[PROSES REVISI]
"Pertama, lo harus jadi cupu selama yang gue mau!"
Apa jadinya jika seorang badgirl, tukang rusuh dan pembuat onar di SMA Bakti Buana mendadak mengubah cupu penampilannya? Ya, Mery Thevania harus merasakan itu saat pertama kali bert...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Chapter 32: Dongeng Masa Kini
Aku hanya kembali untukmu, tidak lebih untuk yang lain, karena hati ini sudah nyaman dan enggan untuk melepaskan.
•••
Sesuai perintah Aldevan, Mery berjalan menuju perpustakaan, tempat yang bahkan tidak pernah sama sekali ia kunjungi itu. Dari dulu, Mery memang malas pergi ke perpustakaan, menurutnya itu hanya membuang waktu apalagi aura nerd berhamburan di sana.
Dengan langkah malas, ia melewati koridor sambil sesekali melirik ke samping, tentu saja ia takut ketahuan Bu Martha. Beberapa kelas dengan murid di dalamnya sudah duduk rapi. Meski begitu Mery ogah mempedulikan kelasnya yang kemungkinan melakukan hal sama.
Sesampainya di perpustakaan, mata Mery langsung menangkap sosok Aldevan yang duduk pada salah satu kursi sambil fokus membaca buku, saking fokusnya cowok itu tidak menyadari kehadiran Mery.
Mery mendengus, apakah Aldevan ingin mengajarkannya sesuatu? Kalau tau begitu sih, mending dia kabur saja.
Males bgt gue disuruh belajar, batin Mery.
Berniat kabur, Mery berbalik namun deheman seseorang menghentikkan langkahnya.
"Ekhem, mau kemana lo?"
Mery membalik badan, ternyata sudah ada Aldevan di hadapannya.
"Em-mau ngambil hp, ha ah hp gue ketinggalan. Gue ambil bentar."
Namun baru saja berbalik, Aldevan mencekal tangannya. Mery meneguk salivanya kasar.
"Di perpustakaan dilarang main hp, semua pengunjung yang datang niatnya sama, baca buku," kata Aldevan lengkap dengan wajah datarnya.
Mery mengusap tengkuknya salah tingkah, ia nyengir. "Terus apa niat lo nyuruh gue datang ke sini? Baca buku? Belajar? Ogah ah, entar gue pusing lagi," sahut Mery sekenanya.
Aldevan menggeleng pelan sambil berdecak beberapa kali. "Niat lo sekolah apa sih, Ry? Nyari pacar, main-main terus nyari temen kesenangan. Lo juga harus mikirin perjuangan bokap lo yang nyari duit susah payah demi sekolahin lo," tutur Aldevan.
Mery mengerucutkan bibir, ia tak habis pikir dengan Aldevan. Baru jadi pacar saja ceramahnya minta ampun, apalagi suami, bisa-bisa ia diminta belajar ngaji tiap hari.
"Ih, nggak usah ceramah juga kale, ke topiknya aja langsung. Atau lo mau kita mojok lagi kaya kemaren? Pintar banget lo milih tempat, tapi ini nggak terlalu sepi. Ada kutu buku tuh di sana." Mery menunjuk siswa berkacamata yang tengah membuka lembaran buku paket tebalnya, Aldevan pun mengikuti tatapan Mery.
"Sembarangan." Aldevan menjitak kepala Mery. "Gue mau ngomong sesuatu sama lo," lanjut Aldevan, memang rencananya itu. Banyak hal yang ia harus ketahui dari Mery, terutama soal cowok yang berkelahi dengannya pagi tadi.