Tawa kembali terdengar jelas di kedua telinga Zean. Para prajurit yang memang begitu menghormati Zean, terlihat sangat marah dengan hal ini. Karena perilaku para pemberontak di hadapan mereka, benar-benar tidak sopan.
Tentu saja, mereka adalah pemberontak. Dan berlaku sopan, hanyalah sebagai alat untuk mencapai sesuatu saja.
Namun Zean sendiri masih memasang raut wajah datarnya. Ia benar-benar tenang. Meski di kepalanya mempertanyakan, siapa pria yang memimpin kelompok ini. Karena sebelumnya, tidak pernah ada satupun laporan tentang data diri pemberontak di Elcar, seperti pria di depannya.
Data pemberontak yang sering ia jumpai, hanyalah masyarakat dari kaum miskin saja. Sedangkan di depannya, pria itu memiliki pedang dengan sebuah kristal berukuran biji kenari dibagian genggamannya. Bukan hanya satu orang, melainkan semua anggota memilikinya.
Seolah, kristal itu adalah tanda kelompok mereka.
"Benarkah kau akan melawan kami? Aku tidak yakin, kau bisa mengayunkan pedangmu dengan benar."
"Kalau begitu, saya menunjukkanya." Zean segera turun dari kudanya, diikuti para prajurit dan pemberontak. Kini, ia dan ketua kelompok itu saling berhadapan.
"Mari mulai." Maka, mulailah terdengar suara pedang yang saling beradu. Beberapa kali, pria pemberontak itu kesulitan mengimbangi kemampuan berpedang Zean. Ia tidak menyangka, jika Zean yang jarang sekali berada di luar Istana, memiliki kemampuan berpedang yang tinggi. Seolah, pangeran ini sudah pernah mengalahkan seribu orang.
Pertahanan dan serangan yang dilakukan oleh pemberontak itu, tampaknya tidak ada apa-apanya bagi Zean. Karena sampai saat ini, Zean sama sekali tidak terlihat kelelahan. Deru nafasnya masih stabil. Berbeda dengan pemberontak itu, yang nafasnya sudah terengah-engah.
Hingga, tenaga pemberontak itu habis. Dan pertarungan itu diakhiri oleh sayatan yang diterima oleh pemberontak itu, di kaki kananya. Sehingga, aliran darah segar mulai keluar dari luka sayatan itu.
"Kau! Kuakui kau memang kuat, namun kau takkan bisa mengalahkan Nona Xili." Zean mundur beberapa langkah dengan dahi yang menyerngit bingung. Ia mengira, jika urusannya akan selesai setelah mengalahkan pria di depannya. Namun rupanya, ada seseorang lagi.
"Xilia? Siapa dia?" Dan entah kenapa, menyebut namanya, Zean merasa tidak asing. Seolah-olah ia pernah mendengar nama itu sebelumnya.
"Kau--ah, akhirnya Anda datang, nona." Seseorang tiba-tiba datang dengan pakaian serba hitam yang menutupi tubuh hingga sebagian wajahnya. Sehingga hanya menampilkan bagian matanya saja.
Perempuan itu mengarahkan pedangnya pada Zean. Aura orang serta pedang di depannya, semua terasa tidak asing untuk Zean.
Perempuan itu melirik ke arah pemimpin kelompok itu. Seolah mengerti, pria itu mengerahkan anak buahnya untuk mundur. Pria itu akan mengobati luka, dengan obat yang dilemparkan perempuan itu. Setelah kelompok itu mundur cukup jauh, perempuan itu kembali menatap ke arah Zean. Tidak ada ekspresi yang dapat dibaca dari tatapan mata perempuan itu.
"Siapa kau?" Perempuan itu langsung mengayunkan pedangnya pada Zean, yang segera ditangkis oleh Zean dengan cepat.
"Kau tidak perlu tahu." Kini Zean sangat yakin, jika dirinya mengenal siapa perempuan di depannya. Dia benar-benar tidak menyangka, jika pikirannya mengarah pada seseorang. Namun, Zean berusaha mengelaknya. Ia tidak akan mempercayai hal itu.
Kelengahan Zean dimanfaatkan dengan baik oleh perempuan yang menjadi lawannya itu. Ia segera mengayunkan pedangnya, dan mengenai perut pangeran bertopeng perak itu. Meninggalkan sayatan yang cukup panjang dan dalam di sana.
Tentu saja, hal itu membuat Zean langsung meringis, dan memegangi perutnya yang terluka. Ia menatap ke arah perempuan itu, terutama pedangnya. Namun siapa sangka? Tidak ada setetespun darah yang tertinggal di pedang itu. Pedang itu benar-benar bersih, seperti baru dibeli dari tempat pembuat pedangnya.
"Arrgh..." perempuan itu memasukkan pedangnya. Ia dengan cepat meninggalkan tempat itu. Tanpa menghiraukan keadaan lawannya.
"Beruntung, Nona Xilia tidak menghabisimu. Dia tengah berbaik hati padamu," pria itu terkekeh pelan. "Kita kembali, anak-anak."
Zean hanya bisa menatap kepergian kelompok pemberontak itu, karena kondisi tubuhnya yang melemah. Ia yakin, jika terdapat racun pelumpuh pada pedang perempuan tadi. "Yang mulia Pangeran, kita harus kenbali ke Istana. Anda harus segera mengobati luka Anda." Zean mengangguk.
* * * *
Liao menghela nafas panjang. Setelah semua orang benar-benar pergi dari ruangan itu, ia berjalan masuk ke dalam ruangan yang merupakan kamar. Berjalan dengan pelan, mengingat sekarang ini, ia memakai gaun berwarna biru langit. Yang tentunya, pemberian dari Rean.
Di atas tempat tidur itu, Zean terbaring dengan sebelah tangan yang menutupi matanya. Benar-benar terlihat frustasi.
"Apa ada yang mengganggu pikiran Anda, Pangeran?" Zean langsung menurunkan tangannya. Ia menoleh ke arah Liao, yang entah kenapa, terlihat begitu cantik setiap harinya.
Zean menghela nafas panjang. "Hanya memikirkan pemberontak di kota tadi." Liao mengangguk pelan. Ia mengambil duduk, tepat di sebelah Zean.
"Kudengar, lukamu parah. Dan...kau tidak ingin meminum ramuan? Kenapa?"
"Ramuan rasanya pahit. Lagipula, jika meminumnya, tidak akan mempercepat masa pemulihan." Liao tersenyum. Ia menggenggam jemari Zean yang berada dekat dengannya.
"Kalau saya yang membuatnya, apakah Anda akan meminumnya?" Zean menggeleng pelan. Sudah tidak aneh lagi, jika penerus tahta kerajaan Elcar ini selalu enggan untuk meminum ramuan yang dibuat oleh para tabib.
Tanpa dapat diduga, Liao mengecup pelan pipi kanan Zean. Ia tersenyum saat Zean menampilkan wajah terkejutnya.
"A-apa yang kau lakukan?" Dahi Liao menyerngit.
"Apa saya salah, jika berusaha membalas perasaan Anda?" Kini guratan senyum terukir di wajah Zean. Tanpa membuang waktu, ia menarik kepala Liao agar mendekat ke arah wajahnya. Dan tidak perlu dijelaskan lagi, Zean segera melumat rakus bibir Liao yang selalu berhasil menjadi candu untuknya. Apalagi saat akan mengurus pemberontak tadi, ia tidak bisa menemukan Liao
Liao sendiri berusaha sekuat tenaga menahan tubuhnya dengan kedua tangan, agar tidak mengenai luka di perut Zean. Meski sekarang ia membiarkan Zean menguasai bibirnya, namun setelah beberapa saat, Liao melepas pangutan itu perlahan.
Sehingga kini, ia dapat melihat tatapan tidak rela di mata Zean.
"Istirahatlah, pangeran."
"Asal kau tidak pergi kemanapun. Saat aku tertidur hingga aku bangun." Liao tersenyum. Ia segera berpindah tempat, dan berbaring di sebelah Zean. Tanpa menghilangkan guratan senyumannya.
"Saya akan berada di sini, di sebelah Anda seperti biasa." Zean ikut tersenyum. Dengan bantuan Liao, ia melepas topeng yang sedari tadi dipakai olehnya lalu mulai memejamkan mata. Dengan sebelah tangan yang menggenggam erat jemari Liao. Karena sangat disesalinya, ia tidak bisa memeluk Liao-nya.
Karena nanti, aku tidak bisa berada di sebelahmu seperti ini
Akhirnyaaaaa....
Awalnya bakal ngira, bab ini selesai ditulis hari senin. Rupanya, hari minggu juga selesai :).
Btw, aku nyantumin juga tanggal selesai nulisnya. Jadi...kalian gak ada alesan buat nyalahin aku yang lagi jadi pengangguran, telat update.
Sorry to say babe, tapi ane bukan tipe yang suka minta jatah uang kalo udah lulus sekolah.
Selesai : Minggu, 10 Februari 2019
Publish : Sabtu, 16 Februari 2019
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasyKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)