Hari telah senja, ketika Liao dan Verno selesai berlatih untuk ketiga kalinya. Dengan keringat yang terlihat jelas, mengalir di dahi keduanya, mereka segera mengakhiri latihan itu. Banyak hal baru yang Liao pelajari dari Verno di sela latihan keduanya. Bukan hanya tentang taktik bermain pedang, namun juga dalam bertahan.
"Nanti, jika aku ke sini, akan kuajarkan teknik bela diri. Setidaknya, kau harus bisa bertahan dan menyerang dengan tangan kosong." Liao mengangguk kuat. Ia begitu antusias dengan hal yang Verno ucapkan. Dengan begini, ia memiliki dua guru sekaligus. Ini akan sangat membantu dirinya.
"Baiklah. Aku akan menunggu." Verno mengangguk.
"Pulanglah. Sebentar lagi akan gelap." Liao menurut. Setelah memasukkan kembali pedangnya, ia segera berjalan menuruni bukit. Tentunya, dengan perasaan senang. Ia tidak lagi terlalu memikiran perihal dendamnya.
Verno menghela nafas panjang. Diusapnya keringat yang ada di dahinya dengan sapu tangan yang selalu ia bawa. Pandangannya beralih pada langit berwarna jingga setelah sosok Liao menghilang dari pandangannya. Sebentar, sebelum tubuh Verno perlahan hilang dari tempat itu.
Di lain sisi, Liao telah sampai di rumah sederhana. Ia menyimpan pedangnya ke dalam kamar, lalu berjalan ke arah dapur setelah mencium aroma makanan.
"Makan malam ini, pasti sangat enak." Aravu mengusap dadanya pelan. Ia benar-benar terkejut dengan kehadiran Liao yang tiba-tiba. Sedangkan Liao, ia lebih fokus pada masakan yang dibuat oleh Aravu, mengabaikan pamannya yang
terkejut.
"Memang. Gurumu itu, datang dengan membawa rusa hasil buruan. Pergilah untuk membersihkan diri. Tubuhmu sangat penuh dengan keringat." Perintah Aravu yang langsung dituruti oleh Liao tanpa protes sama sekali.
Gadis itu, baru saja akan ke kamarnya langsung terhenti di saat matanya melihat Aravan yang terduduk dengan mata terpejam. Terlihat kelelahan.
Dengan langkah pelan, Liao mendekati Aravan. Ia memang tidak cukup dekat dengan Aravan, namun melihat pria yang menjadi gurunya itu kelelahan, rasanya Liao tidak tega.
"Guru, kau terlihat sangat lelah." Aravan membuka matanya. Ia menoleh ke arah Liao dengan senyuman di wajahnya.
"Begitulah. Berburu memang pilihan buruk untukku yang mulai tua." Ujar Aravan diikuti kekehannya. Liao sendiri, ia mulai memijat bahu Aravan pelan.
"Kudengar, kau berlatih sendiri di bukit. Tapi..., tampaknya kau mendapat teman berlatih. Boleh aku tahu, siapa dia?"
"Mmm..., teman. Ya, seorang teman." Ujar Liao. Ia memang ragu, menyebut Verno teman. Rasanya, Verno hanya sebagai perantara antara dirinya dan Zean saja. Tidak lebih. Tapi jika ia mengatakan ragu, Aravan akan sangat curiga.
"Ah, teman? Dia bisa menemukanmu di sini?" Liao mengangguk pelan.
"Rumahnya tidak terlalu jauh dari sini. Dia berada di kota. Dia..., memang selalu berjalan-jalan ke hutan." Jelas Liao yang semuanya hanyalah kebohongan. Aravan mengangguk mengerti. Ia tidak lagi bertanya, membuat Liao dapat bernafas dengan lega. Setidaknya, ia tidak perlu mengatakan kebohongan lagi.
Kini, Liao kembali memijat kedua bahu Aravan, dengan pikiran yang berkecamuk. Bisa dibilang, ini adalah kebohongan pertamanya. Dan rasanya, benar-benar menyesakkan.
* * * * * * Fialesflo * * * * * *
Terima kasih yang udah baca.
Don't forget vote and comment, guys ^^
Juni 30, 2019
Fialesflo
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
ФэнтезиKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)