"Kalian, sekarang bertarunglah. Tunjukkan kemampuan kalian selama ini." Liao dan Herlix mengangguk patuh. Jika Liao terlihat begitu tenang dengan tatapan datarnya, maka Herlix terlihat menggebu dengan tatapan meremehkan. Wajar saja, karena selama ini, keduanya belum pernah berlatih pedang bersamaan.
Kali ini, Liao tidak lagi memakai pedang kesayangannya. Ia memakai pedang biasa, begitupun dengan Herlix. Saat aba-aba, keduanya langsung bersiap dengan pedang yang sudah ada di tangan kanan masing-masing.
"Mulai!"
Trang...
Trang...
Trang...
Trang...
Trang...
Liao dengan mudah menahan setiap serangan dari Herlix. Bahkan, ia dapat mengembalikan setiap serangan yang Herlix berikan. Namun Herlix, mulai terlihat kewalahan dengan serangan yang Liao berikan. Padahal, Liao menggerakkan pedangnya dengan begitu tenang.
Bukan hanya Herlix yang terkejut dengan kemampuan Liao saat ini. Aravan, pria itu pun sama terkejutnya. Ia tidak pernah menyangka, jika Liao bisa meningkatkan kemampuan bermain pedangnya dengan sangat cepat.
Pertarungan itu terus berlanjut, hingga saat matahari hampir berada di atas kepala, Aravan menghentikan pertandingan. Dapat terlihat jelas antara Liao dan Herlix. Liao masih bernafas dengan deru yang normal, sedangkan Herlix mulai terengah-engah. Benar-benar berbeda.
"Baiklah, pertandingan sampai di sini saja. Jangan memaksakan diri." Ujar Aravan. Sebenarnya, lebih tertuju pada Herlix. Jangan sampai, pemuda itu memaksakan diri untuk mengalahkan Liao.
"Tapi guru...,"
"Jangan membantah Herlix. Ada saatnya kau mundur dalam sebuah pertandingan." Tegas Aravan. Herlix menghela nafas kasar. Dijatuhkannya pedang yang tadi ia gunakan ke atas tanah begitu saja. Ia kesal? Tentu saja. Ia benar-benar tidak terima saat dikalahkan oleh seorang gadis. Yang bahkan, baru beberapa bulan berlatih pedang.
"Aku kagum pada peningkatan kemampuanmu, Liao. Sepertinya, kau juga banyak belajar dari temanmu itu." Pernyataan dari Aravan, tak ayal membuat Herlix terkejut. Padahal awalnya ia mengira, Aravan mengistimewakan Liao, dengan melatih perempuan itu dua kali lipat daripada dirinya. Namun saat tahu Aravan sama terkejutnya, ia menjadi penasaran dengan sosok teman Liao.
"Begitulah. Banyak hal yang kupelajari. Namun dia berkata, jika semua ini barulah dasar. Belum apa-apa." Jelas Liao dengan sangat tenang. Hal juga yang ia pelajari dari Verno. Tetap tenang, namun juga waspada.
Aravan mengangguk mengerti. Ia berjalan mendekati Liao, lalu mengusap kepala gadis itu dengan lembut. Tatapannya begitu teduh, seolah tengah menatap anaknya sendiri.
"Aku sangat bangga padamu, nak. Ingat pesanku. Jadilah kuat sebagai pelindung. Gunakan kekuatan yang kau miliki untuk kebaikan. Kamu mengerti?" Liao mengangguk patuh. Dengan ini, ia semakin ingin menjadi lebih kuat. Bukan hanya untuk menyelamatkan Ibunya, namun juga melindungi Aravan dan Aravu, yang begitu ia sayangi.
"Baik, guru. Aku akan menjadi pelindung." Aravan tersenyum lebar. Sudah ia duga, ia takkan salah memilih. Bahkan pedang itupun tahu, jika Liao memiliki hati yang sangat murni.
"Aku menyayangimu, nak." Ujar Aravan, lalu memeluk Liao erat. Di lain sisi, Herlix mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat. Bukan hanya kesal, namun kini, ia juga menjadi benci. Benci pada gadis bernama Liao itu.
Seharusnya, seharusnya dirinyalah yang mendapat pelukan dari Aravan. Hanya dirinyalah yang pantas mendapat pujian dari pria tua itu. Bukan gadis aneh, yang langsung merebut haknya.
"Tunggu saja. Ada saatnya, kau kalah dariku, Liao." Desis Herlix.
* * * * * * Fialesflo * * * * * *
Pas 500 words, yeaay ^^
Thank you very much for my reader. Love you always.
Don't forget vote and comment, guys.
Juni 30, 2019
Fialesflo
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasíaKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)