Flashback-1

50 2 1
                                        

"Xili! Jangan terlalu jauh, ingat?" Xiliao, atau sering dipanggil Xili oleh kedua orang tuanya itu mengagguk dengan menampilkan senyuman menawannya. Meski baru berusia 12 tahun, namun kecantikannya tidak dapat diragukan lagi. Sehingga tidak heran, ketika ia dan Ibunya pergi ke pasar yang ada di kota, banyak pemuda yang menatapnya dengan tatapan memuja secara terang-terangan. Bukan hanya dari kalangan bawah seperti dirinya dan keluarga saja, namun juga para pemuda dari kalangan bangsawan.

Meski sejauh ini belum ada satupun orang yang berani mendekatinya secara langsung, namun Xili mengaku tidak nyaman dengan apa yang para pemuda itu lakukan.

Pagi ini, ia akan pergi ke arah hutan dekat dengan sungai. Di sana, merupakan tempat beberapa jenis beri tumbuh liar. Beri-beri itu, nantinya akan ia berikan pada Ibunya untuk dijadikan minuman. Setelah jadi, Ayahnya yang akan menjual minuman itu ke pasar, bersamaan dengan ramuan herbal.

Meski hanya mendapatkan sedikit uang, setidaknya mereka masih bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dengan langkah tenang, Xili berjalan menyusuri hutan. Sesekali dirinya berjumpa dengan beberapa hewan liar yang langsung disapanya dengan senyuman, meski pada akhirnya, hewan-hewan itu lari ketika langkahnya mendekat. Itu salah satu kebiasaan dirinya sejak dulu.

Sesekali juga, dirinya bersenandung dengan mata yang menatap pepohonan rindang yang dilewatinya.

Tidak butuh waktu lama, Xili akhirnya sampai di tempat yang ia tuju. Dengan segera, ia memetik beri-beri itu lalu menaruhnya ke keranjang yang ia bawa dari rumah. Tentunya, tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya itu.

Srak..srak...

Kepala Xili langsung menoleh ke arah belakangnya. Ia was-was. Ia takut jika ada ular atau hewan buas lainnya. Untuk manusia, setahunya, tidak ada yang pernah masuk ke hutan itu. Meski dirinya tidak terlalu sering datang, namun hutan ini cukup dekat dengan rumahnya, sehingga Xili merasa, ia akan tahu jika ada orang lain yang masuk ke hutan ini.

Setelah beberapa saat tidak terdengar apapun lagi, Xili kembali melanjutkan kegiatannya memetik beri-beri itu. Ia berfikiran jika itu mungkin hanyalah seekor kelinci. Ia berusaha tetap tenang.

"Aku tidak mengira akan ada orang di hutan ini." Xili langsung berbalik dan mendapati seorang pria yang sepertinya seumuran dengannya. Dahinya menyerngit kala menyadari jika pemuda di depannya ini memakai pakaian dari kalangan bangsawan.

"A-anda siapa?" Tanya Xili. Ia mengeratkan peganganya pada keranjang. Takut? Tentu saja. Ia sendiri berada di tempat ini.

Pria itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum ketika melihat tatapan takut sekaligus penasaran di mata Xili.

"Namaku Zean. Dan kau Nona? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya." Xili menundukkan kepalanya. Meski ia sering ditatap dengan begitu lekat oleh lawan jenis seperti yang dilakukan pria bernama Zean itu, namun baru kali ini ada yang bertanya padanya.

"Nama saya Xiliao, tuan." Ujar Xili masih dengan kepala yang menunduk. Zean kembali tersenyum. Pemuda itu berjalan mendekati Xili namun perempuan itu mundur.

"Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu. Tenanglah, Liao." Xili langsung mengangkat kepalanya ketika mendengar nada panggilan Zean untuknya.

"Kenapa Anda memanggilku Liao? Itu terdengar seperti nama anak pria." Zean terkekeh kala mendengar gerutuan Xili. Tanpa bisa ditahan, ia mencubit pelan pipi kanan Xili.

"Nah, seharusnya seperti ini. Jangan terlalu formal padaku, mengerti?" Xili mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu ia mengangguk mengerti.

"Mulai saat ini kita teman, bagaimana? Aku memiliki teman, tapi dia jarang sekali ada. Aku kesepian." Xili terdiam. Ia juga selalu kesepian. Ia tidak memiliki teman seorang pun. Bukan hanya karena ia berada cukup jauh dari kota dan dari kalangan bawah, namun juga karena tidak ada satupun gadis yang mau menjadi temannya.

"Baiklah. Mulai saat ini kita teman." Ujar Xili, kali ini dengan senyumannya, yang membuat Zean terpana.

"YANG MULIA?!" Zean mendengus pelan ketika mendengar teriakkan itu. Dengan tidak rela, ia menegakkan tubuhnya.

"Sampai jumpa. Aku berjanji kita akan bertemu lagi." Ujar Zean lalu berjalan meninggalkan Xili yang masih terpaku di tempatnya. Sebelum Zean melangkah pergi tadi, pemuda itu mengusap puncak kepalanya dengan begitu lembut. Hal yang tanpa sadar telah membuat kedua pipi Xili memerah.

"Ya ampun, apa yang kau pikirkan Xili." Guman Xili pada dirinya sendiri. Ia menggeleng pelan, lalu kembali memetik beri-beri.

* * * *

"Syukurlah Anda tidak hilang, Pangeran." Zean tidak menjawab sepatah katapun. Setengah wajahnya, bagian dahi hingga hidungnya, kini telah tertutupi oleh topeng berwarna perak. Ia segera berjalan mendekati kudanya yang tengah dituntun oleh salah satu pengawalnya.

"Jika boleh saya tahu, Anda sudah dari mana, Pangeran?" Tanya Jendral yang menemani Zean itu. Namun sudah bukan hal yang aneh lagi, Zean tidak menjawab apa-apa.

Pangeran yang dingin, adalah julukan yang sudah sejak lama melekat pada diri Zean. Ya, Zean adalah seorang Pangeran. Lebih tepatnya, Zean Philion adalah Pangeran Elcar.

"Kita pulang." Ujar Zean dengan nada perintah. Meski ia paling muda, namun tidak akan ada siapapun yang melawan perintahnya. Bagaimanapun juga, status sosial Zean begitu tinggi.

Flashback-2 is Loading...

Ini pas mereka masih remaja ya, guys ^^.

6 April 2019

Fialesflo

Sword [THE END]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang