"Yang Mulia, keluarga Bangsawan Fed menjadi korban pembantaian semalam. Tidak ada korban yang selamat." Xen menghela nafas panjang. Ia memijat pangkal hidungnya pelan, tidak menyangka jika pembantaian itu tidak berhenti. Ia pikir, setelah satu minggu tidak ada kabar seperti ini, pembunuhan itu telah selesai. Namun siapa sangka? Semuanya belum selesai. Dan lagi? Kenapa selalu prajurit atau pelayan yang menjadi dalang pembunuhan itu?.
"Apakah ada saksi?" Seperti kejadian-kejadian sebelumnya, utusan Raja itu menggeleng pelan. Rumah bangsawan yang dijaga ketat, serta dikelilingi tembok yang cukup tinggi, rasanya mustahil menemukan saksi dari luar wilayah rumah. Mengingat, keluarga itu terlihat jijik pada masyarakat yang dibawah derajat mereka.
"Baiklah, kau boleh pergi." Prajurit itu mengangguk. Setelah membungkuk hormat, dirinya langsung berjalan keluar dari ruangan Raja itu. Membiarkan pemimpin Elcar itu sendiri.
Xen sendiri, ia berdiri, dan membalikkan tubuhnya ke arah jendela. Dari sini, ia bisa dengan jelas melihat putri bungsunya tengah berlatih bermain pedang. Ada rasa cemas di hatinya, meski pedang yang Rean gunakan kini hanyalah terbuat dari kayu. Namun, alasan yang selalu Rean maupun Zean katakan, membuatnya tidak bisa menolak.
Demi keselamatan Rean sendiri.
Xen menghela nafas panjang. Kali ini, tatapan matanya beralih pada perempuan yang menjadi guru Rean. Yakni Liao. Meski sampai saat ini, rasa curiga Xen pada perempuan itu belumlah hilang, namun Xen tidak dapat memungkiri, jika dirinya kagum pada gerakan pedang Liao. Begitu ringan dan indah, namun juga mematikan.
Bahkan, Rean yang baru pertama kali memainkan pedang pun, dapat menguasainya dengan cepat. Entah apa yang Liao ajarkan pada putrinya itu. Yang jelas, jika ia bisa membuat Liao menjadi guru untuk para prajuritnya, kemungkinan besar, ia akan memiliki prajurit-prajurit terkuat yang pernah ada.
"Ah, kenapa aku tidak berfikir ke sana?" Gumam Xen begitu pelan.
"Maaf, Yang Mulia." Xen langsung berbalik. Kini, dahinya menyerngit saat mendapati Penasihat Kerajaan yang telah berdiri di hadapannya. Mungkin karena dirinya banyak melamun, ia tidak dapat menyadari kehadiran bawahannya ini.
"Saya telah mendengar berita kematian bangsawan Fed. Itu begitu mengejutka saya, terutama Anda,"
"Katakan langsung, apa yang membawamu kemari?" Penasehat itu tersenyum. Segera saja, ia meletakkan secangkir minuman hangat di atas meja kerja Xen. "Saya membawa teh hijau. Itu bisa membuat Anda tenang." Ujarnya, masih menampilkan sebuah senyuman. Yang terlihat cukup ganjal di mata Xen. Namun Xen langsung menepisnya.
"Baiklah, aku sepertinya memang membutuhkan ini." Xen langsung duduk kembali. Ia mengambil cangkir itu. Yang memang, bagi Xen terlihat cukup menggiurkan. Tanpa mempedulikan jika bau dari minuman itu terasa aneh, Xen langsung meneguk minuman itu. Hingga...
Bukk
Tubuh Xen langsung terjatuh begitu saja dari atas kursinya, setelah cangkir itu terjatuh dan menjadi pecahan. Penasihat Kerajaan itu sendiri, menyunggingkan sebuah senyuman. Tanpa terlihat, ada niat untuk setidaknya meminta bantuan dari orang di luar.
"Sudah waktunya Anda tenang, tenang selamanya." Penasihat itu menegakkan tubuhnya. Mengabaikan Xen yang tergeletak begitu saja, Penasihat itu berjalan ke luar dari ruangan Xen. Ia berjalan ke luar tanpa beban.
"Ah, tugasku begitu ringan." Ujarnya pelan. Tanpa menyadari, jika ada seseorang yang memperhatikannya. Memperhatikan Penasihat itu dalam diam, sebelum berjalan menuju suatu tempat. Firasatnya tidak pernah salah.
* * * *
Liao menatap pedang yang ada di depannya. Pedang dengan ukiran naga itu, memiliki aura yang begitu mencekam. Seolah memberitahu, jika pedang ini bisa menghabisi siapapun tanpa perintah, dan sesuka hatinya. Meski begitu, Liao tidak tergangu dengan aura dari pedang itu. Bahkan, rasa takut pun sepertinya tidak. "Ah, akhirnya kamu menyentuh pedang itu."
Liao langsung menoleh ke arah pria paruh baya, yang memiliki janggut panjang berwarna putih. Senada dengan warna rambutnya. Lioa hanya berdehem, sebelum meletakkan pedang itu kembali ke asalnya, dan mengambil pedang lain. Pedang berukiran burung Pheonix. Yang kabarnya, melambangkan keberanian dan keabadian.
"Bawalah pedang Xi itu. Ia seperti ingin menghabisiku." Ucapan Vu membuat Liao menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. Liao akui, jika pedang berukiran Naga tadi memang mengerikan. Namun masih kurang, jika ingin membuat Liao takut.
"Ah, tapi...kenapa kamu terlihat seperti tengah mencari pedang? Kau ingin menjadi kolektor pedang?" Liao menggeleng pelan. Ia memasukkan kembali pedang Nix, ke dalam wadahnya.
"Aku akan memberikannya pada seseorang." Vu segera mengambil tempat duduk di meja, satu-satunya meja yang ada di ruangan itu. Dari raut wajahnya, ia terlihat begitu penasaran dengan maksud dari perkataan Liao barusan.
"Bisa kau beritahu? Siapa yang beruntung, mendapat pedang pilihan dari seorang Liao?" Liao tidak langsung menjawab. Perempuan itu mengambil duduk di hadapan Vu. Dengan tangan yang masih membawa pedang Nix.
"Padahal, aku ingin memberitahu sebuah berita padamu, Paman Vu." Vu mendengus pelan, saat menatap wajah datar Liao. Membuat dirinya tidak dapat memastikan, apakah Liao sedang serius ataupun tidak.
Memang, Liao selalu memasang wajah datarnya, sehingga semua orang yakin, jika Liao tidak pernah bercanda. Ya, semua orang kecuali Vu. Pria yang secara tidak langsung, mengurus Liao sejak perempuan di depannya ini kecil. Perlu diketahui, jika dibalik wajah sedatar benteng itu, selalu bercanda. Meski, Vu sendiri masih tidak percaya.
Dan sampai saat ini, Vu menganggap jika Liao hanya berbohong biasa. Bukan bercanda.
"Katakan saja semuanya. Ini masih siang, dan aku yakin jika waktumu sangat luang." Ujar Vu sedikit kesal. Dirinya bukan kesal karena kehadiran Liao. Justru, pria itu begitu senang, setelah sekitar 3 bulan penuh, Liao tidak berkunjung ke tempatnya.
Liao menaikkan sebelah alisnya. Hanya sebentar, sebelum salah satu sudut bibirnya yang tertarik ke atas, menggantikan alisnya tadi.
"Masih sama, tidak berubah sama sekali," ujar Liao pelan. Namun tentu saja, Vu masih mendengarnya. Mengingat, ruangan itu hanya diisi oleh kedua orang itu saja. "Untuk pertanyaanmu, ini untuk temanku. Yah, sepertinya julukkan itu adalah yang terbaik. Dan kau tahu, Paman? Salah satu keluarga Bangsawan Elcar, meninggal lagi malam tadi."
Lagi, Vu mendengus pelan. Namun, ia tetap membuka mulutnya untuk bicara. "Tidak perlu diberitahu pun, aku akan mengetahuinya. Semua ulahmu, bahkan aku tahu betul. Tapi...tidak biasanya, kamu mempunyai teman." Liao hanya mengedikkan bahunya, untuk membalas ucapan Vu. Bahkan dirinya, masih ragu, atau bisa disebut sama tidak percayanya memiliki teman. Sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi. Liao memiliki teman selain pedang-pedangnya.
"Aku sendiri pun tidak menyangka. Tapi, kau pasti akan terkejut jika kuberitahu siapa orangnya." Vu menyandarkan tubuhnya. Kini, tatapan serta raut wajahnya menjadi lebih serius.
"Siapa orang yang beruntung itu?" Liao nenatap Vu beberapa saat, sebelum salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas.
"Dia, Rean Philion. Anak kedua Raja Xen, penguasa Elcar saat ini." Dan Vu tidak dapat menyembunyikan rasa keterkejutannya, atas jawaban Liao ini.
Next Chapter is Loading...
Ketika ponsel butuh istirahat dari kuota...
Maafkan cuman bisa update satu bab, selama hiatus ane bikin cerita laen.
Kuningan, 25 Januari 2019
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasiaKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)