Shoot
"Ya, dia memang seperti itu," Rean menghela nafas panjang, sebelum menurunkan busurnya. Hari ini, seperti biasa Rean berlatih memanah lagi, meski tanpa ada pengawasan dari Liao langsung.
Rean menoleh ke belakangnya, di mana Levia tengah berdiri dengan kedua tangan yang membawa tempat anak panah. Yang kini, telah kosong karena 20 anak panah telah dilesatkan oleh Rean. "Kamu penasaran pada Liao, kenapa?" Levia mengerjapkan matanya, hingga tanpa sadar menatap langsung ke arah Rean. Namun, dengan cepat perempuan itu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Memang, aku tidak akan menyalahkanmu jika penasaran pada Liao, tapi..." Rean menghadap ke arah Levia, tersenyum masam meski ia yakin, Levia tidak akan melihatnya. Karena dayang satu ini, tengah menundukkan kepalanya. Lebih memilih menatap rerumputan, dibanding menatapnya. Tentu saja, aturan Kerajaan begitu ketat.
"Lebih baik kamu hilangkan rasa penasaranmu, jika kamu masih sadar." Ujar Rean, segera saja ia kembali memunggungi Levia, melesatkan anak panah terakhirnya. Levia belum membuka mulutnya, masih diam dengan pikiran yang berkecamuk. Bahkan, ia tidak sadar, jika Rean telah berjalan menjauh darinya. Meski hanya untuk mengambil kembali anak panah yang telah ia lesatkan sejak tadi.
Rean menarik satu persatu anak panah yang telah dipakainya, dengan raut wajah yang menjadi murung. "Ada yang mengganggu pikiranmu?", Rean langsung menoleh ke arah sampingnya dengan ekspresi terkejut. Di sampingnya, Liao menatapnya datar dengan kedua tangan yang memegang sebuah botol kayu.
"Ti-tidak, tidak ada." Jawaban Rean, yang justru menbuat Liao menghela nafas kasar. Rean menundukkan kepalanya, memainkan jari-jemarinya pelan, karena tangannya masih memegang anak panah.
"Aku tidak akan bisa berbohong padamu, begitupun sebaliknya," Rean langsung menoleh, dahinya mengerut. "Kau pun tidak akan bisa berbohong padaku, Rean." Liao kembali menghela nafas panjang, namun kini ia tersenyum.
"Maaf, aku...entahlah, sepertinya aku sedikit kesal," Rean menatap ke arah Liao, yang kini menaikkan sebelah alisnya. Yang tidak langsung, menyuruhnya untuk menjelaskan secara jelas. "Levia, dia...penasaran tentang dirimu." Setelahnya, Rean kembali mencabut satu persatu anak panah. Tanpa bicara lagi.
Liao, ia menoleh ke arah Levia, yang rupanya tengah memperhatikan mereka. Hanya beberapa saat, sebelum Liao kembali menoleh ke arah Rean. "Ini, simpanlah." Ujar Liao, menyerahkan botol kecil yang ada di tangannya. Rean menatap botol itu beberapa saat, lalu menerima botol itu, meski dahinya masih menyerngit.
"Ini...untuk apa?"
"Akan kuberitahu nanti. Aku harus pergi dulu." Rean hanya bisa mengangguk pelan, dan membiarkan Liao berjalan menjauh, meninggalkannya lagi. Rean menghela nafas panjang, menatap botol kecil yang ada di tangannya dengan lekat. Membuatnya tidak menyadari kehadiran Levia yang kini, ada di sampingnya.
"Nona--"
"Pegang ini, kau ambil semua anak panah itu. Aku ingin kembali ke kamar." Levia hanya bisa menurut, meski matanya sempat memperhatikan botol yang ada di tangan Rean. Namun, ia tidak mengatakan apa-apa, langsung melaksanakan perintah Rean. Yang sebenarnya, jarang terdengar jika selain perintah biasa.
Rean langsung berjalan menuju kamarnya, dengan menyembunyikan botol kecil itu sebisa mungkin, agar tidak terlihat oleh yang lain. Sebenarnya, Rean tidak peduli, jika banyak orang yang memandanganya dengan penasaran. Namun, untuk kali ini, entah kenapa ia merasa, jika ia harus menyembunyikan botol ini.
Berbeda dengan Rean, yang berjalan dengan waspada. Liao berjalan tenang, menuju tempat kuda-kuda Istana di simpan. Ada sesuatu yang harus ia urus di tempat ini, dan itu harus segera diselesaikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasyKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)