Seperti biasanya, Liao berlatih bersama Verno di atas bukit. Keduanya berlatih hingga senja. Kali ini, bertarung dengan tangan kosong yang mereka lakukan. Di sela pertarungan, Verno mengajarkan banyak teknik. Entahlah, Verno sangat senang saat melatih Liao. Mungkin, karena gadis ini mudah paham saat diajari.
"Pukulanmu sudah lumayan bagus. Sedikit berlatih, kau akan memiliki pukulan yang kuat." Liao mengangguk lalu tersenyum. Mendapat pelajaran hampir setiap harinya dari Verno, benar-benar membuatnya merasa semakin kuat. Memang, mungkin dirinya tidak akan sebanding dengan Verno. Namun setidaknya, ia tidak lagi menjadi gadis lemah, seperti dulu.
"Aku kagum dengan ambisimu yang sangat kuat. Namun, Liao, seseorang bisa saja memanfaatkan dirimu tanpa kau sadari. Bukan saat ini, namun nanti, saat kau sudah benar-benar kuat." Ujar Verno. Liao terdiam beberapa saat. Ia tidak pernah berfikir, jika hal yang Verno ucapkan akan terjadi. Ini semua karena ambisinya untuk menyelamatkan Ibunya. Hanya itu, namun rintangannya tidak mudah juga.
"Aku mengerti." Verno terdiam beberapa saat sembari menatap Liao lekat. Pemuda itu, tanpa mengatakan apapun, langsung menarik tangan Liao.
"Apa yang akan kau lakukan dengan tanganku?" Verno mengangkat kepalanya sebentar lalu menggeleng pelan.
"Setidaknya, aku harus melindungimu dari kemungkinan terburuk. Aku yakin, kau akan mendapat masalah besar nantinya, meski entah kapan itu. Kau sudah kuanggap sebagai saudara." Telapak tangan kanan Verno perlahan bergerak ke atas telapak tangan kiri Liao. Tanpa Liao ketahui, sebuah duri mulai muncul dari telapak tangan Verno.
"Aww." Ringis Liao. Ia ingin menarik tangannya, namun kekuatan Verno tidak main-main.
"Dengan ini, aku akan tahu di mana pun dirimu. Maaf jika sedikit sakit, tapi percayalah, aku tidak ingin kau celaka nantinya." Liao hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menatap lekat darah segar yang ada di tangannya, setelah Verno melepaskan cengkramannya. Tidak banyak memang, malah hanya setetes. Namun karena duri tadi, rasanya benar-benar sakit.
"Apakah..., ini sebuah perjanjian?" Tanya Liao. Verno mengangguk pelan, namun terlihat jelas begitu ragu.
"Sekarang belum berlaku. Namun nanti, aku akan meminta imbalan." Dahi Liao menyerngit. Bukan dirinya yang meminta perjanjian ini, namun Verno tetap meminta imbalan pada dirinya.
"Aku--"
"Nanti. Aku akan memintanya nanti. Tenang saja, aku takkan meminta hal aneh padamu." Liao mendengus pelan. Mau tidak mau, akhirnya ia mengangguk. Ia hanya berharap, Verno benar-benar tidak meminta hal yang aneh. Meski sampai saat ini, Liao tidak tahu siapa Verno sebenarnya. Pria yang benar-benar aneh.
"Sebentar lagi gelap. Kau pulanglah." Ujar Verno yang justru terdengar seperti nada memerintah.
"Sebelum aku kembali, ada sesuatu hal yang ingin kutanyakan padamu." Verno menaikkan sebelah alisnya. Ia rasa, ia tahu apa yang akan gadis di depannya itu tanyakan.
"Sebenarnya, lewat mana kau pulang? Tempat ini sangat jauh dengan sungai yang dulu. Juga, bukankah hutan sangat gelap saat malam tiba?" Verno tersenyum. Dugaannya benar.
"Hutan memang gelap, tapi aku tidak memasukinya."
"Maksudmu?" Tanya Liao dengan dahi menyerngit.
"Kalau kau sangat penasaran, aku akan menunjukkannya." Perlahan, tubuh Verno dikelilingi oleh dedaunan hijau dan kelopak bunga mawar. Dalam sekejap, tubuh pria itu langsung menghilang. Meninggalkan Liao yang sangat terkejut.
"Dia hantu?" Tanya Liao pada diri sendiri. Gadis itu menggeleng pelan lalu memilih untuk segera pergi.
* * * * * * Fialesflo * * * * * *
Baru aja update padahal :)
Maaf kalau lama update.
Jangan lupa tombol bintangnya ya, guys. Komen juga, biar lapak ini makin rame :D
Juli 4, 2019 / Kamis
Love chu,
Fialesflo
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasyKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)