Hari demi hari telah berlalu. Bahkan tanpa sadar, Xili telah berada di tempat Aravu serta kakaknya itu selama sebulan lebih. Karena waktu yang cukup lama itu, Xili semakin dekat dengan Aravu. Bahkan, ia sesekali ikut dengan Aravu ke kota untuk membuat pedang yang dipesan para ksatria.
"Liao, aku akan pergi ke kota hari ini." Xili, yang kini lebih dikenal dengan nama Liao itu segera keluar dari arah dapur.
"Bolehkah aku ikut, paman?" Tanya Liao dengan antusias, namun Aravu menggeleng dengan senyuman kecutnya.
"Tidak-tidak. Aku memiliki firasat buruk jika kau ikut. Sebaiknya kau tetap di rumah saja." Liao menghela nafas panjang.
"Kalau aku kebosanan..., bagaimana?"
"A--"
"Kalau kau takut kebosanan, kau bisa ikut berlatih pedang denganku." Aravu langsung menolehkan pandangannya ke arah Kakaknya itu. Dirinya begitu terkejut dengan ucapan Kakaknya itu.
"Bolehkah?" Tanya Liao ragu. Karena setahu dirinya, hanya kaum pria saja yang selalu menggunakan atau hanya membawa pedang.
"Kakak...," pria itu tersenyum. Menenangkan Aravu yang sepertinya khawatir dengan keputusannya.
"Tenang saja, Vu. Tentu kau boleh. Dengan begitu, akan menjadi guru pertama yang memiliki murid seorang gadis. Bukankah itu hebat?" Liao menampilkan wajah bahagianya. Ia benar-benar senang, karena dengan begini, ia dapat menjadi kuat. Keinginannya untuk menyelamatkan Ibunya, semakin kuat. Sedangkan Aravu, ia menghela nafas panjang untuk menghilangkan kegusarannya. Bukan karena ia tidak setuju dengan ucapan Kakaknya yang akan mengajari Liao bermain pedang. Namun tujuan terselubung kakaknya. Ia benar-benar khawatir.
"Baiklah. Aku akan pergi ke kota. Ingat Liao, turuti ucapan guru barumu ini." Liao mengangguk dengan senyuman lebarnya.
"Baik, Paman. Aku mengerti." Aravu mengangguk puas, lalu menoleh ke arah Kakaknya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku pergi dulu, Kak. Jaga dirinya dan dirimu juga selama aku pergi." Pria itu tersenyum lembut. Menepuk bahu Aravu dengan pelan.
"Kau tenang saja. Tidak akan ada yang terluka." Aravu mengangguk, lalu benar-benar pergi meninggalkan Kakaknya dan Liao. Ia akan percaya pada Kakaknya itu. Semua akan baik-baik saja. Ya, akan baik-baik saja.
"Nah Liao, kau mau menunggu Herlix datang atau langsung berlatih?" Tanya pria itu setelah Aravu pergi.
"Herlix? Apakah itu nama pria yang menjadi muridmu?" Aravan. Ia terkekeh pelan. Tidak menyabgka jika Liao selalu memperhatikannya saat ia melatih Herlix.
"Iya, itu benar. Bagaimana, Liao?"
"Mmm..., mungkin lebih baik aku berlatih duluan mengenai dasar-dasarnya. Nanti, Anda terlalu sibuk." Ujar Liao yang mendapat anggukkan dari Aravan.
"Baiklah. Ngomong-ngomong, panggil saja aku guru Ara. Atau.., kau mau memanggilku ayah?" Lagi, tiba-tiba sekelebat ingatan tentang hari itu kembali berputar. Liao kembali teringat akan Ayahnya.
"Ayo. Bisa-bisa, Herlix datang lebih dahulu sebelum kau berlatih." Liao mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia menghela nafas pelan sebelum mengangguk kuat. Baiklah, ia harus menjadi kuat. Demi menyelamatkan Ibunya, dan membalaskan dendam pada para prajurit itu.
Aravan sendiri menghela nafas panjang. Pedang yang kini ia pegang, terasa sedikit bergetar dan mengeluarkan cahaya merah yang samar. Hal yang membuat pandangannya berubah menjadi khawatir.
'Mungkin, ini yang adikku itu khawatirkan.' Batin Aravan.
* * * * Fialesflo * * * *
Masih panjang...???
Juni 20, 2019/ Kamis
Fialesflo
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasiKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)