. Setidaknya kini, putri bungsunya baik-baik saja.

"Ibu tidak mengerti, kapan dan mengapa kamu menjadi seperti ini Rean. Ibu begitu tidak tahu, dan merasa gagal karena tidak mengetahui apapun perihal anak sendiri. Tentang dirimu." Ujar Izuna lirih. Rean menggeleng pelan.

"Tidak, Ibu. Ibu tahu semua hal tentang diriku, termasuk alasan aku menjadi seperti ini. Hanya saja, Ibu tidak menyadarinya." Izuna hanya bisa mengangguk. Ia bahkan membiarkan Rean untuk membantunya berbaring.

"Tenangkan dirimu, Bu. Aku akan menemui Kakak dan Liao. Ibu istirahatlah." Izuna kembali mengangguk. Ia memejamkan matanya setelah Rean menyelimuti tubuhnya.

Rean tersenyum sangat tipis ketika melihat mata Izuna yang terpejam. Bagaimanapun caranya, ia akan menjaga Ibunya itu. Ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama setelah kepergian Ayahnya. Seharusnya. Ya, seharusnya. Rofulus sudah dipenggal kepalanya sebelum perang ini terjadi. Sebelum Rofulus malah menusuk jantung Ayahnya dari belakang. Ya, seharusnya seperti itu.

Mengeratkan kepalan tangannya, Rean menghela nafas panjang perlahan dengan kedua mata yang terpejam. Ia harus tenang. Harus tenang. Kali ini, ia takkan membiarkan siapapun yang mencoba melukai Ratu Izuna, Ibunya, tetap bernafas. Ia akan langsung melenyapkan orang itu.

Setelah merasa lebih tenang, Rean perlahan berjalan keluar dari kamar Ibunya itu. Ia harus segera menemui dua orang itu. Rean tidak khawatir pada keadaan Kakaknya, meski jujur ia takut Kakaknya akan mati. Bukan khawatir, namun ia enggan jika terpaksa menjadi pengganti Ayahnya.

Jika Liao. Rean sangat yakin, hidupnya akan kembali membosankan jika Liao mati. Mungkin, bahkan tidak menutup kemungkinan, ia akan kembali keluar dari Istana. Tentunya bukan atas perintah seperti dulu. Namun ia akan kabur dari Istana.

Menjadi seperti Liao, tampaknya bukan hal yang buruk.

Tok...tok...tok.

Rean mengetuk pintu kamar Zean. Bukan karena ia hanya menebak ataupun karena jarak dari kamar Ibunya dan Zean tidak terlalu jauh, namun ia sangat yakin jika Zean membawa Liao ke kamarnya. Lagipula, itu bukan hal aneh lagi. Ia sudah sering mendengar pembicaraan para dayang perihal Liao yang keluar dari kamar Zean di pagi hari.

Dengan sabar, entah kapan ia memilikinya, Rean menunggu seseorang di dalam sana untuk membuka pintu kamar Zean.

Dan kesabarannya itu membuahkan hasil. Meski pada akhirnya, Rean mendengus pelan.

"Ah, rupanya kau. Kenapa tidak langsung masuk?" Tanya Zean. Matanya sedikit sembab, yang menandakan jika pria itu habis menangis. Di tangan pria itupun terdapat kain yang membelit. Rupanya Zean sudah diobati.

"Dan langsung mendapatkan tatapan tajam serta amarahmu? Tidak terima kasih. Lagipula, aku hanya ingin memastikan Liao mati atau tidak." Rean langsung melangkah masuk, membuat Zean segera menyingkir.

Pria itu menghela nafas panjang. Saat ini tampaknya ia tidak bisa untuk bertanya akan penampilan Rean. Setidaknya, ia tahu jika adiknya itu baik-baik saja.

"Apa dia pingsan?" Zean menggeleng pelan.

"Tidak. Itu karena pengaruh obat saja. Lagipula, Liao harus benar-benar istirahat karena saat ini, ia tengah mengandung." Rean terdiam setelah mendengar ucapan Zean, lalu senyuman terbit di wajahnya.

"Baguslah. Dengan begitu, Liao tidak akan bisa pergi dari sini." Zean tidak menanggapi ucapan Rean. Pria itu berjalan mendekat ke arah Liao, lalu berbaring di sebelah perempuan itu.

"Sebaiknya kau ke kamar untuk membersihkan diri. Penampilanmu begitu buruk." Rean mendengus pelan. Ia tahu jika Zean sebenarnya mengusirnya karena ingin bersama Liao, apalagi sekarang, Liao tengah mengandung anak Kakaknya itu.

Baru saja Rean hendak pergi, Zean kembali bicara.

"Mulai besok, kau akan kutunjuk sebagai pengajar para prajurit. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal aneh dengan kemampuan pedangmu itu." Rean sedikit menoleh ke arah Zean.

"Ya-ya-ya. Setidaknya aku bisa menebas kepala para prajurit itu." Ujar Rean tenang. Namun tampaknya, ucapannya itu membuat tatapan Zean semakin tajam.

"Rean!" Rean berdecak pelan. Kali ini ia benar-benar ingin segera membersihkan tubuhnya yang mulai lengket karena keringat dan noda darah.

"Baiklah. Aku mengerti." Ujar Rean malas. Ia segera berjalan keluar dari kamar Zean. Jika Liao bangun, ia akan menghasut perempuan itu untuk menjauhi Kakaknya.

"Itu tidak akan mungkin. Mereka benar-benar tidak bisa dipisahkan." Gumam Rean menanggapi pemikirannya sendiri.

Menggeleng pelan, Rean mempercepat langkah kakinya. Bau amis mulai tercium tajam dari pakaiannya. Menjijikan.


Next Chapter is Loading...

Btw, sebenernya aku tuh bisa nyelesain satu chapter selama dua hari. Tapi...kok malah seminggu cuman dua chapter yang diupdate?

Maaf. Kalau lagi banyak kuota, banyak godaan. Aku kadang malah nge-tem di youtube mulu sampe habis kuota plus lupa update. Kadang juga, aku lagi males ngetik atau lagi pengen namatin cerita yang kubaca.

Jadi gitu kawan-kawan.

Makasih yang udah mau baca sampai sejauh ini. Entah chapter berikutnya atau dua chapter lagi, ini tamat. Kayaknya chapter 34 tamatnya deh. Iya. Kayaknya gitu.

Seneng bisa tamatin. Tapi tenang, hutang aku masih ada di sini. Jadi jangan hapus lapak ini ya ^^.

4 April 2019

Fialesflo

Sword [THE END]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang