Tertanggar Di Atas Pagar

220 41 11
                                        

Cahaya matahari perlahan menyasar pada kegelapan. Mereka membelenggu Zehhad di atas mobil yang melaju dengan cepat. Terkadang sesuatu seperti ledakan bom membuat getaran yang sangat tinggi. Akhirnya pengemudi perlahan menginjak rem.

Zehhad menggerakkan tangan kanannya untuk memegang kepala yang kini mampu menjadikan penglihatannya lebih jelas. Namun tentara di sampingnya selalu menahan Zehhad untuk memalukan sesuatu.

"Kenapa kalian merusak Palestina!" bentak Zehhad pada mereka.

Mereka hanya diam tanpa menjawab apa yang Zehhad katakan. Tentara itu lebih mementingkan tugasnya dari pada orang-orang yang mereka bawa. Meskipun Zehhad berontak dan berusaha untuk melompat, tetapi tetap para pria itu selalu menahannya.

Mobil itu berhenti di atas tanah yang tandus dan berulang kali menerbangkan debu. Zehhad di dorong dari atas mobil hingga tersungkur ke permukaan tanah yang kotor. Ia meranggak hendak menjauh tetapi sebuah kaki mendang dadanya.

Zehhad kali ini tersungkur di hadapan para penduduk Gaza yang tangannya diikat dengan tali. Mereka mengerjap merasakan perih dalam batinnya. Bahkan para wanita terlihat meneteskan air mata melihat perlakuan mereka pada Zehhad.

"Kemarilah anak muda," bisik pria berjanggut tipis di samping Zehhad.

Zehhad menatap wajah pria itu dengan sendu. Perlahan tangan kanannya mengulur ke depan untuk mendapatkan sebuah pertolongan. Tetapi tentara itu kembali menendangnya hingga akhirnya ia diam dengan posisi terlentang.

Ia menatap langit yang perlahan membiru. Tangan kirinya terasa sakit ketika seorang tentara menariknya dan membelitkan sebuah tali pada kedua sikutnya.

Pinggangnya terasa sakit sekali. Sepatu tentara itu telah membentur tulang rusuknya. Zehhad menutup matanya. Merasakan betapa tersiksanya tangan kirinya yang terikat sebuah tali.

"Arggh....!" gumamnya ketika merasakan darah yang mengalir dengan lancar harus tersendat karena ikatan yang sangat kuat.

"Berbarislah!" ucap seorang tentara sembari menarik baju Zehhad dan menghempaskannya ke ke barisan penduduk Gaza.

Pria tadi meraih tubuh Zehhad dan mendudukkan di sampingnya. Ia menatap wajah Zehhad yang memerah segaris. Zehhad hanya menunduk, merasakan nyeri pada pinggangnya.

"Sabar, mereka memang kejam," ucapnya pada Zehhad pelan.

Zehhad hanya diam tanpa suara. Ia merasakan ngilu di seluruh bagian tubuhnya. Tentara itu tidak kalah kejam dengan Shabir. Mereka sama saja, penyiksa.

Mereka kembali pergi dengan mobilnya dan hanya meninggalkan kelompok kecil untuk menjaga penduduk Gaza. Perlahan Zehhad menaikan pandangannya dan menatap beberapa orang diangkut masuk ke dalam mobil. Ia kembali menunduk, tetap berharap untuk bisa kembali menemukan Shela.

"Bawa dia dan jangan lupakan pria di sampingnya!" tunjuk seorang tentara pada Zehhad.

Beberapa orang menghampiri Zehhad dan menarik tangan kanannya. Ia berdiri dengan sangat lemah. Pandangannya tetap menunduk, seperti pasrah dengan apa yang akan terjadi.

Sebuah mobil dengan bak terbuka menyambut kedatangannya. Zehhad duduk di samping penumpang lainnya dan pergi meninggalkan tempat itu.

"Kalian pengkhianat! Hanya mampu bergerombol untuk menindas rakyat."

Zehhad menatap pemuda yang sedang memberontak. Perlahan pemuda itu tidak lagi terlihat seiring dengan mobil yang mejauhi tempat itu. Ia menunduk dan menutup air mata. Berharap Shela ada dalam keadaan selamat saat bertemu dengannya.

"Sstt!" Pria itu menyikut lengan kanan Zehhad.

Zehhad memutar lembing tatapannya. Ia memerhatikan gerak bibir pria itu. Hanya sesuatu yang ia mengerti, yaitu kabur dan melompat dari atas mobil. Tetapi Zehhad tidak bisa melakukannya. Ia takut dirinya akan terluka lebih parah dan membuat Shela nada menangis.

"Maaf paman, aku tidak bisa melakukannya."

Mobil itu membuat mesinnya berpacu dengan waktu. Roda-rodanya menggeling satu-persatu partikel debu hingga akhirnya berhenti di depan sebuah tempat yang sangat ramai.

Zehhad melompat dari atas mobil dengan yang lainnya. Mereka menggiring masuk penduduk Gaza yang dibawanya memasuki tempat itu.

Dua orang pria pemegang senjata berdiri di depan pintu masuk. Mereka memberikan hormat dan mempersilahkan Zehhad serta yang lainnya untuk masuk.

Suara riuh terdengar. Besi-besi itu ditarik tangan-tangan manusia. Menciptakan suara bising yang mendesing dalam telinga. Zehhad mengedarkan pandangannya pada setiap jeruji besi yang penuh dengan manusia. Dalam langkahnya ia bersenandung, menyanyikan sebuah shalawat yang sering diucapkan Shela.

Tentara itu mendorong tubuh Zehhad hingga masuk ke dalam jeruji besi bertemu dengan tahanan lainnya. Kedua matanya menatap nanar ke depan. Menatap satu-persatu manusia memberontak meminta dibebaskan.

Seorang pria berbedan tegap mendorong Zehhad hingga membentur dinding. Ia mengadukan punggung Zehhad dengan tembok penjara.

"Kenapa! Kenapa kau tidak memberontak agar kami bisa keluar dari tempat yang hina ini!" ucapnya sembari menggoyangkan tubuh Zehhad.

Zehhad hanya menunduk tanpa sekalipun melawan. Bukan ia tidak berani, tetapi ia berusaha untuk mengikat tali persaudaraannya dengan kuat. Tidak pernah sekalipun ia berfikir untuk merusak hubungan persaudaraan.

"Sudah-sudah," ucap seorang kakek yang memakai peci putih di kepalanya. Tangannya bergerak melepaskan tangan pria itu dari bahu Zehhad. Tasbih yang dipegangnya berulang kali mengenai dada Zehhad hingga membuatnya menjadi teringat sesuatu.

Zehhad kembali mengingat barang berian Shela yang Shabir hancurkan. Tasbih yang sudah dipegangnya kuat-kuat telah berhamburan tak lagi menjadi satu. Zehhad menginkan Shela. Cukup sedetik saja ia merasakan pelukan Shela, maka semua keadaan ini tidak akan terlihat nyata.

"Tidak ada yang salah dengannya. Dia melakukan tindakan yang benar. Jika dia memberontak, mereka mungkin bisa saja menembaknya," bela kakek itu sembari memegang lengan pria itu.

Pria berjanggut tipis itu akhirnya berjalan pelan menghampiri Zehhad, yang sebelumnya hanya diam di dekat jeruji besi. Kedua tangannya bergerak memegang Zehhad dan memapahnya perlahan mejauhi pria itu. Ia mendudukan Zehhad dan menatap wajahnya yang tidak pernah kehilangan tanda.

"Sudahlah, kita tidak perlu menuduh siapa yang salah. Kita tunggu mereka datang kembali dan keluar bersama. Bagaimana?" ucap seorang pemuda yang mengenakan kemeja kotak-kotak.

"Apakah itu tidak berbahaya?" ucap pria berjanggut tipis yang sedang menenangkan Zehhad.

"Aku menjaminnya, kita semua akan bebas dari kurungan ini," jawab pemuda itu.

Mereka semua akhirnya diam dan kembali pada posisinya. Kakek itu kembali bertasbih dengan ibu jari yang tidak pernah berhenti menggulur tabishnya. Mereka mengalihkan pandangannya pada jeruji besi yang mengurung. Tidak terlihat seorangpun penjaga yang membawa tahanan selanjutnya.

"Tidak berguna!" Pria yang tadi mendorong Zehhad memukul tembok di sampingnya. Ia melangkahkan kaki mendekat pada pemuda pemakai kemeja kotak-kotak. Tangannya menarik kerah kemeja itu dan mengangkat tubuhnya ke udara.

"Saranmu tidak berguna sama sekali!" Ia menghempaskan tubuh pemuda itu ke lantai.

Semua orang yang berada di sana hanya menatap kejadian itu dengan diam. Beberaoa orang mengulurkan tangannya dan membantu pemuda itu berdiri. Sang kakek kembali mendekat padanya dan mengusap dada pria itu berulang kali.

"Bersabar sedikit saja," katanya.

Jeruji besi yang digoyangkan tangan-tangan itu kembali membuat bising. Beberapa kali teriakan terdengar sehingga membuat tempat itu seperti penangkaran hewan. Nafsu membakar mereka semua, menggebrak setiap detail yang diberikan.

🕊️🕊️🕊️

PALESTINACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang