"Bahkan seorang pria pun akan menangis jika harapannya telah tiada."
-----='FRAY FOR PALESTINE'=-----
Angin menyapu pelan padang zaitun. Pohon-pohon berdiri seperti saksi bisu sejarah yang tak pernah selesai ditulis. Dua daun kering melayang jatuh—nyaris tanpa suara, seolah takut mengganggu damai yang menggantung tipis di udara.
Di antara bayang-bayang pohon itu, ada anak perempuan berumur 5 tahun duduk tenang di atas papan kayu lapuk. Usianya lima tahun. Kerudung putih membingkai wajah beningnya. Rambutnya yang demo keluar sedikit dari kerudung, memperlihatkan peraduan warna pirang dan cokelat yang sempurna. Mata biru langit menatap rubik berwarna-warni yang belum juga selesai.
“Masih bingung?” tanya anak laki-laki sambil duduk di sebelahnya.
Shella mengangguk pelan. “Merahnya selalu gagal. Ujung sini!” tunjuknya.
Laki-laki itu bernama Zehhad. Usianya selisih 6 tahun dengan Shella. Matanya seperti zamrud di belakang bukit Sabda Bahagia. Wajahnya meneduhkan hati, begitu tampan. Kulitnya bersih, apalagi saat ia tertawa. Dunia seperti mengadakan pesta besar tujuh hari tujuh malam.
Zehhad tersenyum. “Coba istirahat dulu. Nih... Kakak bawain makanan.”
Shella memandang kotak makan itu. “Apa isinya?”
“Gandum. Kakak tumbuk sendiri.”
Shella menarik napas. Matanya mendung. “Aku nggak lapar.”
Zehhad mengusap puncak kepalanya. “Shella... makan, ya. Kalau Kakak bisa pilih, pasti Kakak kasih ayam, kasih daging unta, atau apapun yang kamu mau. Tapi sekarang cuma ini.”
Shella diam. Ia tahu kakaknya selalu berusaha memberikan yang terbaik. Tetapi hanya gandum dan gandum lagi yang hampir setiap hari disajikan. Perlahan, ia terima kotak itu. Ditaruhnya di samping.
“Shella, dapat kerudung dari mana?”
Pipi selembut tisu itu memerah. Rona langit tampak di celah lesung pipi.
“Dari, Nur.”
Zehhad tersenyum. “Mau Kakak tutor nggak?”
Shella mengangguk. Begitu antusias. Kain putih itu dibentangkan. Berpindah tangan ke Zehhad.
“Lihat nih!” Zehhad mengenakan kerudung itu. Mereka tertawa bersama.
Sekarang Zehhad melepas kerudung itu. Membuat lingkaran di wajah Shella. “Kalau pake kerudung Allah makin sayang, loh.”
Jarinya menyetuh pipi Shella. Menatapnya sebentar lalu tersenyum.
“Kakak bantu selesaikan rubiknya, ya?”
Shella menyerahkannya. Dalam hitungan detik, rubik itu selesai. Warna-warninya membentuk harmoni yang dulu hanya jadi impian.
“Wah!” Shella terkagum. “Kakak hebat!”
Zehhad hanya tertawa kecil. “Udah ya. Kakak ke kebun dulu. Makanannya, tolong jangan dibuang.”
Ia berdiri. Debu melekat di ujung bajunya. Langkahnya menjauh, meninggalkan jejak di antara tanah dan rapalan doa.
“Seberat apapun dunia, aku ingin kau tetap tertawa, Shella…” bisiknya, nyaris tak terdengar.
Shella menatap kepergiannya. Angin kembali berdesir, membawa serpih kenangan yang tak sempat jadi cerita.
Ia menutup kotak makan, lalu menoleh ke danau. Seorang pria tua duduk diam di sana.
Danau itu sangat luas, seperti hamparan permadani kaca yang memantulkan cahaya langit sejauh 166 kilometer. Tempat yang menghubungkan Mesir dengan kerajaan-kerajaan di sebelah utara. Dijaga bukit Indah dengan pemandangan luar biasa.
“Assalamualaikum...” sapa Shella.
Tak ada jawaban.
Ia mendekat. Menarik pelan baju si kakek. “Kakek... udah makan?”
Pria itu menoleh. Mata setua senja. Kosong, dalam, seperti menanti sesuatu yang tak lagi pulang.
Ia hanya menggeleng.
Shella mengulurkan kotak makan.
Ditolak.
Tapi ia mencoba lagi, lebih lembut. Kali ini, pria itu menerimanya. Jemarinya gemetar.
“Mirip kamu, Kasuari... matanya, kulitnya, bibirnya. Tapi kita tak bisa satu, hanya karena pilihan,” bisik pria itu dalam hati.
Shella membentuk isyarat dengan tangan—bahasa yang diajarkan Zehhad. Tapi si kakek bingung.
“Kakek ngerti nggak?” tanyanya. “Shella cuma bilang...”
Tiba-tiba, seekor kupu-kupu hinggap di telapak tangannya.
“Kupu-kupu...” gumamnya.
Ia mendekatkannya ke pipi, hendak menciumnya. Tapi suara pria tua itu mengejutkan. “Main sama temanmu saja.”
Shella terdiam. Si kakek bangkit, bertumpu pada tongkat, lalu pergi meninggalkan aroma usia dan kehilangan.
Kupu-kupu itu terbang ke danau. Sayapnya menari di atas air, lalu hinggap di bunga teratai.
Shella tersenyum, lalu berbisik: “Bismillah... buat Kakak.”
Ia meninggalkan kotak nasi dan rubik di atas rumput. Kakinya melangkah ke danau. Air menyentuh mata kaki, lalu naik ke lutut. Teratai itu terlalu jauh.
“Sedikit lagi...”
Ia raih bunga itu.
Tapi air tiba-tiba sudah sampai dada. Napasnya tercekat, tertutup air sedalam 8 meter.
“Shella!!” suara kecil menjerit. Itu Nur, temannya.
Nur meletakkan Al-Qur’an di batu. “Tahan, Shella! Jangan gerak!”
Shella menggapai ranting yang menjulur dari pinggir danau. Tapi sial, ranting itu patah. Air menyusul masuk ke mulutnya. Ia tersedak.
Nur panik. Matanya menyapu tanah, mencari apapun.
Kosong.
Tak ada tali.
Tak ada dahan.
Tak ada siapa-siapa.
Satu-satunya harapan: Zehhad.
Ia berlari ke kebun. Napasnya tersengal. “Bang! Tolong Bang!”
Zehhad menoleh. Wajah Nur pucat, matanya gemetar.
“Shella... tenggelam... di danau!”
Zehhad terdiam.
“Shella?” ulangnya pelan.
Air matanya jatuh.
“Naik, Nur!” serunya tiba-tiba. Ia berjongkok. “Cepat!”
Nur naik ke punggungnya.
Zehhad berlari. Tanpa alas kaki. Telapak kakinya berdarah-darah, duri kecil menusuk tanpa belas kasihan.
Hanya satu yang penting: Shella.
Dalam hatinya ia berdoa, dalam luka:
“Ya Allah... jangan ambil Shella. Jangan padamkan cahaya terakhirku.”
Angin berbisik lebih kencang. Langit seperti menahan napas. Awan hendak menangis.
Dan bumi hanya mengulang satu doa yang tertinggal di udara:
“Tolong... biarkan Shella tetap hidup.”
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
KAMU SEDANG MEMBACA
PALESTINA
Fiksi RemajaKisah yatim piatu yang hidup di tengah konflik dua negara. Zehhad sebagai Kakak hanya bisa memberikan dunia fantasi untuk Shela, adiknya. Ia tidak tahu kapan peperangan itu berakhir, sampai suatu saat. Perjuangan mereka untuk hidup bersama dihalangi...
