Pencuri Kecil

443 72 5
                                        

Daun yang meranggas menutupi penglihatannya. Shela menurunkan pandangannya menatap wajah Shabir yang begitu menjengkelkan. Perlahan tangan kanannya naik ke atas dan memukul wajah Shabir.

Shabir memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia mengabaikan Shela yang memukulnya. Ia tidak terlalu memedulikan pukulan tangan kecil itu karena tidak terlalu sakit. Kakinya terus melangkah hingga akhirnya dia berhenti di depan rumahnya.

Shela diturunkan di samping motornya. Shela kembali memukul Shabir dan berlari. Namun Shabir menahannya dengan tangan kiri dan Shela berontak. Ia menarik tubuh Shela kemudian memangkunya.

"Diam sebentar, aku akan menghidupkan motornya," ucap Shabir terdengar begitu lembut. Berbeda jika berhadapan dengan Zehhad. Nada suaranya selalu meninggi.

Shela diam tanpa gerakan. Bibirnya mengatup tanpa bicara hingga Shabir selesai menghidupakan motornya. Sadiah melangkah keluar dengan memegangi kerudung merahnya. Dia mengambil Shela dan membiarkan Shabir selesai dengan urusan motornya.

"Tolong ganti bajunya, aku akan menunggu sambil memanaskan motor," titah Shabir yang serentak membuat Sadiah pergi dan masuk ke dalam rumahnya.

Sadiah tersenyum pada Shela dan mencubit pipinya. Tetapi perempuan kecil itu tidak kunjung tersenyum. Dia terus menunjukan wajah cemberutnya pada Sadiah.

Shela dibawa masuk ke dalam sebuah kamar tidur. Tubuhnya yang kecil kini dapat menapaki lantai. Shela memerhatikan Sadiah yang sedang mengambil pakaian. Dia memikirkan Zehhad, baginya Zehhad adalah yang terpenting.

"Ada masalah apa Shela? Di mana piring yang kamu bawa?" tanya Sadiah sembari memasangkan baju yang cocok kemudian beralih ke baju yang lain.

Shela masih bergeming. Dia mendorong baju yang Sadiah berikan. Wajahnya kembali tenggelam pada senyum yang pudar. Shela tidak terima dipisahkan dari kakanya. Ia selalu merasa kesepian jika tidak sedang bersama Zehhad.

"Kenapa Shela, kamu tidak mau memakai ini?"

Shela masih diam hingga Shabir datang. Pria itu masuk tanpa izin dan merebut pakaian yang dipegang Sadiah. Kedua matanya menatap wajah Shela yang cemberut. Shabir sangat tidak menyukai sikap Shela yang ketika jauh dengan Zehhad.

"Pakai ini Shela, kita akan pergi. Kamu bisa membeli barang untuk Zehhad," ucapnya membuat senyum Shela kembali terlihat. "Ayo ganti bajumu, paman akan menunggu di luar." Shabir mengecup kening Shela dan memberikan pakaian yang dipegangnya kepada Sadiah.

Pintu kamar itupun tertutup. Sadiah mulai melepas baju Shela tetap dengan senyuman. Shela begitu bahagia mendengar kalimat yang diucapkan Shabir. Pamannya memang selalu mengerti ia. Tetapi, apakah itu menyakinkan?

"Kamu akan membeli barang apa untuk kakak?" Sadiah memakaikan baju itu pada tubuh putrinya.

"Mobil-mobilan!" ucapnya membuat Sadiah tertawa.

"Mobil-mobilan itu hanya untuk anak kecil, Zehhad sudah besar. Bagaimana jika tasbih? Kakakmu tidak mempunyai tasbih yang bagus bukan?"

Shela mengangguk mengiyakan. Dia tersenyum pada Sadiah kemudian memeluknya. Mengingat tasbih membuatnya merasa kasihan pada Zehhad. Selama ini Zehhad selalu menggunakan biji gandum yang dia buat menjadi tasbih. Tasbih buatannya hanya bisa digunakan dalam satu hari, setelah itu biji gandumnya hancur dan lepas dari benang pengikat.

"Pergilah, paman sudah menunggu di luar." Sadiah melepas pelukannya dan membiarkan Shela pergi keluar.

Dia berjalan mengikuti putri kecilnya berlari. Shela melambaikan tangan kirinya dan dia naik ke atas motor. Sadiah tersenyum melihat Shela yang senang dibawa pergi oleh suaminya. Entahlah, hatinya selalu berbahagia jika melihat Shabir dapat membuat Shela dan Zehhad tersenyum.

Matahari mulai naik menandakan pergantian waktu. Shela memegang kemeja yang dikenakan Shabir. Mereka berdua menumpangi motor gigi itu cukup lama hingga akhirnya berhenti di depan sebuah toko.

"Tunggu di sini ya, paman akan membeli makanan untukmu," ucap Shabir yang kemudian pergi masuk ke dalam sebuah toko.

Shela menatap jalanan yang begitu ramai. Ternyata banyak orang-orang yang hilir mudik dari Gaza ke ibu kota. Shela tersenyum ketika mendapati seorang pria sedang bermain bersama adiknya. Mereka melakukan permainan batu gunting kertas dan Shela terpikir untuk melakukan itu.

"Pegang ini!" titah Shabir yang baru saja keluar dari dalam toko dan menyodorkan Shela kantung belanja.

Shela melihat apa yang dibungkus oleh kantong itu. Dia melihat beberapa roti coklat yang sepertinya sangat lezat. Shabir kembali memutar kunci motornya dan membuat Shela berpegangan. Motor itu kembali melaju bersama kendaraan lainnya.

Matahari kembali begeser namun tidak lekas membuat mereka sampai pada tujuannya. Perjalanan mereka begitu lama sekali hingga tepat pukul satu siang Shabir baru bisa mengistirahatkan lengannya.

Shabir mencabut kunci motornya dan memangku Shela. Ia membawa perempuan kecil itu ke dalam sebuah pasar dan berhenti di depan penjual gandum.

"Jangan pergi kemana-mana." Shabir menurunkan Shela dan berbicara dengan penjual gandum di sana.

"Berapa harga gandum sekarang?" tanyanya sambil memegang beberapa butir gandum yang ditunjukan.

"Seberapa banyak yang kau punya?" balas penjual gandum itu sambil melepas topinya karena kepanasan.

"32 kuintal. Laku berapa di sini?"

"140 Dinar Yordania."

"Tidak, dalam Shekel Israel."

"134."

"Kau tidak bercanda?"

"Tentu tidak. Jika tidak ingin menjual di sini silahkan pergi ke toko lain. Tawarkan gandum sesuai harga yang kau inginkan."

Shabir menoleh kebelakang. Shela tidak ada di sana dan membuatnya panik. Ia segera pergi meninggalkan penjual itu dan melihat beberapa orang sedang berkerumun. Alisnya menganggkat betapa bingungnya dia. Shabir masuk ke dalam keramaian itu dan melihat Shela sedang duduk sambil memegang sebuah tasbih.

Tangannya mengambil Shela dan memangkunya. Semua orang menatap dia dengan padangan mengintrogasi. Shabir mengambil tasbih yang dipegang Shela namun Shela menolaknya.

"Hei tuan! Dia mencuri benda itu dari tokoku. Apakah kau tidak mengajarkan dia sopan santun?" ujar seorang pria tua mengenakan peci putih dan membuat semua orang tertawa mendengar apa yang dia katakan.

"Berapa harganya?" ucap Shabir berusaha menahan malu.

"13 Shekel."

Shabir mengambil dompet dari belakang saku celananya dan mengambil beberapa lembar uang.

"Ini! Ambilah dan jangan menjadikan anak kecil sebagai bahan tertawaan." Shabir memberikan 13 Shekel dan pergi dari dalam pasar itu. Dia benar-benar merasa malu dengan apa yang dilakukan Shela.

"Maafkan aku paman," ucap Shela tapi tidak mendapatkan jawaban.

Dia duduk di jok belakang dan menunggu Shabir untuk segera naik. Motor itu kembali hidup dan Shabir lekas meninggalkan pasar Yerusalem Timur. Antara malu dan rasa penuh kasih sayang membuatnya tidak dapat melakukan apapun. Bahkan, untuk memarahi Shela rasanya sulit sekali. Berbeda dengan Zehhad. Shabir akan lebih mudah memarahi putra angkatnya dibadingkan dengan Shela.

Di bawah terik matahari Shela tersenyum bahagia. Sekarang Zehhad tidak akan menggunakan biji gandum sebagai tasbih. Ia sangat senang sekali ketika membayangkan wajah Zehhad yang bahagia ketika diberikan tasbih itu.

🕊️🕊️🕊️

PALESTINACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang