"Bagaimana? Apakah dia sudah sadar?"
"Belum, Kak. Tubuhnya masih lemah."
Suara itu terdengar samar di telinga Xili. Dua orang yang suaranya benar-benar asing di telinganya. Rasa penasaran pada siapa dua orang itu, membuatnya memaksakan diri untuk terbangun dari kegelapan. Terus mencoba keluar dari kegelapan yang kini masih menyelimutinya.
"Kakak!! Lihatlah! Tampaknya ia berusaha bangun!"
Suara itu masih samar. Bahkan Xili ragu, apakah suara itu halusinasinya atau tidak. Namun, ia terus saja mencoba untuk bangun.
Eungh...
Pandangan Xili yang masih buram itu, sedikit memperlihatkan jika ada dua orang di depannya. Butuh beberapa saat, sebelu matanya dapat melihat dengan sangat jelas. Melihat dengan jelas dua orang pria berjanggut yang menatapnya dengan senang.
Tunggu, apakah ia tidak salah lihat? Xili benar-benar asing pada dua orang pria di depannya.
"Akhirnya dia bangun."
"Ya, Dewa sangat melindunginya."
Dahi Xili menyerngit tipis. Di saat ia akan bangun, ia menjadi tersadar pada luka yang ada di kepala serta hampir di seluruh tubuhnya. Tepat ketika dirinya meringis pelan.
"Istirahatkan tubuhmu dahulu, nak. Luka di tubuhmu, tidak akan sembuh dalam satu kedipan mata." Ujar salah satu pria itu. Pria yang terlihat lebih tua itu, membantunya untuk kembali berbaring, lalu memandangnya dengan senyuman hangat.
"Aravu, bawakan air untuk gadis ini. Dia pasti kehausan setelah satu minggu tertidur." Pria satunya, yang bernama Aravu itu langsung menurut. Pergi keluar dari ruangan kecil itu. Meninggalkan Xili dengan seseorang yang sangat-sangat tidak Xili kenali.
"Di..., mana aku?" Tanya Xili. Bahkan, ia cukup kesulitan untuk bicara. Apakah lukanya membuat dirinya sulit bicara?
"Kau ada di rumahku. Akan kujelaskan kenapa kau ada di sini, setelah kau mengisi perutmu. Bagaimana?" Tawar pria itu.
"Ba--iklah." Ujar Xili. Ia hanya berharap, ia akan baik-baik saja. Karena ia benar-benar tidak ingat kenapa ia ada di tempat ini.
Tidak lama, Aravu kembali masuk. Ia bukan hanya membawa segelas air, namun juga mangkuk yang mengepulkan asap tipis.
"Isi perutmu dahulu, nak. Setelahnya, aku akan menjawab pertanyaan yang ada di kepalamu." Ujar pria itu lagi. Xili segera bangun, dibantu oleh pria itu. Setelahnya, tinggal ia dan Aravu yang ada di ruangan itu. Aravu membantunya untuk makan dan minum.
"Dia adalah Kakakku. Jangan takut padanya, karena ia sudah sangat menganggapmu sebagai anaknya. Dan yah..., kau menjadi keponakanku." Kunyahan Xili melambat. Ia bingung dengan ucapan Aravu.
"Ngomong-ngomong, panggil saja aku Paman Vu. Itu lebih mudah diingat, kurasa." Ujar Aravu lagi. Xili yang mendengarnya hanya mengangguk pelan. Sangat pelan, karena kepalanya benar-benar sakit.
Selesai dengan urusan membantu Xili mengisi perut, Aravu segera berjalan meninggalkan gadis itu sendiri. Membiarkan Xili sendiri dalam pikirannya. Hanya sebentar, sebelum Kakaknya Aravu, masuk ke dalam dengan senyuman hangat tentunya.
"Bagaimana? Tubuhmu sudah tidak terlalu lemas?" Tanya pria itu.
"Begitulah. Aku sudah lebih baik." Jawab Xili. Pria itu masih menyunggingkan senyumannya. Ia mengambil duduk tidak jauh dari Xili.
"Sekarang, apa yang sangat ingin kau tanyakan, gadis manis?" Tanya pria itu. Xili terdiam. Ia benar-benar kesulitan untuk bertanya, karena banyaknya pertanyaan yang menumpuk di kepalanya. Terlalu banyak.
"Em..., boleh aku tahu, kenapa aku berada di sini?" Tanya Xili akhirnya. Setidaknya, ia akan tahu garis besarnya.
"Alasan, ya?" Xili mengangguk.
"Sebenarnya..., aku tidak tahu pasti awalnya. Namun, aku dan adikku, menemukan dirimu tidak sadarkan diri, di bawah tebing. Dengan banyak luka." Jelas pria itu.
Xili kembali diam. Ia tengah mencoba untuk mengingat apa yang terjadi padanya. Sebelum ia tiba-tiba terbangun di rumah ini.
"Bisakah aku tahu, kenapa kau ada di sana?" Tanya pria itu, membuat kepala Xili terangkat. Ia sudah ingat kejadian itu. Kejadian saat malam hari, di mana ia dikejar oleh dua kelompok berbeda. Kelompok pertama, adalah orang-orang yang membunuh Ayahnya. Kelompok kedua, adalah para bandit yang hendak membawanya untuk dijual pada para bangsawan.
Dan karena itu, ia harus berakhir terjatuh dari tebing curam. Setelahnya, ia tidak tahu apa yang terjadi.
"Mereka..., mengejarku." Ujar Xili hampir seperti gumaman. Namun, masih terdengar jelas oleh pria di depannya.
* * * * Fialesflo * * * *
Hello!!!! I'm come back!!!
Sebelumnya...
Happy 500 viewers!!!
Seneng sama gak nyangka. Seneng, karena ini pertama kalinya dapet viewers sampai 500. Gak nyangka-nya, karena cerita ini bener-bener amburadul/acak-acakkan/gak jelas. Bahkan awalnya, aku gak narget cerita ini bakal dilirik banyak orang. Yah..., walaupun jujur, aku sering cek jumlah viewer. Karena apa? Itu adalah vitamin buat aku. Semangat aku, kalau masih ada yang peduli sama hobi aku. Sama karya aku.
So, yang pasti alhamdulilah, berterima kasih sama Allah SWT, karena aku bisa sampai ini. Makasih banyak juga buat kalian yang udah mau mampir di lapak aku yang masih kayak kapal pecah.
Sebagai kebahagian aku atas pencapaian ini, aku bakal kasih bocoran untuk cerita selanjutnya.
Tapi di part selanjutnya, ya! ^^
Big love for you all.
Fialesflo
Juni 12, 2019
Rabu
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
ФэнтезиKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)