Sekali lagi, Liao menatap kosong ke arah di depannya. Tidak ada tangis sama sekali. Sedih, bahagia, marah, ataupun kecewa. Tidak ada yang terlihat di wajahnya. Benar-benar datar dan kosong. Seolah Liao hanyalah manusia tanpa jiwa. Mati, namun hidup.
Menghela nafas panjang, Liao menatap dengan kesadaran yang telah kembali ke arah gundukan tanah di hadapannya. Dengan satu pohon bunga yang tumbuh tepat di depan sebagai penanda.
Garis tipis di wajahnya mulai terukir. Ia begitu membenci dirinya yang begitu bodoh dan mudah tertipu. Tertipu hanya karena perasaan marah dan kecewa pada mereka. Bukan karena mereka sudah melupakannya, namun pada apa yang telah mereka lakukan padanya. Terlalu menyakitkan.
"Guru, apa yang harus aku lakukan?" Bisiknya dengan begitu lirih. Ia memejamkan matanya, hingga setetes air mengalir dari pelupuk matanya tanpa ia cegah. Ia biarkan siang ini, dirinya menjadi sosok yang teramat lemah di depan tempat peristirahatan terakhir orang yang ia sayangi. Gurunya. Orang yang juga mengajarkannya bermain pedang, dan memberikan pedang istimewa seperti ini.
Karena malam nanti, untuk pertama kalinya, bulan purnama akan muncul dan menyinari langit Eclar setelah sebelumnya selalu terhalang oleh kabut selama belasan tahun. Mengikuti matahari yang sudah dulu memberikan sinarnya pada Elcar. Namun, itu bukanlah petanda bagus untuk yang menyadarinya.
Sayang, hanya Liao yang tahu akan hal ini. Dan mungkin, Rean masih mengingatnya. Ia hanya berharap, pemikiran buruk tentang apa yang akan terjadi, tidak benar-benar terjadi.
Menundukkan kepalanya, Liao semakin mengeratkan pegangannya pada pedang yang ia bawa. Telinganya tidak bisa dibohongi, jika seseorang ada yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Liao..." Liao langsung menoleh. Helaan nafas lega terdengar jelas saat ia mendapati Rean yang berjalan semakin dekat ke arahnya.
Meski ia tidak tahu, kenapa Rean bisa berada di sini tanpa ada satupun pengawal, namun Liao memilih untuk tidak bertanya. Perhatiannya tertuju pada tatapan mata Rean yang kosong dengan jejak air mata yang terlihat jelas.
"Dia...dia membunuh Ayahku. Liao...Rofulus...aku ingin membunuhnya." Liao segera berdiri. Ia lalu memeluk Rean dengan begitu erat. Liao mengerti, akan perasaan Rean saat ini. Karena ia pernah berada di posisi itu.
"Tenangkan dirimu, Rean. Kau bisa melakukannya malam ini, sebelum perang itu mulai." Rean terdiam, lalu dirasakan oleh Liao jika perempuan itu mengangguk.
"Aku akan melakukannya dengan tanganku sendiri." Ujar Rean dengan pasti. Liao sendiri tidak melarang. Rean bukanlah anak kecil, dan perempuan itu pasti tahu apa yang akan ia terima atas setiap tindakannya.
"Persiapkanlah dirimu untuk perang malam nanti, Rean."
* * * *
"Kau tidak akan bisa membunuhku, pangeran bodoh." Zean menatap berang pria yang selama ini ia kira tidak akan berbuat aneh. Ia benar-benar tidak menyangka, jika Rofulus membunuh Ayahnya sendiri.
"Aku bisa membunuhmu!" Geram Zean, namun pria yang telah mendapat pukulan secara menerus di tubuhnya itu malah terkekeh.
"Kau akan menjadi raja pembunuh. Gelar yang begitu buruk." Kepalan tangan Zean semakin menguat. Ketika ia baru saja akan mengeluarkan pedangnya, seseorang tiba-tiba sudah mengarahkan pedangnya tepat di depan wajah Rofulus.
"Rean? Apa yang..."
"Pergilah. Perang tidak akan berlangsung baik tanpa ada dirimu." Ujar Rean begitu tenang tanpa menatap ke arah Zean. Tatapannya yang tajam seperti ujung pedang membuat Rofulus menegang.
"Perang? Apa maksudmu?"
"Pria ini, bekerja sama dengan para pemberontak untuk menghancurkan Elcar. Lebih baik kau pergi. Rofulus adalah bagianku." Zean masih enggan pergi meski Rean menyuruhnya yang kedua kali.
"Kau akan membunuhnya?" Kali ini Rean menoleh sebentar ke arah Zean, lalu menatap Rofulus dengan seringaian. Seolah seperti hewan buas kelaparan yang menatap mangsanya.
"Ya. Keluarganya sudah kubantai habis, lalu kenapa tidak dengannya?" Kedua pria itu terbelalak kaget. Tidak menyangka, jika seorang Putri, membantai habis satu keluarga bangsawan.
"Kau...RUPANYA KAU YANG TELAH MEMBUNUH KELUARGAKU!!!" Rean terkekeh. Tanpa ada sedikitpun rasa simpati, ia menyayat wajah Rofulus yang sudah terluka secara perlahan.
"Jika Liao akan langsung membunuh dalam sekali tebasan, maka aku akan membuatmu memohon untuk segera mati." Ujar Rean. Ia terlihat begitu menikmati kegiatannya.
"Pergilah, Kakak. Jangan sampai keinginan mereka terwujud. Liao ada di sana." Mendengar nama itu, Zean segera pergi tanpa berfikir panjang. Meninggalkan Rean dan Rofulus di ruangan yang teramat gelap itu.
"Mari kita bersenang-senang, tuan." Ujar Rean dengan seringaian.
Di lain sisi, Liao menyandarkan tubuhnya ke batang pohon yang menjulang tinggi. Semua kebenaran sudah ia ketahui, dan tidak ada alasan lagi baginya untuk menurut. Kecuali...
"Sudah kuduga, kau akan berada di pihakku, adik kecil." Liao hanya melirik sekilas ke arah Velix. Di tempatnya, terlihat beberapa anak buah Velix yang mulai bersiap.
Sebentar lagi, tahanlah sebentar lagi.
"Kau tahu? Sayangnya aku sudah menawarkan tubuhmu pada siapa saja yang berhasil membawa kepala Pangeran Zean-mu itu." Velix menyeringai ketika rahang Liao mengeras. Meski perempuan itu masih berusaha tenang.
"Mereka bersemangat sekali. Bahkan Raja Gio-pun menginginkanya." Velix segera meninggalkan Liao yang terlihat jelas menahan amarah. Jika saja karena bukan bagian dari rencananya, Liao dengan senang hati akan menebas kepala pria itu.
Menghela nafas panjang. Liao menatap ke arah rembulan yang malam ini bersinar begitu terang. Indah, namun akan menjadi pemandangan yang mengerikan.
* * * *
"Rean! Kenapa kau ada di sini!?" Rean menoleh sebentar ke arah Zean yang sudah menaiki kudanya. Dengan Nix yang berada di pinggangnya, Rean menatap ke arah depan dengan tajam.
"Liao memintaku untuk menjadi lawannya." Kalimat yang terucap dari mulut Rean membuat Zean terdiam. Ia menatap ke arah di mana lawannya akan mendekat. Dirinya benar-benar tidak mengerti, kenapa semuanya seperti ini.
Apakah...ini takdir yang kau maksud? Selama ini, berada di pihak musuh?. Kepalan tangan Zean mengerat. Melawan Liao tidak pernah ada dalam pikirannya. Dan jikalau keadaan memaksanya, ia takkan bisa. Ia tidak akan bisa melayangkan pedangnya pada orang yang ia cintai. Tidak akan pernah bisa.
"Fokus saja pada Raja Gio. Biar aku yang urus sisanya." Rean langsung menaiki kuda hitam yang telah ada di sebelahnya. Sehingga kini, ia dan Zean yang berada di barisan terdepan.
"Seharusnya kau tidak di sini. Kau harus hidup, jika aku mati di sini. Kau akan menggantikanku." Rean mendengus.
"Lalu membiarkan Liao menebas kepalaku? Tidak, terima kasih." Zean menghela nafas panjang. Dirinya merasa jika Rean mengetahui sesuatu, tapi tidak ingin memberitahukan hal itu padanya. Seperti rencana, namun entah apa itu. Zean tidak dapat menerkanya.
Next Chapter is Loading...
The War is will begin!!!
23 Maret 2019
Fialesflo
KAMU SEDANG MEMBACA
Sword [THE END]✓
FantasíaKisah antara seorang Pangeran dan seorang gadis dari desa. Satu takdir yang mempertemukan mereka, menjadi awal munculnya dua takdir yang berbeda. "Kita berada di takdir yang berbeda, Pangeran." Zean terdiam. Matanya langsung menatap lekat Liao, deng...
![Sword [THE END]✓](https://img.wattpad.com/cover/168832726-64-k752389.jpg)