Dua Puluh Tiga

35 2 0
                                        

Liao berjalan beriringan dengan Rean di lorong Istana. Tidak seperti hari biasanya, di mana ia akan datang setelah Rean berlatih beberapa saat. Namun hari ini, ia dan Rean akan memulai latihan bersama. Seperti kemarin, mereka akan melanjutkan berlatih bermain pedang. Berlatih gerakan, berbeda dengan kemarin yang langsung bertarung.

Di pinggang masing-masing kedua perempuan itu, tersampir pedang yang akan keduanya gunakan. Liao dengan pedang yang ia bawa dari gudang penyimpanan senjata, dan Rean dengan pedang Nix-nya.

Tidak ada kalimat ataupun kata yang keluar dari mulut keduanya sejak keluar dari kamar Liao. Seolah, mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing. Hingga, langkah keduanya terhenti saat pemandangan yang tidak jauh dari tempat mereka, membuat keduanya jengah.

"Kau tahu, apa yang kupikirkan?" Rean menoleh ke arah Liao. Ada rasa bersalah di mata Rean, namun Liao tidak menoleh ke arahnya. Tetap bertahan menatap ke arah di depannya.

"Liao, biarkan malam ini aku melakukan tugasmu," Liao menoleh ke arah Rean dengan dahi yang menyerngit tipis. Tidak terlalu mengerti apa maksud dari ucapan Rean. "Dengan begitu kau bisa mengurus yang ini."

Liao mendengus pelan. "Dia bagian dari tugasku. Tapi, jika kau akan melakukannya, itu terserah. Lagipula..." Liao mengusap perut ratanya perlahan. Hal itu tidak lepas dari pandangan Rean. Awalnya ia bingung, hingga matanya terbelalak karena terkejut.

"Ti-tidak mungkin." Liao melirik ke arah Rean dengan senyuman yang sangat tipisnya.

"Akupun masih menduganya. Mari, kita sudah membuang banyak waktu, muridku." Rean menghela nafas lalu menggangguk. Keduanya kembali berjalan yang akan mengarahkan mereka, mendekati pemandangan yang sebelumnya membuat kedua orang itu terdiam.

Di sana, Zean tengah bersama seorang perempuan yang tidak lain adalah Serin. Putri kedua dari Raja Gio, salah satu pemimpin Kerajaan yang berada cukup dekat dengan Elcar. Meski Zean terlihat acuh, namun berbeda dengan Serin yang begitu agresif. Perempuan itu bahkan tidak tahu malunya, memeluk erat lengan Zean.

"Rubah betina tetaplah rubah betina." Ujar Rean, begitu ia dan Liao melewati Zean dan Serin. Ucapannya itu langsung membuat Zean maupun Serin menoleh ke arah Rean dengan tatapan yang berbeda.

Jika Serin terlihat cukup kesal, terutama saat melihat perempuan yang ada di samping Rean. Sedangkan Zean, ia menatap Liao dengan begitu lekat. Semua ini bukanlah keinginannya. Benar-benar bukan keinginannya. Namun mau bagaimana? Serin tiba-tiba datang dan memeluk lengannya erat.

"Apa maksud ucapanmu, Putri Rean?" Rean dan Liao kompak menghentikan langkahnya, namun hanya Rean yang menoleh ke belakang.

"Bukan apa-apa. Tapi jika kau merasa...aku tidak terkejut." Ujar Rean.

"Saya tidak mengira, jika teman yang Anda bawa memberi dampak buruk terhadap sifat Anda." Kini, Liao membalikkan tubuhnya. Ia menghadap ke arah Serin.

"Sepertinya Raja Gio lupa memberitahumu, siapa aku." Setelahnya, kedua perempuan itu benar-benar meninggalkan Zean dan Serin di sana.

* * * *

"Jadi?"

"Lakukan saja semaumu. Tapi jangan sampai ada yang tahu." Orang di depannya mengangguk. Setelah merasa sudah siap, ia segera keluar dari ruangan itu untuk melaksanakan tugas. Berjalan begitu gesit namun hening tanpa suara.

Kali ini, target selanjutnya adalah rumah salah satu bangsawan yang terletak cukup dekat dengan Istana. Terlihat mudah, namun sebenarnya cukup sulit mengingat jumlah para penjaga yang lebih dibandingkan rumah bangsawan lainnya.

Bukan karena penghuninya memiliki kekayaan yang besar, namun karena ada yang bekerja di Istana dengan jabatan yang tinggi. Cukup tinggi. Yakni keluarga Rofulus. Si penasehat Kerajaan.

Seperti malam biasa, lagi-lagi ada yang berjalan keluar dari Istana tanpa ada yang menyadarinya seorang pun. Namun dengan orang yang berbeda.

Tidak perlu bersusah payah untuk mengelabui penjaga Istana, atau para penjaga di kediaman Rofulus yang diincar. Karena kini, genangan darah sudah memenuhi bagian luar rumah mewah itu.

Dengan langkahnya yang ringan, yang tidak menghasilkan suara sedikitpun. Ia mulai masuk ke dalam bangunan itu. Beruntung, semua orang yang ada di dalam sudah terlelap. Sehingga dirinya tidak perlu melakukan aksinya dengan sedikit bertenaga. Hanya perlu membuat orang-orang di ruangan itu tidak akan terbangun lagi. Terlelap selamanya.

Meski baru pertama kali melakukannya di tempat seperti, ia dapat menyelesaikan semuanya dengan mudah. Tentu saja, penjagaan di tempat ini begitu ketat. Bahkan rasanya, Istana pun kalah dengan pengamanan di tempat ini.

Meninggalkan hal yang sama, semua orang yang ada di rumah itu berakhir dengan sangat tragis. Tubuh mereka terpotong menjadi dua bagian, sehingga menciptakan genangan cairan merah kental yang begitu pekat di rumah itu. Bahkan tampaknya, seperti lautan merah. Benar-benar mengerikan.

Namun yang melakukannya hanya menatap orang-orang yang tidak berdaya itu. Menatapnya dengan tatapan yang begitu puas. Setidaknya, ia berhasil membalaskan dendam meski tidak pada orangnya secara langsung.

Dendam dan dendam. Semuanya akan berakhir buruk jika menggunakan emosi, namun emosi jugalah yang menjadikan dirinya kuat. Bukan menjadikan dirinya begitu lemah dan tidak berdaya. Setidaknya, jika mulutnya tidak dapat didengar, maka tangannya yang akan dilihat.

"Seharusnya aku melakukan hal ini sejak dulu." Gumam perempuan itu sebelum berjalan meninggalkan ruangan itu. Tanpa ada rasa iba ataupun takut. Tidak ada sama sekali.

Saat berada di luar, dirinya tersentak saat mendapati dua orang yang dikenalnya tengah memperhatikannya. Memperhatikan dirinya dengan pandangan mata yang berbeda. Jika yang pria menatapnya datar, maka yang perempuan menatapnya dengan tatapan takut serta terkejut.

"Ah, tampaknya aku ketahuan." Ia membuka penutup wajah serta tudungnya. Sehingga menampilkan wajahnya di hadapan dua orang itu.

"No-na...A-nda mem-bu-nuh?" Tanya perempuan yang tidak lain adalah Levina. Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Levina dengan begitu takut membuat Rean menyeringai. Ya, ia yang telah melakukannya.

"Kenapa? Kau takut?" Rean menggerakkan kepalanya setengah memutar tanpa mengalihkan tatapannya dari Levina. Bahkan seringaian yang belum pernah ditunjukkan pun, membuat Rean terlihat begitu mengerikan. Terlihat seperti bukan Rean. "Kau sudah melihatku, sehingga kau harus mati. Menyenangkan rupanya melihat mangsaku ketakutan sepertimu."

"Jangan menyentuh milikku meski seujung rambutnya, Rean." Rean langsung menoleh ke arah pria yang ada tidak jauh dari Levina. Ia berdesis pelan sebelum memasukkan kembali pedangnya yang akan dikeluarkannya.

"Kau bukan pangeran ataupun Raja di sini, Verno. Lagipula, sejak kapan Levina menjadi milikmu ?" Tanya Rean dengan menekan kata terakhir. Mengikuti gaya bicara Verno yang menekan kata milikknya itu.

"Sejak Liao menyetujuinya. Dia memberikannya padaku, yah...dengan sedikit paksaan tentunya." Ujar Verno masih tenang. Kini pandangannya teralih pada Levina. Ia yakin jika Levina benar-benar kebingungan.

"Dia adalah my rose. Jadi jangan mencoba untuk melukainya."

Next Chapter is Loading...

Hoaaam...ngantuk ane.

Selasa, 05 Maret 2019

Ja, mata (^3^~♡)

Sword [THE END]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang