Liao menyandarkan tubuhnya pada batang pohon yang ia naiki dulu untuk sampai di Istana ini. Rencana awalnya hanya untuk membalaskan dendam atas kematian Ayah dan Ibunya kepada Perdana Mentri. Namun siapa sangka, karena Zean, rencananya benar-benar banyak berubah. Selain mengatur rencana untuk menghabisi nyawan Perdana Mentri itu, ia juga harus memainkan peran agar Zean tidak curiga. Dan sayangnya, Verno tidak membantunya sama sekali. Menyebalkan.
"Apa yang kau pikirkan sayang? Dahimu mengerut terlalu dalam." Kepala Liao menoleh ke arah Zean. Pria itu memang selalu tampan dan memang tampan. Liao tersenyum sembari menggeleng pelan.
"Kau tahu, aku memiliki banyak penyesalan hingga saat ini," tangan Zean segera menarik tubuh Liao agar berada di dekapannya, "andai dulu aku berada di sebelahmu saat kematian Ibumu. Andai aku bisa menemukanmu lebih cepat. Aku benar-benar menyesali semuanya, apalagi ketika tahu Verno merahasiakan banyak hal dariku."
"Benarkah?" tanya Liao penasaran. Zean tidak mengatakan apapun untuk menjawab. Ia hanya mengecup puncak kepala Zean.
"Tampaknya, perasaanku padamu tidak pernah berubah semenjak pertemuan kita dahulu. Apakah ini yang dinamakan jodoh?" Pertanyaan itu meluncur dari mulut Zean. Terdengar seperti anak kecil yang masih polos. Mendengar hal itu, Liao tidak dapat menahan kekehannya.
"Mungkin benar. Aku tidak dapat memastikannya," ujar Liao. Zean memandang lekat ke arah Liao. Jika dulu dirinya tidak mengetahui kenyataan itu, mungkin sampai kapanpun ia takkan pernah tahu jika Liao seorang pembunuh. Ia tidak akan tahu, apa yang menjadi alasan Liao mau datang ke Istana meski katanya ingin bertemu Rean. Beruntung, ia dapat memaksa Verno untuk mengatakan semuanya. Meski harus merasakan sakit karena tujuan Liao diluar dugaannya.
"Kau..., terlihat menahan amarah, Zean." Seolah tersadar, Zean langsung menggeleng. Ia kembali mencium Liao namun kali ini di pipi kanannya.
"Tidak. Aku--"
"Kau sudah mengetahui semuanya, bukan? Kenapa kau tidak menghukumku?" tanya Liao. Zean tentunya langsung menggeleng. Jika ia menuruti peraturan, maka hukuman Liao adalah hukuman mati. Dan Zean, tidak ingin kehilangan wanitanya lagi.
"Tidak, jangan katakan itu. Aku tidak akan pernah bisa melakukannya. Lagipula, kau melakukannya dengan alasan yang kuat," ujar Zean. Pelukannya semakin erat, seolah takut Liao akan benar-benar meninggalkannya.
Menyadari ketakutan Zean, Liao segera mengusap lengan Zean dengan lembut. Entah sejak kapan, namun ia juga merasakan perasaan tidak ingin berpisah dengan pria yang telah merebut hatinya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Maaf, sudah menanyakan hal tadi," bisik Liao.
"Jangan pernah meninggalkanku. Aku lebih baik mati daripada kehilanganmu lagi." Kini, Liao dapat merasakan isakkan. Terdengar aneh memang, karena Zean tidak pernah seemosional ini sebelumnya. Namun menyadari sesuatu hal, Liao hanya bisa tersenyum.
"Kuharap, anak ini tidak se-emosional Ayahnya." Gumaman Liao terdengar jelas di telinga Zean. Dengan gerakkan yang tiba-tiba, Zean melepas pelukan itu dan mencengkram pelan bahu Liao.
"Kau..., hamil lagi?" tanya Zean dengan kedua mata yang sembab. Liao justru terkekeh karena keadaan wajah Zean yang tidak seperti biasanya.
"Liao, jawab aku," ujar Zean dengan nada kesal. Liao semakin tertawa namun sekuat tenaga ditahan olehnya.
"Iya. Adik Zeyna berada dalam perutku," ujar Liao setelah meredakan tawanya. Mendengar fakta itu, Zean tersenyum lebar. Ia kembali memeluk Liao sembari mengecup bibir Liao secara terus menerus. Ia bahagia. Benar-benar bahagia.
* * * * The End * * * *
Jangan lupa vote, komen, dan share, guys ^^
September 6, 2019
Fialesflo
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasyKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)