Dua Puluh Tujuh

35 2 3
                                        

Untuk pertama kalinya, setelah belasan bahkan mungkin puluhan tahun, Elcar kembali disinari sepenuhnya oleh sang matahari.

Istana terlihat lebih hidup, dengan tanaman-tanaman yang mulai bertumbuh dengan begitu cepat. Bunga-bunga yang semula hanya mampu hidup sampai menguncup, sekarang memekarkan mahkotanya dengan begitu indah.

Di sana, di lantai dua. Liao menatap ke arah sekitar istana. Wajah-wajah bahagia, terlihat dengan jelas di wajah para prajurit, dayang, bahkan anggota keluarga kerajaan pun tidak menyembunyikan raut kebahagiaan mereka.

Ya, hampir semua orang menampilkan raut kebahagiaan itu. Kecuali dirinya.

Tentunya, karena hanya ia yang tahu apa yang akan terjadi nanti.

Menghela nafas panjang. Liao memilih untuk melupakan sesaat, perihal apa yang ia ketahui. Jika saja diperbolehkan, ia ingin mengatakan hal itu. Namun kepada siapa? Ia tidak bisa mempercayakan hal itu pada orang lain.

Tubuh Liao tersentak pelan, ketika sepasang tangan melingkar cukup erat di perutnya. Bukan hanya itu. Lehernya pun merasakan hembusan lembut dari orang yang memeluknya ini.

"Ini indah sekali. Sangat indah. Kau pasti sudah sering melihat hal ini, bukan?" Tanya Zean.

"Ya, sering melihatnya sebelum saya memutuskan untuk tetap berada di Elcar." Lalu keheningan menyelimuti keduanya. Menikmati keadaan Elcar saat ini, yang seolah menjadi terlahir kembali.

Keadaan itu menjadi hening. Benar-benar hening, sebelum suara Rean mengagetkan keduanya.

"Liao, apa kau-- tunggu, siapa pria yang bersamamu?" Liao menyerngit saat Rean tidak mengenali kakaknya sendiri. Kebingungan Liao akan tingkah Rean terjawab, ketika Zean melepaskan pelukannya. Sehingga, Liao dapat mengetahui alasan kenapa Rean tidak mengenali Zean.

Karena pria ini tidak memakai topengnya.

"Dia kakakmu, Rean." Rean mengerjapkan matanya beberapa kali. Sungguh, meski sebelumnya ia melihat kakaknya itu melepaskan topeng, namun baru kali ini melihat lansung wajah Zean tanpa topeng.

"A-aku tidak percaya akan apa yang kulihat." Ujar Rean. Bukan hanya Rean saja sebenarnya yang terkejut, prajurit bahkan dayangpun ikut terpana melihat wajah Zean tanpa topeng yang begitu rupawan.

Liao mendengus pelan, sedangkan Zean terlihat tidak acuh. Pria itu kembali memeluk Liao dengan begitu erat, bahkan tidak malu untuk mencium bibir Liao di depan banyak orang.

Meski ini bukan kali pertama Zean mencium bibirnya di depan umum, namun tetap saja Liao tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.

"Kali ini aku yakin," Rean menatap ke arah Liao, karena tujuannya ke sini memang untuk menghampiri Liao. "Aku tidak menemukan Levia. Apa kau tahu di mana dia?"

Liao menyerngitkan dahinya beberapa saat, sebelum helaan nafas panjang terdengar oleh Zean, bahkan Rean. "Kau tidak akan bisa menemukannya lagi." Meski sedikit bingung, namun akhirnya, Rean mengedikkan bahunya lalu berlalu pergi begitu saja.

"Seharusnya, dia bisa sopan sedikit pada calon kakak iparnya." Liao kembali menyerngitkan dahinya. Ia menoleh ke arah Zean tanpa menghilangkan kerutan di dahinya.

"Apa maksud dari ucapanmu? Dan...kenapa kamu tidak memakai topengmu?" Zean terkekeh mendengar Liao yang menjadi cukup sering bicara akhir-akhir ini. Dengan gemas, ia mengecup bibir Liao beberapa kali.

"Kenapa? Aku merasa tidak perlu memakainya lagi, karena aku sudah bersamamu." Ucapan Zean, membuat Liao terdiam. Bahkan, Liao diam saja ketika Zean melumat bibirnya. Sepertinya, Liao tidak sadar karena pikirannya melayang entah kemana.

"Apa yang kau pikirkan, sayang ?" Liao mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu menggeleng pelan. Hal yang malah, membuat Zean terdiam.

* * * *

Mata Levia terbuka perlahan. Beberapa kali, ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Lalu setelah beberapa saat, ia bisa melihat jelas dengan kedua mata terbuka. Namun, justru dirinya menyerngit saat melihat ruangan yang ia tempati saat ini, didominasi berwarna merah pekat. Lentera-lentera menyala, sehingga ruangan ini terlihat begitu temaram. Sedangkan jendela yang, tertutup rapat oleh kayu yang sepertinya dipasang dari luar.

"Kau sudah bangun?" Levia tersentak. Ia langsung menoleh ke arah orang yang bicara. Itu Verno. Bukan dengan pakaian seorang Jendral perang lagi, namun menggunakan pakaian berwarna merah dengan garis dari benang emas, pakaian yang sama seperti seorang Pangeran...atau bahkan mungkin Raja.

"Aku yakin, kau tidaklah bisu." Verno langsung berjalan menghampiri Levia. Ia segera mengambil duduk di sebelah tubuh Levia yang tengah berbaring lemas. Di atas tempat tidurnya.

Levia terlihat hendak bangun, namun baru sedikit bergerak, bibirnya meringis. Sedangkan Verno memilih untuk diam saja.

"Aw..."

"Tubuhmu belum sepenuhnya sembuh." Ujar Verno sembari menyangga tubuh Levia dengan kedua tangannya. Ia membantu Levia agar duduk bersandar pada tubuhnya sendiri.

"I-ni...sa-kit." Verno mengusap dengan lembut rambut Levia yang panjangnya sudah sampai sepinggang.

"Itu tidak akan lama," Verno kembali menggerakkan tubuh Levia, sehingga berhadapan dengannya. "Aku akan menghilangkan rasa sakitnya."

Bibir Verno lansung menyentuh bibir Levia. Melumat bibir itu dengan perlahan. Levia sendiri yang memang merasa lemah, hanya bisa memejamkan matanya. Membiarkan Verno melumat bibirnya, hingga lidahnya mengecap rasa manis.

Mata Levia terbelalak, saat cairan itu tidaklah sedikit. Setelah beberapa saat, Verno menjauhkan wajahnya. Sehingga kini, Levia dapat melihat jika bibir bawah Verno mengeluarkan darah.

"Bi--"

"Kau milikku, sayang." Verno kembali menyambar bibir Levia. Tidak selembut tadi, namun menjadi cukup kasar.

Jiaaaao...akhirnya kok gini, ya?

Kok dikit? Maaf, ini bukan skripsi.

Next Chapter is Loading...

15 Maret 2019

Ja, mata ^,^

Sword [THE END]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang