Tumpukan beberapa gulungan kertas itu memenuhi sebuah meja kayu, bahkan karena terlalu penuh, beberapa dari gulungan itu berserakan di lantai. Di baliknya, di balik meja yang penuh gulungan itu, seorang pria dengan rambut yang memutih itu, tengah membaca satu persatu tulisan dalam gulungan kertas itu. Sebelum menandatanganinya.
Raja Xen, orang yang tengah membaca kertas-kertas itu, sesekali terlihat mengerutkan dahinya. Sebelum menghela nafas panjang. Kertas-kertas itu, adalah laporan terbaru yang terjadi di Kerajaan Elcar. Termasuk pembantaian dua keluarga bangsawan yang cukup berpengaruh di Elcar.
Bukan hanya itu, kejahatan semakin merajalela. Dikarenakan pajak yang terlalu tinggi untuk masyarakat kelas bawah. Membuat, masyarakat harus melakukan apapun untuk bertahan hidup. Meski, karena hal ini juga, beberapa kelompok memanfaatkannya demi keuntungan pribadi.
Dan jujur, Xen tidak mengerti kenapa semua ini bisa terjadi.
"PANGERAN ZEAN DATANG!!!" Xen masih membaca barisan kata di kertas yang berada di tangannya itu, ketika Zean melangkah masuk ke dalam ruang kerja Xen. Ah, sudah berapa lama ia tidak ke tempat ini? Sepertinya, saat Rean belum terlahir, Zean sering masuk ke dalam ruangan ini.
"Ada apa Ayah memanggil?" Xen mengangkat kepalanya, lalu tersenyum masam. Kini, raut wajah lelahnya begitu terlihat di depan Zean yang masih saja memasang wajah datar. Datar tanpa ekspresi, di balik topeng peraknya itu.
"Kau tahu? Aku sudah begitu lelah," Xen meletakkan kertas yang ada di tangannya itu, ke arah kertas-kertas lain.
"Terkadang, aku berfikir, untuk mati saja dibanding berada di situasi seperti ini." Xen kembali menatap ke arah Zean. Masih sama. Tidak ada ekspresi yang ditunjukkan anak pertamanya itu. Seolah, memang tidak ada rasa apapun, yang tersisa di hati anaknya itu.
"Bisa jawab pertanyaanku, Ayah?" Tanya Zean dengan nada semakin dingin. Hal yang membuat Xen mengatupkan bibirnya rapat-rapat, dengan pandangan tidak percaya.
"Baiklah, aku akan mengatakan langsung," Xen menegakkan tubuhnya. Menumpu kepalanya di atas kedua tangannya yang bertaut, dengan tatapan yang kini lebih serius. Begitupun Zean, meski sedari tadi, pria itu memasang wajah datarnya.
"Aku hanya ingin, kau segera menikahi Putri Serin. Aku sudah terlalu tua untuk mengurus Kerajaan ini lagi." Tanpa Xen sadari, Zean mengepalkan tangannya dengan sangat erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Meski hal ini terbiasa terjadi, namun kali ini, Zean tidak ingin mengakui adanya fakta ini. Baginya, menikahi seorang Putri yang bahkan tidak ia kenal bukanlah keinginannya. Dan juga, tampaknya Xen melupakan ucapannya dulu pada Zean. Di mana, pria yang menjadi Raja itu, membiarkan Zean memilih pasangannya sendiri.
"Tidak, dan tidak akan pernah aku menikahi Putri itu!" Zean langsung keluar dari ruangan itu, bahkan menutup pintu itu dengan keras, yang menimbulkan suara bedebum. Xen sendiri hanya bisa menghela nafas panjang. Ia tidaklah buta, saat Zean memasang wajah marahnya. Bahkan, ia merasakan aura marahnya yang begitu kuat. Hanya satu nama yang tiba-tiba terlintas di kepalanya, yang menurutnya menjadi alasan kenapa Zean enggan menuruti keinginannya.
Yakni, Liao.
"Seharusnya, aku menyetujui usul Penasehat Kerajaan waktu itu." Gumamnya pelan, lalu kembali menyibukkan diri pada gulungan-gulungan kertas yang menggunung itu.
Di lain sisi, setiap lorong yang dilewati Zean, langsung terasa mencekam. Aura dingin yang keluar dari pria itu, lebih menakutkan dibanding biasanya. Tentu saja, orang-orang langsung menunduk takut, ketika mendapati Zean melewati mereka. Takut, jika sewaktu-waktu, Zean murka, dan menjadikan mereka pelampiasannya.
Bukan karena itu saja, pertanyaan Zean yang terus bertanya kemana Liao, membuat mereka memilih melangkah dengan cepat. Tentu, mereka tidak mengetahui perempuan yang merupakan teman Rean itu. Lagipula, mereka tidak menyukai keberadaan Liao, sehingga, jika ada Liao di hadapan mereka pun, mereka tidak akan peduli.
Begitupun dengan Levia. Niatnya untuk menyusul Rean segera, harus diurungkan, ketika matanya melihat Zean. Perempuan itu langsung menyingkir, agar tidak menghalangi langkah Zean, meski lorong itu begitu lebar. Cukup untuk 7 orang berjalan dalam waktu yang bersamaan.
"Kau, di mana Liao?" Levia tersentak, tidak menyangka jika Zean akan bertanya padanya. Meski begitu, Levia tetap harus menjawab pertanyaan Zean, jika tidak ingin menjadi pelampiasan amarah.
"Nona Liao..."
"Ada apa mencariku?" Keduanya langsung menoleh ke arah Liao yang tiba-tiba berada di hadapan mereka. Ketika Levia menghela nafas lega karena bisa menghindari tatapan membunuh Zean, maka Zean sendiri menghela nafas panjang, karena akhirnya menemukan Liao.
Dengan segera, Zean menarik tangan Liao. Menariknya dengan erat entah ke mana. Yang terpenting, Levia bisa benar-benar menghela nafas leganya. Siapapun pasti akan sependapat dengan dirinya, jika berhadapan langsung dengan Pangeran Zean, apapun kondisinya, itu menyeramkan.
* * * *
Perlahan, kedua kelopak mata itu terbuka. Memperlihatkan sepasang iris mata berwarna cokelat di baliknya, yang kini menatap kosong ke arah jendela yang telah terbuka lebar. Di sebelahnya, seorang pria tengah terlelap dengan begitu nyenyaknya, sembari melingkarkan kedua tangan dipinggangnya. Yang menyebabkan, kulit mereka bersentuhan langsung.
"Apakah aku membangunkanmu, Pangeran?"
"Tidak, sama sekali tidak." Zean kembali mendekatkan wajahnya ke punggung Liao. Menghirup dalam, aroma tubuh perempuan yang ada di pelukannya itu dengan rakus. Ya, mereka adalah Pangeran Zean dan Liao. Dan, tanpa perlu dijelaskan lagi, keduanya telah melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan.
"Maaf, karena aku melakukannya," Liao hanya bungkam. Perempuan itu terlihat enggan berbicara sepatah katapun, bahkan hanya untuk berbalikpun tidak. Namun, jika dilihat lebih teliti, terdapat raut sedih yang begitu dalam. Liao memanglah ahli dalam memainkan senjata, namun ia tetaplah seorang gadis biasa. Gadis pada umumnya.
"Aku mencintaimu, Liao." Zean mengecup bahu Liao dengan begitu lembut. Lalu, ditariknya tubuh perempuan itu agar menghadap ke arahnya secara perlahan.
"Apa yang ada di pikiranmu?" Liao menghela nafas panjang, sebelum akhirnya menggeleng pelan. Dia tidak berkata atau melakukan apapun, bahkan ketika Zean mengusap lembut pipinya.
"Caraku memanglah salah. Tapi, aku tidak ingin ada siapapun yang menjauhkan kita. Ini adalah takdir kita. Kau milikku, dan aku adalah milikmu. Tidak ada siapapun yang boleh mengganggunya, termasuk Raja sekalipun." Tatapan mata Zean kini menjadi lebih serius. Membuat Liao yakin, jika Zean tidak sedang berbohong. Bahkan, tampaknya Zean merasa belum cukup puas untuk meyakinkan Liao. Pria yang kini melepas topengnya itu, mencium bibir Liao secara terus menerus. Ia lakukan ini, juga untuk menghilangkan ucapan Raja Xen kemarin sore.
"Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, dengan dahi yang mengkerut.
"Apa maksudmu?"
"Ada saatnya Anda mengetahui maksudku. Namun, kita benar-benar berada di dua takdir yang berbeda," Liao segera bangun meski sedikit kesusahan.
"Maaf, aku harus segera menemui Rean untuk melatihnya." Dan Zean, tidak berbuat apapun. Dirinya masih dipenuhi pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada Liao.
Dua takdir yang berbeda?
Next Chapter is Loading.
Hello! Holla! Konnichiwa! Annyeong haseyo! Ni hao!
Eaaak mutli-bahasa ye kan :)
Akhirnyaaaa...bab 14 done setelah males na'uzubillah yang menyerang perlahan pergi. Walau sedih karena rank turun, tapi gak masalah lah. Yang penting nih cerita bisa cepet selesai.
Btw, HAPPY NEW YEAR 2019!!! Iya deh iya, ane telat. Tapi gak papa lah, toh gak telat sebulan ini ye kan :)
Cie nih yang udah pada masuk sekolah lagi :) kalo ane sih dah kagak, dah jadi alumni mah tenang ae.
Oke, segitu aja bacotnya. Jangan sungkan kalo mau deket ama ane. Asal kalian sabar nunggu balesan aja kok. :) tetep tunggu kelanjutannya juga ya :) :* ♡
02 Januari 2019
Bye ♥
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasiaKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)