23. Jadi (an)

621 44 1
                                        

Pagi ini, Aldifa sudah memantapkan hatinya untuk melakukan sesuatu. Ia sudah berpikir semalaman dengan ditemani Kalea dan Kelvin. Mereka—si kembar—benar kalau dirinya terlalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Padahal belum tentu yang ia takutkan akan terjadi. Masalah yang datang belum tentu seberat batu besar. Dan seberat-beratnya masalah akan ada jalan keluarnya.

Aldifa meminta Kalea untuk mengirim pesan pada Leo mengenai Alfan. Kalea yang mendapat permintaan itu dengan senang hati menerimanya. Menyangkut Leo, Kalea akan senang.

"Dif, kata Kak Leo, Kak Alfan nggak sekolah. Dia sakit," kata Kalea matanya masih fokus dengan benda pipih di tangannya.

Aldifa menghela napas, ia mengangguk pelan. Beberapa detik kemudian Kalea kembari bersuara.

"Gue nanya sakit apa, dan jawaban Kak Leo enteng banget. Liat nih,"

Kak Leo

Emg sakit apa kak?

Biasalah, kecapekan. Terlalu sibuk ngurus les anak kelas sebelas.

Aldifa tahu Leo berbohong. Tapi ia tidak bisa apa-apa selain satu hal. Menemui Alfan di panti asuhan. Ia perlu berbicara langsung dengan cowok yang berhasil menggantikan Alfin dihatinya.

Dan Aldifa hanya ingin, Alfan tetap bersamanya.

"Jadi gimana, Dif?" tanya Kalea.

"Pulang sekolah nanti gue bakal pergi ke panti,"

"Butuh pengawalan nggak, Dif?" tanya Kelvin diakhiri kekehan ringan.

Aldifa ikut terkekeh, "Nggak perlu."

***

Langkah Aldifa bergegas keluar gerbang sekolah. Diliriknya jam tangan yang tersemat di pergelangan tangan kirinya. Pukul tiga lebih lima belas menit. Aldifa berdecak sebal. Kalau saja guru mata pelajaran biologi tidak memintanya untuk memeriksa tugas teman sekelasnya, Aldifa tidak akan sesore ini pergi ke panti asuhan.

Dalam perjalanan, pikirannya bercabang kesana-kemari. Apa yang harus dilakukannya saat bertemu Alfan nanti? Aldifa hanya berpikir untuk meminta maaf saja, tapi ia belum tahu alasan apa yang harus diutarakannya.

Rambut yang tergerai ia acak-acak, frustasi. Membuat semua pasang mata yang berada diangkot menatap Aldifa aneh.

Tatapan Aldifa menatap jalanan yang sedang dilewati. Sebentar lagi ia akan sampai dan itu membuat jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin membanjiri pelipisnya.

Kok gue grogi gini, sih?

Aldifa turun dari angkot setelah membayar ongkosnya. Ia harus berjalan kurang lebih 50 meter untuk sampai di panti asuhan.

Kaki nya berhenti melangkah saat sampai di depan pagar panti asuhan. Pandangannya menyapu halaman depan. Sepi.

Pagar bercat putih yang sudah berkarat itu berdecit saat Aldifa membukanya. Tanpa pikir dua kali, Aldifa langsung mengetuk pintu dengan ukiran bunga yang begitu indah. Selang beberapa detik, terdengar bunyi pintu yang dibuka kuncinya.

"Ya—Aldifa?"

Aldifa tak berani menatap cowok di depannya. Yang ia lakukan sekarang hanya menunduk, menatap sepatu converse hitam miliknya. Seketika lidahnya kelu, semua kata-kata yang perlu diucapkan hilang begitu saja. Bahkan saat ini otak pintarnya tak bisa digunakan untuk merangkai kata baru.

Triple Al [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang