Karena ini cerita yang berpusat pada Liao, jadi gak bakal ada sudut pandang Zean. Maaf, karena ane pengen cepet kelar, guys.
* * * * F i a l e s f l o * * * *
Xili masih termenung di depan gundukkan tanah yang berada tidak jauh dari rumahnya. Beberapa jam yang lalu, ia baru saja berhasil mengubur jasad Ayahnya dengan peralata seadanya. Bahkan rasanya, ia mengubur Ayahnya tidak terlalu layak. Namun mau bagaimana lagi? Ia hanyalah anak gadis yang tidak memiliki kekuatan lebih.
Ia bukannya tidak menangis. Ia sudah menangis lebih dari satu jam. Ia sedih, bahkan air matanya, rasanya sudah kering. Bukan hanya itu, baru hari ini, ada sesuatu di hatinya yang tiba-tiba muncul. Seolah ada sesuatu hal yang memaksa untuk melenyapkan apapun dalam hatinya. Sehingga kini, ia merasa mulai kosong.
Ia tidak dapat merasakan apapun. Namun kepalanya terus saja memutar tiap detik pada apa yang terjadi pada Ayahnya. Benar-benar rinci, seolah ia menatapnya tanpa berkedip.
Xili menghela nafasnya dengan panjang. Ia menghapus jejak air matanya yang sudah mengering. Ia tidak akan lupa pada apa yang terjadi pada orang tuanya-nya, terutama pada Ayahnya. Kini, ia tidak tahu apa yang terjadi pada Ibunya.
Perlahan ia bangun. Meski beberapa kali tubuhnya hampir terjatuh karena ia masih lemas, Xili tetap melanjutkan langkahnya menuju satu-satunya tempat ia bisa berlindung. Yakni rumahnya sendiri.
Selama berjalan, pandangan Xili begitu kosong. Ia tinggal sendirian, meski Ibunya dibawa pergi entah kemana. Entah apa yang terjadi pada Ibunya itu. Ia tidak tahu. Semua ini, terjadi begitu cepat dalam satu kedipan mata. Bahkan Xili merasa, jika semua ini hanyalah mimpi buruknya yang akan berakhir jika ia terbangun. Namun ini terlalu nyata. Rasa sakit dan sesak di dadanya, begitu nyata dan tampaknya akan sulit menghilang.
Namun yang jelas, ia masih tidak mengerti. Ia sangat tidak mengerti.
Dan rasa sakit itu semakin kuat, ketika kakinya tidak sengaja menginjak tanah. Tanah yang terdapat jejak darah Ayahnya. Bukan lagi kesedihan, namun kekosongan yang tengah melingkupinya. Ia sendiri, dan ia kosong.
Dengan membawa perbekalan seadanya, Xili memilih untuk pergi meninggalkan tempatnya lahir itu. Bukan hanya karena ia takut ketahuan para prajurit Istana, namun juga karena ia takut terus teringat pada kejadian tadi.
Untuk Ibunya, ia takkan menyerah. Tidak akan pernah. Ia akan mencari Ibunya, walau yang didapat tinggalah jasad. Xili tidak peduli. Karena itu, ia akan berlatih sekuat tenaga, agar memiliki kekuatan untuk melindungi Ibunya. Jangan sampai, kejadian yang menimpa Ayahnya, terjadi pada Ibunya.
Menghembuskan nafas panjang, Xili melangkahkan kakinya. Malam ini, ia memilih untuk istirahat di gua yang selalu ia kunjungi. Tempat dirinya dan pria itu bertemu. Kali ini, ia berharap dapat bertemu untuk terakhir kalinya. Ya, Xili merasa jika ia takkan bisa melihat pria itu lagi. Entah karena apa.
Mentari mulai berjalan ke tempat istirahatnya. Dengan langkah yang dipercepat, Xili menyusuri jalan setapak itu. Tidak peduli jika kakinya menginjak bebatuan tajam, karena ia harus segera sampai di tepi sungai sebelum malam datang. Bodoh memang, karena ia memilih pergi dari rumahnya. Namun ia akan merasa sangat bodoh, jika tetap menangis di dalam rumah. Ia akan pergi mencari Ibunya.
Istana memang cukup jauh. Namun setidaknya, ia memiliki waktu untuk memiliki kekuatan.
Xili sadar diri, jika dirinya hanya akan memperumit masalah jika datang sesegera mungkin.
"Ibu, bertahanlah. Untukku yang akan datang." Batin Xili sembari menatap langit yang telah berwarna jingga. Menghela nafas panjang, Xili kembali melangkah. Ini baru dimulai, perjalannya baru saja dimulai.
* * *
Pendek? Iya, emang.
Maafkan ane, ya? Inilah efek kalau gak lanjut nulis lebih dari seminggu. Bingung.
Mohon bantuannya, ya, kalau ada kesalahan penulisan, tanda baca, atau typo. Fi masih amatir dan perlu banyak belajar.
27 Mei 2019, Senin
Semangat puasanya. ^^
Big love from Fi
Fialesflo
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasyKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)