[PROSES REVISI]
"Pertama, lo harus jadi cupu selama yang gue mau!"
Apa jadinya jika seorang badgirl, tukang rusuh dan pembuat onar di SMA Bakti Buana mendadak mengubah cupu penampilannya? Ya, Mery Thevania harus merasakan itu saat pertama kali bert...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Chapter 44: Semua Untukku
Memang menimbulkan luka saat kita memperjuangkannya, tapi akhir yang manis akan menutupnya secara perlahan. •••
Pening, sakit perut, dan penglihatannya memburam. Setidaknya itulah yang dirasakan Aldevan sekarang. Setelah berulang kali memuntahkan semua isi perutnya, kini cowok itu bersandar pada tembok di belakangnya. Menahan gejolak aneh yang ada di perutnya.
"Lo yakin gapapa, sini gue bantu lo ke UKS. Lo minta bisa obat di sana," ucap Kevin yang sedari tadi berada di sampingnya.
"Nggak perlu, sebaiknya lo tinggalin gue aja. Biarin gue sendiri. Gue takut Mery liat," jawab Aldevan, wajahnya memucat.
Kevin maju selangkah, ia menatap Aldevan. "Kenapa lo takut Mery liat?"
"Gapapa."
"Masa?"
"Vin. Lo ngerti perintah gue nggak?!" kali ini suara Aldevan naik satu oktaf.
Mengerti, Kevin pasrah. Ia bersuara lalu menepuk pundak Aldevan. "Oke, karena lo sedang emosi. Lo tunggu di sini, gue ambilin obat."
Tanpa mendapat respon, Kevin pergi dari hadapannya. Aldevan sekilas mendapati cowok itu membuka bekal pink milik Mery. Bukan hanya itu, Kevin juga mencicipinya.
Kevin berdecih, ia seperti memuntahkan sesuatu dari mulutnya.
"Pantesan, lo makan nasi yang nggak ada rasanya. Apalagi telurnya, asin banget dah," gumam Kevin. "Gue bakal kasih tau Mery."
"Vin jangan," tegur Aldevan. Namun nihil, Kevin lebih dulu enyah dari sana. "Vin!"
Aldevan pasrah pada nasibnya, tangannya kini dingin dan berkeringat. Ia merasa kedinginan, seperti masuk angin. Badannya lemas. Ia hampir saja jatuh jika tangan lain tidak sigap menahan bahunya.
"Mau sampai kapan lo kayak gini?" tanya si pemilik tangan.
Dari suaranya saja Aldevan sudah tau, tanpa menoleh ia menjawab malas. "Sampai lo bener-bener lenyap dari hadapan gue, Na. Lepasin. Jangan pegang gue." Aldevan menepis tangan Hana dari bahunya.
"Tapi gue nggak akan lenyap. Gue selalu ada buat lo," jawab Hana pede.
"Artinya lo penyakit buat gue. Tanpa lo sadari, lo seperti benalu bagi gue. Lo hinggap di antara hubungan gue dengan Mery."
Hana menggeleng cepat. "Salah. Mery justru benalu hubungan gue dengan lo. Dia perusak."
"Bukan perusak. Pengobat hati," tukas Aldevan, ia mengambil duduk pada salah satu kursi.
"Lo kenapa sih selalu belain dia?! Saat lo sendiri sadar lo bertahan sesakit ini karena tuh cewek," bentak Hana. Ia menatap Aldevan terluka. "Lo luka karena dia, lo muntah demi belain masakan dia, kenapa lo harus bohong demi semua kesalahan dia?"