Flashback-11

10 0 0
                                        

"Paman!" Aravu mengusap dadanya pelan. Setelahnya, baru ia menoleh ke arah Liao yang tengah tersenyum dengan lebar. Memasang wajah tidak bersalah setelah mengagetkannya.

"Kau tidak berlatih, hm?" Tanya Aravu, kembali melanjutkan pekerjaannya untuk membuat pedang.

"Hari ini? Tidak. Guru sedang pergi bersama Herlix entah kemana." Ujar Liao. Gadis itu segera mengambil duduk tidak jauh dari Aravu. Ia tidak boleh terlalu dekat dengan Aravu.

"Lalu, kau akan melakukan apa hari ini?" Liao mengedikkan bahu sembari menoleh ke sekeliling. Melihat beberapa pedang yang telah dibuat Aravu.

"Aku sendiri tidak tahu. Apakah paman memiliki ide? Aku tidak ingin menghabiskan hari ini dengan berdiam diri. Atau..., mungkin paman bisa menemaniku berlatih?" Aravu menggeleng. Pria itu menegakkan tubuhnya lalu menoleh ke arah Liao. Mendapati gadis itu tengah memegang salah satu pedang buatannya.

"Tidak mungkin aku menemanimu berlatih. Meskipun aku bisa membuat pedang, sejujurnya aku tidak bisa menggunakannya. Hanya Kakakku yang bisa." Mendengar itu, Liao mendesah kecewa. Ia berfikir, jika tubuhnya akan menjadi pegal karena tidak berlatih meski hanya sehari.

"Ah iya. Bagaimana jika kau berlatih di bukit saja? Di sana begitu sepi dan kau bisa melatih kemampuanmu dengan batang pohon yang sudah mati di sana." Beberapa saat Liao terdiam. Lalu, ia tersenyum lebar.

"Baiklah. Aku akan ke sana. Terima kasih atas saranmu, paman. Aku menyayangimu. Ujar Liao. Ia segera berdiri dan menyimpan pedang yang sedari tadi ia pegang ke tempatnya.

"Ya. Pulanglah sebelum matahari terbenam."

"Baiklah, aku mengerti." Setelahnya, Liao keluar dari rumah dengan pedang yang tersampir di pinggangnya. Pedang sama yang diberikan Aravan padanya beberapa hari yang lalu. Ia berjalan menuju bukit yang berada tak jauh di belakang rumah Aravan.

Meski rumah yang kini Liao tempati jauh dari kota, Liao tetap senang. Lagipula, rumahnya dulu juga berada dekat dengan hutan. Tempatnya yang sepi, membuat Liao dapat beristirahat dengan tenang. Dan juga, ia bisa leluasa berlatih pedang. Meski kini, ia tidak bisa diam-diam memperhatikan ksatria. Atau mungkin, bertemu dengan pria bernama Zean itu.

Liao menggeleng pelan. Saat ini, ia harus fokus pada tujuannya untuk menyelamatkan Ibunya. Tidak lupa, mencari siapa orang-orang yang telah membunuhnya. Jika bisa, ia ingin sekali menghabisi dalang atas pembunuhan kedua orang tuanya.

Begitu sampai di atas bukit, langkah kaki Liao terhenti. Tatapannya terlihat begitu terkejut saat mendapati pria yang ia kenal tengah berdiri menghadap ke arahnya. Pria yang ia jumpai sebelum akhirnya berada di sini.

Menghela nafas panjang, Liao kembali melangkah menuju batang pohon yang telah mati. Ia benar-benar mengabaikan pria yang terus memperhatikannya.

"Aku senang, saat tahu kau baik-baik saja." Liao mendengus pelan. Ia membalikkan badannya untuk menatap balik Verno.

"Aku melihatmu sebelum terjatuh ke dasar tebing. Kupikir, kau adalah bagian dari mereka." Ujar Liao lalu mengeluarkan pedangnya. Ia menggerakkan tangannya dengan perlahan, sebelum mulai menebas batang pohon itu dengan teramat kuat.

"Bekerja sama dengan mereka? Tidak. Mereka tidak pantas denganku." Liao terdiam beberapa saat sebelum mengedikkan bahunya acuh. Ia kembali menebas batang pohon itu dengan kuat.

"Sekarang, inikah caramu untuk menjadi lebih kuat?" Tanya Verno. Pria itu terus saja memperhatikan setiap gerakkan tangan Liao.

"Begitulah. Apa ada yang salah?" Verno menggeleng.

"Tidak. Tapi..., aku bersedia jika kau menginginkan teman berlatih." Liao menghentikan gerakkannya. Menatap Verno dengan sebelah alis yang terangkat. Sedangkan Verno benar-benar penasaran dengan kemampuan yang telah dimiliki Liao.

"Baiklah. Jika kau menginginkannya." Ujar Liao.

* * * * Fialesflo * * * *

I'm back.
Setelah menyadari kalau ane salah, mulai sekarang ane mau berubah.

Jangan lupa tombol bintangnya, ya. Kalau boleh, komennya juga biar sekalian :)

Juni 24, 2019
Fialesflo

Sword [THE END]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang