Liao mengerjapkan matanya beberapa kali, untuk membiasakan matanya pada cahaya sekitar. Setelahnya, ia mulai menelisik tempatnya berada. Masih berada di hutan yang sama, dengan yang terjadi semalam. Di mana Aravan mati terbunuh. Kesadaran Liao seketika kembali, ketika mengingat kejadian itu. Kejadian yang merenggut nyawa gurunya.
Tanpa mempedulikan kondisi tubuhnya, Liao segera bangun dari tidurnya untuk mencari sosok gurunya itu. Ia benar-benar tidak ingat, dengan apa yang membuatnya tidaksadarkan diri. Yang ia ingat hanyalah....
"Kau sudah sadar rupanya. Jasad gurumu sudah dikubur olehku dan adiknya. Dan yang menyerang,"
"Apa yang sudah kau lakukan padaku?" Verno terdiam dalam waktu yang cukup lama. Ia menghela nafas panjang.
"Kau sepertinya belum menyadarinya." Dahi Liao menyerngit. Ia tidak mengerti.
"Apa maksud ucapanmu?" tanya Liao. Verno semakin menghela nafas lelah.
"Aku bukan manusia, Liao. Aku termasuk iblis. Makhluk yang selalu terikat perjanjian." Penjelasan dari Verno berhasil membuat Liao terdiam. Ia tidak menyangka, jika Verno adalah makhluk seperti itu. Meski Liao akui, dirinya merasa ada yang janggal dengan sosok Verno selama ini. Kepalanya menunduk. Disentuh lehernya di mana Verno menghisap sebagian kecil darahnya sebagai bentuk perjanjian.
"Jadi, semalam itu, kau...,"
"Ya, aku melakukan perjanjian tanpa bisa kucegah sendiri. Aku akan membantumu, namun sebagai imbalannya, ada jiwa yang harus kubawa." Liao mengerjapkan matanya beberapa kali. Dendam. Ya, ia dendam dengan orang-orang yang merenggut keluarga dan gurunya. Mungkin, inilah jalan terbaik untuk dirinya. Memulai pembalasan dendamnya dengan makhluk dari neraka bernama Verno.
"Aku mengerti. Sekarang, yang aku inginkan, adalah kematian orang-orang yang membunuh Ayahku," ujar Liao dengan tatapan mata yang menjadi dingin. Verno mengangguk patuh. Segalanya sudah terlambat jika ia meminta untuk berhenti. Karena mulai saat ini, dirinya akan menjalani perjanjian itu.
Verno membantu Liao untuk bangun. Digenggamnya jemari Liao dengan lembut. Tubuh Liao masih lemas. Bukan hanya karena perbuatannya yang menghisap sebagian kecil darah Liao, namun karena pertarungan semalam serta pedang yang Liao gunakan menguras tenaga perempuan itu lumayan banyak. Pedang iblis.
"Sekarang, kau pikirkan saja kesehatanmu. Setelahnya, akan kubantu dirimu untuk menjadi lebih kuat," ujar Verno. Liao tersenyum tipis lalu mengangguk. Ia memang masih butuh seseorang untuk membantunya semakin kuat. Demi semua dendamnya.
"Dimana paman Vu?" Pertanyaan itu meluncur dari mulut Liao ketika dirinya dibantu Verno, berjalan keluar hutan.
"Ada di suatu tempat. Bersama kakaknya." Ucapan Verno membuat Liao semakin menunduk dalam. Ia merasa bersalah. Merasa, adalah orang yang patut dipersalahkan. Karena dirinya, Aravan terluka. Karena kecerobohannya, Aravan mati. Karena dirinya, Herlix memiliki niat buruk untuk membunuh Aravan. Karena dirinya, semua kekacauan berawal.
"Aku...,"
"Bukan salahmu. Ini semua adalah takdir." Kepala Liao langsung menoleh ke arah Verno yang ada di sebelahnya.
"Tapi tetap saja," Liao menghela nafas panjang, "semua adalah kesalahanku," lanjut Liao. Verno menghela nafas cukup keras, membuat Liao kembali menoleh ke arahnya.
"Jangan salahkan dirimu terus menerus, jika kau masih ingin menjadi kuat dan menyelamatkan Ibumu," ujar Verno dengan tajam. Aura Verno menjadi semakin tajam dan mengerikan, membuat Liao menahan nafasnya untuk beberapa saat. Verno yang sadar atas kelakuannya, menghela nafas panjang. Diusapnya punggung tangan Liao yang ada di genggamannya, membuat Liao tersentak kaget.
"Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin kau semakin terpuruk atas kematian gurumu itu," ujar Verno dengan nada menyesal. Liao menatapnya beberapa saat sebelum mengangguk pelan. Ia memilih untuk menunduk dibanding menoleh ke arah Verno yang masih menatapnya.
* * * * To be Continued * * * *
Ekhm, ekhm.
Cek-cek.
By the way
HAPPY 800th VIEWERS!!!
Kyaaaaa! Angka kesukaanku! Akhirnya nyampe diangka ini. Terima kasih untuk kalian yang udah baca cerita ini. Terima kasih banyak juga buat kalian yang udah klik tombol bintang sama kasih komentar ke cerita ini.
Tapi, sekali lagi, Fia belum puas sama apa yang udah Fia capai. Fia ingin semakin maju, semakin berkembang. Karenanya, Fia mohon bantuan sama kalian semua.
Jangan lupa klik tombol bintang sama komentarnya, ya?
Kalau mau say hai-say text, silahkan follow.
Big love for you all,
Fialesflo
25 Agustus, 2019
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasíaKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)